POLEMOLOGI MEMELUK PAK SARMAN

Oleh: Monica Jeanne Francoise

Apa gerangan yang sedang dilakukan oleh para dosen dan mahasiswa di universitas?

Apa gerangan yang sedang dibicarakan oleh para wakil rakyat di DPR?

Apa gerangan yang sedang diperdebatkan oleh para pemimpin dunia di PBB?

 

Sumber: www.suaramerdeka.com

Jika pertanyaan rumit ini diajukan kepada Prof. Jan Tinbergen, pakar ekonomi dan pemenang Hadiah Nobel dari Belanda, ia mampu menyediakan jawaban-jawaban yang sederhana. Bagaimana negara-negara Barat harus mempertahankan kemakmuran? Dengan mengurangi jumlah penduduk. Bagaimana masalah pengangguran yang terus saja meningkat harus ditanggulangi? Orang harus mempelajari satu kejuruan yang memang diperlukan. Bagaimana kesenjangan yang semakin lebar di antara negara-negara Barat yang kaya dan negara-negara Selatan yang miskin dapat diperkecil? Menggandakan sampai enam kali bantuan pembangunan.

Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, jawabannya adalah pemikiran polemologi. Polemologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mengkaji bahwa perdamaian dunia dicapai hanya dengan mengandalkan satu kebijakan perdamaian universal yang dikeluarkan oleh lembaga internasional, yakni PBB.

Read More

Orang Muda Sahabat Yesus, Diutus Mentransformasi Masyarakatnya Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 9)

sumber: koran-jakarta.com

Setelah mengenal, menyadari dan berusaha memiliki kedelapan kualifikasi seperti yang dijelaskan pada tulisan-tulisan terdahulu, pada akhirnya setiap KOMJaker harus mengalami proses pembelajaran yang mengantarkannya pada kualifikasi diri sebagai seorang sahabat Yesus, Allah yang diutus ke tengah kenyataan dunia dengan segala persoalannya, menanggalkan keilahianNya dan hidup sebagai manusia, merintis kehidupan yang lebih adil dan damai mulai dari lingkungan di sekitarNya, dan rela mengorbankan hidupNya sendiri demi nilai-nilai yang diyakiniNya melawan akar kekerasan dan ketidakadilan.

Menjadi sahabat Yesus sama sekali bukan sikap romantis, melainkan sikap progresif dan transformatif. Menjadi sahabat Yesus memiliki konsekuensi kesediaan menerapkan segala cara berpikir, cara mengolah rasa dan cara bersikap/berperilaku seperti Dia sendiri, sejauh bisa kita pelajari dan refleksikan dari kisah-kisah dalam Alkitab Suci. Selanjutnya, menjadi sahabat Yesus mendorong kesukarelaan melanjutkan apa saja yang telah dimulaiNya lalu dilanjutkan oleh para pengikutNya.

Singkat kata, seluruh kualifikasi KOMJaker ini merupakan sejumlah cara mewujudkan iman sebagai murid, pengikut, sahabat Yesus sendiri, di antara banyak cara lain yang masih bisa dilakukan/dipenuhi seturut nilai-nilai, ajaran dan tradisi Gereja Katolik.

Orang Muda yang Solider pada Sesama Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 8)

sumber: willya31.files.wordpress.com

Solider punya makna dasar mutual responsibility, tanggungjawab yang serius, dalam relasi kita dengan sesama manusia. Dalam makna itulah solider mewujud dalam sikap-sikap empati, kemampuan memahami dan merasakan kesusahan dan penderitaan orang lain, terutama mereka yang miskin, marginal/terpinggirkan, tertindas oleh kekuasaan, dan menjadi korban ketidakadilan. Dengan demikian, jelaslah bahwa sikap solider berarti sikap ikut bertanggungjawab secara penuh terhadap segala bentuk ketidakberesan sosial, namun sebelum sikap tersebut memunculkan energi pada diri kita untuk berbuat sesuatu merintis perubahan, sikap solider itu menggerakkan bela rasa terhadap kondisi korban.

Dengan memiliki sikap solider pada sesama, seorang KOMJaker memiliki salah satu modal utamanya untuk memimpin berbagai upaya yang mungkin dan perlu dilakukan untuk mentransformasi keadaan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, tanpa solidaritas yang sungguh-sungguh pada sesama, perubahan yang dirintisnya rentan dicemari pelbagai kepentingan politik dan ekonomi, bahkan bukan tidak mungkin ia terjerumus dalam perjuangan perubahan sosial yang bermuara ke dalam perebutan kekuasaan belaka.

Solidaritas tentu tidak harus dipahami dari hal-hal besar. Keberpihakan pada sesama yang menderita dan menjadi korban ketidakadilan justru mulai dari yang kita lihat dan temui sehari-hari: para pekerja rumah tangga (sudahkah mereka mendapat penghidupan layak?), para pedagang kecil (bagaimana mereka memperoleh peluang bekerja halal di tempat yang memadai?), para buruh (bagaimana mereka mendapatkan imbal jasa manusiawi dan diperhitungkan sebagai manusia, bukan alat produksi?), dsb. Solidaritas justru muncul dari persentuhan kita dengan kehidupan mereka yang miskin, kecil, lemah, terpinggirkan itu, menjalar dari pemandangan yang kita lihat tentang kesulitan hidup mereka, melalui bau yang kita cium yang berasal dari tempat hidup mereka sehari-hari, dari tetes-tetes peluh yang dikeluarkan tubuh mereka akibat kerja keras yang harus mereka jalani, atau dari kisah penderitaan mereka menanggung hidup yang serba tak pasti dan semakin terhimpit kesulitan.

Jika pada saat-saat kita bersentuhan dengan itu semua muncul perasaan belas kasihan dan pemberontakan dalam diri kita, itulah tanda-tanda munculnya solidaritas. Namun jika kita mulai menganggapnya sebagai peristiwa yang biasa terjadi dalam sistem persaingan dunia modern, itu tanda-tanda kita sudah bergabung dalam barisan kaum mapan yang tak peka atau peduli pada penderitaan sesama, dan tinggal selangkah lagi kita berubah menjadi penindas.

 

Orang Muda yang Berjiwa Kepemimpinan Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 7)

sumber:ayip7miftah.files.wordpress.com

Kepemimpinan adalah salah satu aspek hidup yang paling dibutuhkan manusia dalam pelbagai konteks. Hidup dalam keluarga, komunitas sosial maupun keagamaan/keyakinan, organisasi, lembaga atau perusahaan, di tengah masyarakat, maupun dalam lingkup tata negara dan hubungan internasional, semua membutuhkan kepemimpinan. Lantas, apa sih kepemimpinan itu? Dan, apa pentingnya ia diolah dalam pembelajaran KOMJak?

Kepemimpinan pada hakikatnya adalah integritas (kesatuan akal budi, hati nurani dan perilaku/tindakan) yang mampu mengendalikan diri kita sendiri maupun mempengaruhi orang-orang lain di sekitar kita untuk berpikir, mengambil sikap dan bertindak untuk tujuan tertentu. Dengan secara tegas mengabaikan konteksnya yang negatif, kepemimpinan yang diolah dalam pembelajaran KOMJak ditujukan untuk menggerakkan proses transformatif (perubahan kondisi yang semakin baik) dalam pelbagai tingkat kehidupan sosial, sejak relasi antar-personal, keluarga dan komunitas terdekat, hingga hidup berbangsa/bermasyarakat secara luas. Read More

Gunung Kendeng… Lestari.. Lestari..Lestari!

oleh Kristina Viri

“Impian satu orang tak lebih dari sekadar khayalan, impian bersama banyak orang adalah awal pembaharuan dunia (Don Helder Camara, Uskup Agung Olinda dan Recife, Brazil).”

Bisa jadi warga Pegunungan Kendeng tak mengenal Don Helder Camara, namun semangat Camara terungkap pada Salam Kendeng…Lestari! Salam ini diucapkan dengan semangat oleh peserta perayaan kemenangan, dua tahun mundurnya Pabrik Semen Gresik, pada 16 Mei 2011, di Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Salam yang mengungkapkan impian bersama banyak orang ini, menyiratkan pesan pelestarian terhadap kawasan Pegunungan Kendeng yang lima tahun terahir ini menjadi incaran investor sebagai lokasi penambangan bahan baku semen.

photo: antaranews.com

Acara ini diisi dengan refleksi terhadap kekayaan alam yang dimiliki kawasan pegunungan Kendeng. Misalnya, puluhan mata air sebagai sumber pengairan sawah, serta pemenuhan kebutuhan air sehari-hari. Selain itu terdapat ratusan tumbuh-tumbuhan yang memiliki berbagai manfaat, dari tanaman pangan, obat-obatan, serta tumbuh-tubuhan yang berfungsi menyerap air (hasil pendataan ibu-ibu Simbar Wareh-adalah nama kelompok perempuan yang berupaya melestarikan gunung kendeng, diambil dari kata Simbar dan Wareh yang merupakan nama mata air di kawasan pegunungan ini-, tanggal 14 Mei 2011). Gunung Kendeng selama ini menjadi tumpuan hidup warga Kecamatan Kayen dan Sukolilo, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.

Read More