Pembelajaran Ala Ujian Nasional

oleh: Sarma Manurung

Dengan langkah berat, seorang siswa sebuah sekolah di Lampung berangkat menuju sekolah. Di tas sekolahnya yang berat terdapat buku Kimia, Fisika, Matematika, Bahasa Inggris, Biologi dan Bahasa Indonesia. Isi tas itu tidak pernah lagi digantinya karena setiap hari sejak bulan Maret hanya itulah pelajaran yang diajarkan di sekolah. Sekolah dimulai pukul 07.00 dan akan berakhir pada pukul 15.00. Setelah pulang sekolah, dia akan diberi waktu istirahat untuk menyegarkan otaknya sebelum melanjutkan pelajaran tambahan pada pukul 15.30 hingga 17.00. Sepulang sekolah dia akan melakukan ritual sehari-hari, mulai dari mandi hingga sholat untuk memohon ketenangan pada yang kuasa dalam menghadapi ujian yang akan segera dihadapinya. Malam harinya, akan ditutupnya dengan ritual terakhir : mengerjakan tugas-tugas yang diberikan gurunya. Sungguh melelahkan. Apa yang membuat siswa ini harus melewati hari yang melelahkan ? Mengapa dia harus melakukan itu ? Dan siapa orang yang menyebabkan rasa lelah itu ?. Tampaknya siswa ini tidak mau tahu.

Read More

Menggali Informasi dari Penghayat Kepercayaan Adat Musi

oleh: Cynthia Ruslan

Sekilas mengenai Kepercayaan Adat Musi

foto: www.anbti.org

Bapak Arnold Panahal menganut kepercayaan Adat Musi, dimana Adat disini diartikan sebagai ‘Allah dalam tubuh’. Kepercayaan ini berada di Desa Musi, Kec. Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Awal keberadaan kepercayaan ini adalah dari kelahiran seorang bayi bernama Bawangin pada 7 Juni 1840. Saat ia berusia 8 tahun, ia menderita sakit yang sangat hebat selama 1 tahun. Keluarganya sudah hampir putus asa. Namun ketika itu pula Malaikat Tuhan turun dan mengatakan bahwa mereka tidak boleh putus asa, tetaplah berpegang pada kehendak Tuhan dan terus berdoa di Bukit Duanne karena di situlah janji Tuhan akan digenapi.

Read More

Kilas Sejarah Pembantaian Etnis Tionghoa 1740

oleh: Hiyashinta Klise

Oleh sebagian besar masyarakat, daerah kota tua memang tak lebih dari sekedar daerah yang bernuansa oldies. Suasananya yang mampu membangkitkan kenangan akan tahun-tahun silam membuatnya tak sepi pengungjung. Ada yang mengatakan klasik, ada yang mengatakan romantis, ada pula yang mengatakan angker. Betapa tidak, mengingat pada jaman penjajahan Belanda, VOC pernah membantai ribuan etnis Tionghoa di Batavia.

Namun kini kisah itu telah terlupakan. Tenggelam oleh romantisme foto-foto pre-wedding yang diambil di sana. Kalah oleh maraknya ABG labil yang berpacaran yang tidak mengindahkan nilai sejarah dari kota tua.

Ingin tahu mengenai kisah pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC pada tahun 1740? Silakan simak film dokumenter berdurasi 7 menit ini. Hiyashinta Klise telah membuatnya untuk kita semua.

Media, Pendidikan dan Multikulturalisme

oleh Hilda Karuniawan

Permasalahan multikulturalisme masih mengancam negri ini. Terbukti, sepuluh tahun terakhir ini masih ada saja peristiwa-peristiwa yang berakhir tragis, melanda sejumlah daerah di Indonesia terkait dengan perbedaan agama, suku atau etnis. Adanya keberagaman di negri ini berpotensi sebagai pemicu konflik yang mengarah pada kekerasan, penyerangan, perusakan, pembakaran, penganiayaan, penangkapan, dan intimidasi. Beberapa contoh yang masih terekam dalam memori otak kita: tragedi Poso, Sampit, Mei 1998; penutupan dan pembakaran rumah-rumah ibadah; Tragedi Monas; dan sejumlah perselisihan lain yang mengatasnamakan keberagaman.

Read More

Mahasiswa Boneka

oleh Jefri Gabriel

photo: blog.nationmultimedia.com

“Hanya generasi muda yang bisa merubah bangsa ini“

Mari kita mulai membaca karangan ini dengan menghitung jumlah mahasiswa. Kemudian kita hitung jumlah orang miskin di Indonesia. Katakanlah separuh dari 200 juta penduduk Indonesia adalah miskin. Artinya, ada sekitar seratus juta jiwa orang miskin di republik ini. Kalau misalnya jumlah mahasiswa di Indonesia hanya sepuluh persen dari 200 juta, maka kurang lebih bisa dibuat sebuah perbandingan: seorang mahasiswa berbanding lima puluh orang miskin.
Seperti kita ketahui bersama, persoalan kemiskinan bukan hal baru. Persoalan ini bahkan sudah menjadi persoalan yang tak kunjung selesai sampai saat ini. Bicara soal kemiskinan, tentu tidak akan ada ujungnya. Maka dari itu, mari persempit makna kemiskinan yang mau dibicarakan di sini. Kemiskinan yang dimaksud di sini adalah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup disertai kualitas hidup yang datar dan cenderung menurun. Berhubung sifat miskin terentang dalam ruang dan waktu yang cukup panjang, mari kita fokuskan era kemiskinan pada era reformasi.

Seorang presiden di republik ini, yaitu Soekarno, pernah menyerukan kepada warganya agar tidak sekali-kali melupakan sejarah. Tanpa sejarah manusia tidak akan pernah belajar dari kesalahan. Walau sudah dipersempit, tetapi mari sedikit mengulas sejarah kemiskinan di Indonesia, sekurang-kurangnya dari era penjajahan Belanda.

Read More

Love at the First Sight

oleh: Hiyashinta Klise

Bahu kiriku memanggul Salib, tangan kananku memegang Alkitab, sementara Romo meletakkan kedua tangannya di atas kepalaku.

Inilah berkat yang kuterima di malam terakhir retret orientasi program pengembangan diri komprehensif bernama KOMJak. Kampus Orang Muda Jakarta. Menurut Romo Johannes Haryanto, penanggung jawab KOMJak, retret ini diadakan sebagai persiapan sebelum memulai proses.

Read More