Gunung Kendeng… Lestari.. Lestari..Lestari!
oleh Kristina Viri
“Impian satu orang tak lebih dari sekadar khayalan, impian bersama banyak orang adalah awal pembaharuan dunia (Don Helder Camara, Uskup Agung Olinda dan Recife, Brazil).”
Bisa jadi warga Pegunungan Kendeng tak mengenal Don Helder Camara, namun semangat Camara terungkap pada Salam Kendeng…Lestari! Salam ini diucapkan dengan semangat oleh peserta perayaan kemenangan, dua tahun mundurnya Pabrik Semen Gresik, pada 16 Mei 2011, di Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Salam yang mengungkapkan impian bersama banyak orang ini, menyiratkan pesan pelestarian terhadap kawasan Pegunungan Kendeng yang lima tahun terahir ini menjadi incaran investor sebagai lokasi penambangan bahan baku semen.
Acara ini diisi dengan refleksi terhadap kekayaan alam yang dimiliki kawasan pegunungan Kendeng. Misalnya, puluhan mata air sebagai sumber pengairan sawah, serta pemenuhan kebutuhan air sehari-hari. Selain itu terdapat ratusan tumbuh-tumbuhan yang memiliki berbagai manfaat, dari tanaman pangan, obat-obatan, serta tumbuh-tubuhan yang berfungsi menyerap air (hasil pendataan ibu-ibu Simbar Wareh-adalah nama kelompok perempuan yang berupaya melestarikan gunung kendeng, diambil dari kata Simbar dan Wareh yang merupakan nama mata air di kawasan pegunungan ini-, tanggal 14 Mei 2011). Gunung Kendeng selama ini menjadi tumpuan hidup warga Kecamatan Kayen dan Sukolilo, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.
Tak Ada Satu Tempat pun yang Aman dari Teror
oleh Daniel Awigra
Sejumlah aksi teror di Indonesia, sejauh dapat diungkap oleh Kepolisian Republik Indonesia memiliki target utama mendirikan Negara Islam Indonesia. Mereka menggunakan aksi teror untuk mempercepat pendirian Negara Islam. Selagi target operasi mereka belum tercapai, dan mereka masih menghalalkan cara-cara kekerasan, selama itu pula bahaya terorisme akan selalu ada di negeri ini. Meski demikian, sangat disayangkan, polisi tidak pernah bisa mengungkap secara tuntas apa sejatinya target operasi terorisme di Indonesia selain mendirikan Negara Islam.
Apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan terorisme di tanah air? Tentu saja hal ini tidak mudah. Selain ada persoalan perjuangan ideologis di antara para pelaku teror, persoalan lemahnya ekonomi Indonesia, tarik-menarik kepentingan sosial politik dan ekonomi global akan terus membuat pasang-surut persoalan terorisme.

photo: matanews.com
Bom bunuh diri meledak di dalam masjid saat shalat Jumat baru saja dimulai di masjid Al-Dzikro, Kompleks Mapolresta Cirebon, Jawa Barat. Sampai tulisan ini dibuat, sejumlah pihak meyakini pelaku bom bunuh diri pada Jumat (15/4) yang melukai 28 orang tersebut adalah Muchamad Syarif (32), warga Astanagarib, Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon. Tentu, publik tanah air baru saja dikejutkan dengan kejadian pengiriman sejumlah bom buku dan polisi belum bisa mengungkap siapa pelaku lapangan dan aktor intelektual di baliknya. Belum juga publik mendapatkan hasil kinerja polisi terkait bom buku, hari-hari ini dunia dikejutkan dengan penangkapan Umar Patek oleh militer Pakistan.
Orang Muda yang Kreatif Secara Luas: Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 6)
oleh Felix Iwan Wijayanto
Kreativitas mungkin bukan barang sulit untuk ditemukan dalam diri orang muda pada umumnya. Asumsi ini terutama mencakup kreativitas dalam kaitannya dengan seni. Namun, kreativitas yang dimaksud dalam kualifikasi keenam KOMJaker ini berlingkup lebih luas daripada sekadar kreativitas seni, melainkan kemampuan membangun/merintis pembaruan dan akhirnya menemukan/menciptakan kebaruan dalam segala dimensi kehidupan, entah secara kognitif (cara berpikir), afektif (cara mengolah rasa) maupun konatif (cara bersikap, berperilaku dan mengekspresikan diri). Mengapa kreativitas seluas itu sangat penting dikuasai oleh seorang KOMJaker?

photo: nikkijohn.com
Karena program KOMJak didedikasikan bagi sejumlah orang muda Katolik yang ingin mengembangkan dirinya secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif/intelektualnya, afektif/olah rasanya, hingga konatif/sikap, perilaku, dan keterampilan hidupnya. Nah, dalam proses pengembangan diri secara komprehensif itu setiap KOMJaker akan menghadapi situasi-situasi “lama” yang butuh disegarkan dan dibarui, entah ad intra di dalam dirinya sendiri, maupun ad extra, di lingkungan sekitarnya.
MINGGU, 11.01.2009
Oleh Monica
Tukang Ojek Sepeda adalah sasaran observasiku kali ini. Tidak sulit untuk menemukan mereka. Di seputar Kota, mereka banyak menawarkan jasanya. Setibanya disana, aku langsung ditawari untuk diantar berkeliling Museum Fatahillah. Tarif yang ditawarkan Rp. 5.000,-. Aku pun langsung setuju. Sejujurnya baru pertama kali itu aku memakai jasa ojek sepeda. Bahkan setelah sekian lama, sebenarnya aku baru tahu bahwa ada profesi ojek sepeda di jakarta.
Kisah Haru untuk Harapan Satu
oleh Cynthia Ruslan
“Ikan, Dek. Masih seger nih. Kerang juga ada. Murah-murah lho.”
“Kepitingnya, Mbak. Enak ini buat diasep.”
Suara seperti itu berlomba-lomba masuk telingaku ketika aku berjalan menapaki pasar tradisional di Kabupaten Cilincing. Para penjual menawarkan hasil laut dagangannya dengan penuh semangat. Ada yang berjualan ikan, cumi-cumi, udang, kerang, kepiting, wah… segar-segar sekali semuanya! Ditambah lagi aroma khas laut yang menghampiri lubang hidungku. Semua itu membuatku ingin membelinya, membawanya pulang untuk kemudian aku bakar. Nyam…
Ketika aku sedang menikmati pemandangan itu dengan menyusurinya dari ujung jalan, sampai lah aku pada muara dari jalan setapak itu. Aku mendapati pemandangan yang berbeda lagi. Sebuah lahan yang kira-kira hanya seluas 5 x 3 meter dipenuhi dengan para pekerja dan dikelilingi kotoran menjijikan yang aku sendiri pun tak tau kotoran apa itu. “Hmm, mereka lagi ngapain ya? Samperin ah.”
Jeritan Hidup Pelacur Ibukota dari Kota Mendoan
oleh Elvindes Kapitsa
Penyebaran virus HIV/AIDS di Jakarta meluas dengan cepat. Ribuan Pekerja Seks Komersial (PSK) di seputar ibukota terindikasi mengidap penyakit mematikan itu. Komisi Penaggulangan HIV/AIDS (KPA) DKI memprediksi tidak kurang 15 persen dari jumlah PSK terindikasi terjangkit penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya tersebut. Diprediksi jumlah PSK saat ini mencapai 9.000 orang, berarti ada 1.350 PSK yang terjangkit virus yang sangat ditakuti ini.

photo: kusumakomp.wordpress.com
Namun, data di atas tidak membuat PSK gentar. Mereka tetap berani menjajakan tubuhnya bahkan semakin lama jumlah PSK di Ibukota semakin bertambah. Apa yang membuat para PSK tersebut nekat dan tidak perduli dengan serangan HIV/AIDS?
Orang Muda yang Andal Berjejaring: Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 5)
oleh Felix Iwan Wijayanto
Saat seorang KOMJaker memiliki mimpi/cita-cita besar tentang dirinya sendiri, Gereja dan masyarakat, pada sisi lain ia menyadari bahwa dirinya serba terbatas: wawasannya, kemampuannya, daya pengaruhnya terhadap dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Di saat itulah ia membutuhkan bantuan dari pihak lain dan kerjasama dengan pihak lain. Dalam posisi itulah jejaring mutlak dibutuhkan.
Jejaring berarti hubungan-hubungan relasional antar pribadi dan antarkelompok, antarlembaga, bahkan antara pribadi dengan kelompok dan lembaga. Dalam hubungan-hubungan itu terjadi proses perjumpaan dan perkenalan yang semakin dekat satu sama lain, sebelum pada gilirannya memunculkan peluang-peluang kerjasama yang saling mendukung, entah secara langsung maupun tak langsung.
Menanti Lembar demi Lembar Rupiah
oleh Chrisma Ardi Nugroho
Ia berlindung di balik rindangnya pohon karet dari panas mentari yang mulai menyengat. Sosok itu berbadan kurus, berkulit keriput dan berlangkah gontai menuju tepian trotoar. Ia duduk di situ untuk “menjual diri”, menunggu orang yang akan menggunakan jasanya.
Itulah sosok Ujang (45 tahun), yang setiap harinya dengan menumpang bis kota, ia berangkat dari rumah kontrakan yang ia tinggali bersama 3 orang temannya yang berprofesi sama dengannya.
Taman Makam Pahlawan di bilangan Kalibata Jakarta Selatan adalah tujuan mereka. Jarak antara rumah kontrakan yang mereka sewa secara “keroyokan” 300 ribu per bulan itu cukup jauh. Dengan memakai celana panjang abu2, kaos biru, jaket jeans, dan topi pelindung panas berwarna abu2 ia mulai duduk bersila. Ditaruhnya peralatan bekerja seperti cangkul, linggis, palu, dan lain–lain di depannya, sebagai pertanda bahwa ia adalah kuli bangunan lepas.
Perjuangan demi menyambung hidup tampak ketika ia mulai bercerita, mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai kuli bangunan yang pernah merasakan masa-masa jayanya ketika Pak Harto masih berkuasa. Ketika itu harga gabah 1 kuintal masih di bawah 100ribu rupiah. Sehingga, sekedar mengisi pundi bekal masa depan masih bisa ia lakukan.
Ideologi “Asal Ga Pegang Sapu”
oleh: Stephani Puspitajati
Kalimat “asal ga pegang sapu” muncul dalam sebuah obrolan saya dan beberapa teman di sebuah mall di Jakarta Pusat ketika pembicaraan bergulir seputar pekerjaan dan perempuan. Saya dan teman-teman yang berjenis kelamin perempuan tertawa setelah kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang teman wanita saya dan seolah-olah tawa itu membenarkan pernyataan tersebut. Sapu merupakan simbol dari aktivitas domestik yang identik dengan kaum perempuan.
Kenyataannya, memang saat ini perempuan (yang disebut modern) di kota besar, khususnya Jakarta berlomba-lomba untuk mengaktualisasikan diri dengan aktivitas di luar rumah. Jarang perempuan modern Jakarta yang melakukan aktivitas domestik. Pekerjaan rumah tangga biasanya diserahkan pada orang yang dipekerjakan secara profesional. Sekurangnya, ada dua alasan mengapa ini terjadi.
Pertama, berhubungan dengan ekonomi. Tuntutan ekonomi di kota besar yang semakin tinggi membuat perempuan harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan dan membantu ekonomi keluarga. Kedua, berkarier dianggap sebagai jalan mengaktualisasikan diri dan membentuk identitas perempuan, adalah alasan berikutnya mengapa perempuan bekerja.

Adanya pandangan bahwa perempuan yang memilih sebagai ibu rumah tangga adalah perempuan yang tidak produktif, tidak mandiri karena tergantung pada eksistensi suami, dan dianggap tidak berperan dalam membangun masyarakat, menyebabkan aktivitas domestik dan rumah tangga dianggap aktivitas sepele dan ketinggalan zaman. Maka, tidak mengherankan jika dewasa ini banyak perempuan yang enggan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Apakah ini merupakan dampak dari keberhasilan jargon emansipasi yang dikumandangkan kaum feminisme yang patut dirayakan, atau justru sebuah ideologi yang akan melunturkan makna emansipasi sesungguhnya dan hanya menjadikannya simbol semata.
Menyambung Hidup dengan Plastik
oleh Ria Octaviani
“Kak, plastiknya kak.” Kalimat singkat itu meluncur keluar dari mulut seorang bocah lelaki berlogat Sunda. Reno namanya. Usianya 15 tahun. Perawakannya yang kecil dan badan kurus miliknya membuat langkahnya ringan mengiringi orang-orang yang berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Kramat Jati sambil menawarkan dan menjual plastiknya, “plastik…plastik…plastik.”
Udara dingin dan cuaca mendung sore itu tak membuat semangatnya surut untuk menjual plastik. Dengan topi berwarna hijau tua, kaos oranye muda, dan celana pendek warna hitam membuat ia tampak santai namun cekatan. Dari jam enam pagi hingga tengah malam bocah kecil itu bekerja demi kelangsungan hidupnya. Ia masih suka menyempatkankan diri untuk bercanda tawa dengan teman-teman seumurannya yang juga penjual plastik di pasar itu. Dalam kurun waktu delapan belas jam sehari ia dapat mengumpulkan berpuluh-puluh lembar uang seribu-an.









