BE DIFFERENT, GO BEYOND IMPOSSIBLE (KOMJak 8)

[KAMPUS ORANG MUDposterA JAKARTA membuka pendaftaran angkatan 8]

Hallo rekan-rekan muda Katolik, Ka
mpus Orang Muda Jakarta (KOMJak) membuka pendaftaran angkatan 8!!

KOMJak adalah program beasiswa pengembangan diri komprehensif.
Artinya, peserta tidak dipungut kontribusi (alias gratis!).

Syarat yang harus dimiliki peserta sbb:
1. Memiliki mimpi/cita-cita besar untuk dirinya, lingkungan, Gereja, dan bangsa Indonesia.
2. Laki-laki/perempuan yang sudah dibaptis secara Katolik.
3. Domisili Wilayah Jabodetabek.
4. Bagi mahasiswa/i: minimal semester 5.
Bagi lulusan SMA: minimal telah bekerja selama 3 tahun.
5. Usia maksimal 26 tahun.
6. Belum menikah.

Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi kanal informasi kami:
Fb: Kampus Orang Muda Jakarta
Twitter & Instagram: @komjakarta
Website: www.komjakarta.org

Atau hubungi mas/mbak yang bersedia menjawab pertanyaanmu di:
+62 877 8306 0009/ LINE: angelnat (Angel)
+62 857 2951 5429/ LINE : alexandersu (Alex)
+62 813 4897 1098 / LINE : darvintolie (Darvin)
+62 888 0851 0095 (Robbi)

Sudah mulai tertarik dengan KOMJak ? Submit form pendaftaran di : bit.do/KOMJak8
Pendaftaran ditutup 29 Januari 2017!!

Pengumuman

 

Hi Orang Muda!

KOMJak sedang mempersiapkan diri untuk masuk Angkatan V.

Siapa saja yang berminat untuk begabung di Kampus Orang Muda Jakarta, silahkan join dengan kami.

Pendaftaran ditutup 30 Agustus 2013.

Syarat-syaratnya bisa dibuka di page Apa itu KOMJak.

Form Pendaftaran langsung saja isi disini: Form Pendaftaran.

Silahkan menghubungi kami untuk keterangan lebih lanjut.

 

Perebutan Tafsir Kebebasan di Ruang Publik

oleh Awigra*

Publik terbelah posisinya ketika merespon wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI). Terlebih, pasca aksi pengusiran sejumlah pengurus pusat FPI oleh masyarakat Dayak di Pangkaraya, Kalimantan Tengah, (11/2) ditambah aksi massa gerakan Indonesia tanpa FPI di Bundaran HI (14/2) baru-baru ini. Mengingat, semangat pembubaran bisa berbenturan dengan semangat kebebasan berserikat dan berkumpul yang dijamin oleh konstitusi. Pertanyaannya, jika terbukti ada kelompok yang jelas-jelas memiliki rekam jejak (track record) panjang melakukan berbagai tindak kekerasan, apakah atas nama kebebasan, mereka tidak bisa dibubarkan? Di titik ini, terjadi pertempuran wacana yang sengit tentang hakikat kebebasan di ruang publik.

Di satu sisi, ormas anarkis kerap dengan dalih tafsir moral keagamaan tertentu merasa bebas memaksakan keyakinannya dan kebenarannya kepada publik yang belum tentu setuju dengan cara-cara kekerasan. Di sisi lain, orang-orang yang mengecam aksi-aksi kekerasan yang dilakukan FPI dan sampai pada tahap ingin membubarkan FPI, memiliki argumen bahwa kebebasan mereka selama ini dibelenggu, dan tak jarang diintimidasi oleh ormas anarkis.

Bahaya Guru Pelupa

Suatu ketika saya membawa selembar kertas pembungkus kado dan sebuah kotak ke dalam kelas. Saya bertanya “saya mau bungkus kadonya, kertas ini cukup nggak ya? ”. Beberapa anak langsung maju hendak memegang kedua benda itu. Mereka mulai membungkus kotak itu tanpa memotong kertas kadonya karena memang tidak saya perbolehkan. Setelah berkali-kali mencoba, mereka menyimpulkan bahwa kertas itu tidak akan cukup untuk membungkus kotaknya. Sebagian besar anak mulai setuju, tapi sebagian lagi masih berusaha membolak-balik posisi kotaknya.

Belasan menit kemudian, seorang anak berteriak “harusnya cukup Bu … karena luas kertasnya lebih besar dari luas permukaan kotaknya.”. Suasana ruang kelas mendadak hening, maklum saja yang mengungkapkan itu memang anak yang dikenal pintar matematika. Saya katakana “Ya, harusnya cukup. Ada yang mau mencoba ?”. Kelas kembali ramai, tapi kali ini, yang menjadi pimpinan proyek adalah anak yang pintar matematika itu. Saya memberikan gunting sebagai tanda bahwa saya memperbolehkan mereka memotong kertas itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian mereka memberikan kotak yang sudah terbungkus itu pada saya. Mereka tampak bangga sudah membuktikan bahwa kotak itu bisa terbungkus tapi tetap menambahkan “tapi jelek banget Bu…karena pinggirnya passsssss banget”. Kegiatan tersebut mengawali proses pembelajaran materi bangun ruang. Kegiatan yang diadakan untuk memulai perjanjian. Perjanjian bahwa apa pun yang akan kami hitung, semuanya adalah hasil minimal.  Tidak sama dengan apa yang mungkin kami harapkan.

Read More

“ Tentang Rasa “

oleh Cicilia Asri Christiyani

sumber: http://pieceom.blogspot.com

Berproses  di Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak) sungguh memperkaya pengalaman saya dengan hal-hal baru. Metode pembelajarannya unik namun kadang membuat “pusing”. Observasi dan proses analisis yang dilakukan bersama rekan sekelompok dan fasilitator begitu menyenangkan sekaligus menantang; dan tentunya….menguras waktu..!!

Pengalaman awal berproses dalam KOMJak, mengantar saya untuk semakin jatuh cinta pada “observasi”.  Saya mendapat pengalaman observasi yang penuh rasa.  Observasi KOMJak mensyaratkan untuk mengandalkan semua indera sehingga hasil dan kesan yang didapat begitu hidup dan mendalam. Memposisikan pengupas kerang sebagai “subyek” bukan sebagai “obyek” membuat observasi begitu “memiliki nyawa”. Tidak sekedar mengamati, tapi juga berempati. Pendekatan observasi mampu menggambarkan suatu peristiwa secara deskriptif, hidup dan jujur.  Sebuah pembelajaran berharga yang belum pernah saya temukan sebelumnya.

Jika penyanyi Astrid memiliki sebuah lagu yang berjudul “Tentang Rasa”, saya pun memiliki “Tentang Rasa” versi saya.   Rasa kagum, sedih dan haru  yang mengalir dalam setiap peristiwa yang masih terekam sangat jelas di benak saya, saat mendengarkan kisah perjuangan Bu Maryam si pengupas kerang yang berjuang untuk bertahan hidup dan tetap bersyukur dengan pendapatan sepuluh ribu rupiah sehari. Tentang rasa yang terhenyak  begitu melihat  proses pengupasan kerang yang menggunakan formalin dan pewarna tekstil. Tentang rasa penuh harapan menyaksikan anak bu Maryam yang bernama Juleha punya cita-cita menjadi dokter. Tentang rasa dari aroma khas laut Muara Angke yang sungguh tidak mengenakkan hidung.

Read More

Panggil Aku ‘Bento’

oleh Imelda MRS.

Sumber: http://4.bp.blogspot.com

Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku senang aku menang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi
Asyikkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…

Alunan “Bento” terngiang di kepalaku mengiringi langkahku kala aku berjalan di antara para kuli bangunan pagi ini. Gedung megah nan indah milik salah satu bank swasta itu tak sebanding dengan gambar ireng wajah para kuli bangunan yang menebarkan semerbak aroma matahari. Guratan lelah itu terukir jelas saat mereka turun dari truk pengangkat pasir. Membangun gedung megah tanpa helm, sepatu boot dan tali pengikat badan. Keselamatan mereka pun terancam. Tak seharusnya mereka diperlakukan demikian.  Mereka adalah manusia, tidak  seharusnya diperlakukan layaknya mesin yang berproduksi tiada henti tanpa penghargaan yang berarti. Jaminan sosial tenaga kerja tidak mereka dapatkan. Kebijakan tenaga kerja tidak melirik mereka. Bantuan pemerintah bagi Warga Miskin memang ada, tapi tidak semua dari mereka mendapatkannya. “Saya ditolak di Puskesmas padahal saya sudah bawa kartu”, ujar Asep sebagai salah satu Warga Miskin. Kemiskinan struktural di Indonesia bukan tidak mungkin ditaklukkan. Namun, mengupayakannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Read More