Mahasiswa Boneka

oleh Jefri Gabriel

photo: blog.nationmultimedia.com

“Hanya generasi muda yang bisa merubah bangsa ini“

Mari kita mulai membaca karangan ini dengan menghitung jumlah mahasiswa. Kemudian kita hitung jumlah orang miskin di Indonesia. Katakanlah separuh dari 200 juta penduduk Indonesia adalah miskin. Artinya, ada sekitar seratus juta jiwa orang miskin di republik ini. Kalau misalnya jumlah mahasiswa di Indonesia hanya sepuluh persen dari 200 juta, maka kurang lebih bisa dibuat sebuah perbandingan: seorang mahasiswa berbanding lima puluh orang miskin.
Seperti kita ketahui bersama, persoalan kemiskinan bukan hal baru. Persoalan ini bahkan sudah menjadi persoalan yang tak kunjung selesai sampai saat ini. Bicara soal kemiskinan, tentu tidak akan ada ujungnya. Maka dari itu, mari persempit makna kemiskinan yang mau dibicarakan di sini. Kemiskinan yang dimaksud di sini adalah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup disertai kualitas hidup yang datar dan cenderung menurun. Berhubung sifat miskin terentang dalam ruang dan waktu yang cukup panjang, mari kita fokuskan era kemiskinan pada era reformasi.

Seorang presiden di republik ini, yaitu Soekarno, pernah menyerukan kepada warganya agar tidak sekali-kali melupakan sejarah. Tanpa sejarah manusia tidak akan pernah belajar dari kesalahan. Walau sudah dipersempit, tetapi mari sedikit mengulas sejarah kemiskinan di Indonesia, sekurang-kurangnya dari era penjajahan Belanda.

Pada era penjajahan Belanda, struktur kemiskinan masyarakat Indonesia sangat jelas. Sumber daya di bumi Indonesia dieksploitasi habis-habisan untuk kepentingan Kerajaan Belanda. Masyarakat hidup menderita dan kelaparan di atas alam yang kaya. Sepeninggalan penjajah, logikanya masyarakat harus bisa hidup lebih baik. Karena, tidak lagi dieksploitasi penjajah. Kenyataannya, pasca-kemerdekaan masyarakat masih diliputi persoalan kemiskinan. Inflasi di tahun 1965 bisa menjadi indikator belum meningkatnya struktur ekonomi pasca-kemerdekaan. Memasuki orde baru, mulai ada secercah titik terang. Indonesia mendapat pinjaman besar dari Bank Dunia. Investor asing mulai berdatangan membuka pasar industri baru di negeri ini. Saat itu pemerintah kita berhasil melaksanakan swasembada beras. Walaupun begitu, tetap saja angka kemiskinan belum bisa ditekan. Buruknya mental pejabat menyebabkan Indonesia belum bisa bangkit dari keterpurukannya. Krisis hebat di tahun 1998 yang konon memicu kerusuhan hebat di Jakarta, bisa dijadikan sebuah indikator bahwa struktur ekonomi kita masih buruk.

Pasca orde baru, tidak sedikit perusahaan gulung tikar. Angka pengangguran meningkat tajam. Angka kemiskinan otomatis meningkat. Apalagi uang pinjaman Bank Dunia pun disalahgunakan. Hal ini menyebabkan siklus perputaran uang tidak lancar. Dampaknya, wargalah yang harus bekerja keras untuk membayar hutang. Sekali lagi, kemiskinan belum berhasil ditanggulangi.
Bicara soal pelaku penanggulangan suatu kemiskinan, tentu tidak akan cukup jika hanya melibatkan pemerintah sepihak. Tentu juga diperlukan dukungan dari masyarakat. Masyarakat sendiri terdiri dari banyak golongan. Setiap golongan tentunya punya peranan yang sama penting, termasuk golongan preman sekalipun. Sekarang, mari kita bicarakan mengenai golongan orangmuda khususnya, mahasiswa. Mereka dipandang sebagai golongan intelelektual, yang dipercaya mampu merubah bangsanya. Tetapi, apakah benar demikian yang terjadi?

Suatu kali, saya membaca sepotong kalimat iklan sebuah kampus ternama di Jakarta yang pada sebuah koran: “Lulusannya dicari di dunia kerja”. Mengacu pada kalimat itu, rasanya kini mahasiswa diciptakan perguruan tinggi lebih untuk memenuhi permintaan pasar industri akan tenaga kerja. Coba tengok mata kuliah yang ditawarkan. Sebagian besar lebih diarahkan untuk mencetak operator-operator roda industri. Mahasiswa tidak lagi dididik sebagai makhluk otonomi yang intelektual. Kini mahasiswa tidak lagi memikat seperti pada zaman Bung Hatta yang mau membela nasib bangsanya. Mahasiswa akhirnya cuma jadi boneka.

Kembali pada jumlah perbandingan di atas. Jika mahasiswa tidak mau dikatakan hanya menjadi boneka bagi industri, mari mulai untuk memberi perhatian yang besar pada negaranya. Bisa dimulai dengan perhatian terhadap orang-orang miskin. Rasanya tidak sulit bagi seorang mahasiswa untuk mengelola sekurang-kurangnya dua puluh lima orang miskin. Artinya, jika berhasil, sekurangnya angka kemiskinan bisa ditekan separuhnya. Kalaupun gagal, sekurangnya sudah melawan dengan sebaik-baiknya.

Author Description

KOMJak7

No comments yet.

Join the Conversation