Ayunkan Langkahmu

Syair: J. Adi Wardaya, SJ
Lagu: Felix Iwan Wijayanto & Wisnu Prabajatmika

Ter – sentak oleh sesama terjebak
penyakit busuk di negri ini
Gemetar langkah tertahan
Seakan gagal dan tak mungkin lagi
Hen – tikan korupsi yang korbankan
Martabat bangsa dan hidup rakyat kecil

Jangan tangisi derita bangsa i – ni
Sesalkan kita sibuk bi – cara
Ke- luhkan kesialan tanpa henti
Kapan kita melangkah ber- sama
satukan kehendak dan padukan aksi
’tuk peduli akan kebaikan sesama

Reffr :
Jangan bilang kau cinta bangsa ini
Jika diam melihat kesesakan
Karna kerakusan para petinggi
melahap hak milik kita

Masihkah Gereja Menjadi Mater et Magistra?

oleh: Daniel Awigra

Seri Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang saya gunakan sebagai salah saatu acuan untuk diskusi kita pagi hari ini saya terima gratis dari sahabat dan guru jurnalistik saya, Ignatius Haryanto atau Mas Hari. Saat itu, Sabtu, (25/02) di gedung Diknas sekumpulan remaja[2] berkomitmen untuk mempelajari ASG, secara rutin. Bulanan. Mas Hari mengawali studi kita secara umum dan membagikan serial-serial ASG terbitan Secretariat Justice and Peace dan Komisi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi – KWI.

Untuk pertemuan ketiga, saya mendapat giliran untuk membahas Mater et Magistra (MM). Seperti disinggung di atas, saya juga menggunakan seri ASG tersebut sebagai salah satu acuan. Serial-serial tersebut cukup menarik dan mudah dipahami. Menarik sebab ASG dikemas dalam format yang cukup ringkas serta dihiasi gambar-gambar ilustrasi. Mudah dipahami juga melulu karena sifatnya yang ringkas. Tidak banyak kata. Bisa dikatakan ini metode baru pengemasan dokumen gereja sehingga mudah dipahami dan orang juga tidak merasa takut terlebih dahulu untuk mempelajarinya, karena bahasa yang njlimet dan jumlah halaman yang tebal[3]. Seri-seri tersebut merangkum pokok-pokok pikiran dan sedikit konteks historis dimana dokumen itu dilahirkan.

Read More

Refleksi Pembelajaran KOMJak

oleh: Franxis Erika

Masih terekam jelas dalam ingatan saya bagaimana sore itu saya menyusuri kembali jalan di depan Pasar daerah Pasar Minggu. Mencari seorang bapak tua yang telah renta; yang saya kunjungi akhir minggu sebelumnya. Sore itu gerimis, dan malam-malam sebelumnya pun hujan tak berhenti mengguyur Jakarta yang kemudian mengakibatkan sebagian Jakarta tenggelam ditelan banjir tak terkecuali daerah Pasar Minggu. Pak Sadi, seorang penjual gorengan yang saya cari-cari ternyata tidak dapat saya temui malam itu karena harus menggantikan istrinya berjualan di warung kopi. Tak bertemu Pak Sadi; namun Pak Rosik pun jadi. Akhirnya sambil menunggu hujan reda di hari yang telah beranjak malam, saya pun saling bertukar cerita dengan Pak Rosik. Fakta-fakta yang saya dapatkan pun tidak jauh berbeda dengan fakta yang saya dapatkan saat berdialog dengan Pak Sadi. Fakta yang begitu mencengangkan saya bahwa seorang penjual gorengan dapat mengumpulkan penghasilan hingga Rp 3.000.000,00 per bulan.

Read More

Perjuangan Hidup Sang Buruh Pengupas Kerang

oleh: Agnes Tyas

Senin (15/2) keramaian mewarnai pinggiran laut di cilincing. Suara serutan kawat yang mengikis kulit-kulit itu menambah ramai suasana di sana. Terlihat sesosok wanita muda,berkulit sawo matang dan bermuka kusut, yang bernama Sumi dengan badannya mungil dengan selendang yang menggantung di pundaknya, terlihat berat sekali bebannya karena ia menggendong anaknya yang berusia 2 tahun.

foto: matanews.com

Read More

Tua Renta yang Berkeringat

oleh: Robert Sutanto

Dinginnya malam dan rintik-rintik air hujan saat itu tidak membuat Arek patah semangat untuk menarik gerobaknya. Pria berusia 46 tahun ini seorang buruh angkut di pasar cengkareng. Selain tenaga yang ia punya, gerobak merupakan senjata utama dalam mencari nafkah,” layaknya tentara yang hanya mempunyai satu senjata dalam berperang”.

foto: mastein.wordpress.com

Read More

Ketika Pendapatan Bertarung dengan Pengeluaran

oleh: Cindy Lai

Ketika matahari mulai menyusup masuk ke peraduannya, aku menyusuri sebuah perumahan buruh di daerah Tangerang. Aku berhenti di sebuah warung kecil berukuran 2×2 meter yang sebenarnya adalah beranda si empunya rumah, untuk membeli minuman dan bertanya-tanya. Kala itu, Daryo (30) masih sibuk melayani pembeli yang keluar masuk warungnya. “Istri saya sedang menemani anak saya di rumah sakit, jadi saya yang harus menjaga warung, hari ini pun saya terpaksa tidak masuk kerja”, ungkap Daryo.

Ternyata hari itu anak keduanya yang masih berumur 3 bulan dibawa ke Rumah Sakit QODR (Karawaci) karena terkena infeksi paru-paru. Daryo yang biasanya bekerja sebagai buruh pabrik, terpaksa membolos dari pagi demi mengantar anaknya.

Pria ramah ini kemudian menceritakan mengenai uang yang harus ia keluarkan untuk biaya rumah sakit anaknya tersebut. “Perusahaan sebenarnya mengganti biaya kesehatan untuk keluarga, tetapi hanya 80% saja. Saya sih maunya anak saya bisa cepat keluar dari rumah sakit, karena biayanya cukup mahal, mbak. Tapi, kalau kata dokter belum bisa keluar, ya apa boleh buat”, katanya.

Untuk kebutuhan sehari-hari Daryo benar-benar hanya mengandalkan gajinya dari bekerja sebagai buruh pabrik Yuasa. Warung yang menumpang di beranda rumahnya sebenarnya hanya sebagai sampingan, selain juga menjadi sebuah kegiatan yang positif bagi istrinya.

Lelaki berperawakan tinggi ini menanggung biaya hidup istri dan kedua anaknya serta orang tuanya yang tinggal di Purbolinggo, daerah asal Daryo. Dengan gaji Rp 2,000,000/bulan, ia merasa nilai itu masih belum cukup untuk menghidupi keluarganya, karena kadang ada saja kebutuhan-kebutuhan tambahan, seperti biaya rumah sakit anaknya yang masuk dalam biaya tambahan dan tak terduga.

Ketika ditanya apa yang menjadi keinginannya saat ini, Daryo menjawab, “Saya ingin menyekolahkan Nisa (anaknya yang pertama) ke sekolah yang bagus, tahun ini Nisa akan masuk SD, tapi ya keperluan yang lain kan banyak juga, jadi saya harus pilih-pilih”.

Dalam realita, ia harus memilih antara apa yang menjadi keinginannya dengan kebutuhan yang lebih diperlukan oleh keluarganya. Sebagai seorang ayah dan kepala rumah tangga, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya, sekalipun jalan yang dihadapi kehidupannya terlihat sulit.

“Walaupun kami hidup hanya sederhana saja, tetapi saya selalu senang. Yang penting untuk saya adalah istri dan anak-anak saya dapat hidup cukup”, kata Daryo.

Dengan kemampuan yang terbatas, Daryo berusaha mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Ia tidak mengeluh ataupun menyerah dengan tekanan hidupnya. Masih banyak keinginan dan harapannya dalam hidup, terutama untuk keluarganya. Akankah Daryo menggapai cita-citanya di masa yang akan datang?

kisah ini diambil dari pengalaman observasi di Modul Sosio-Ekonomi