Love at the First Sight

oleh: Hiyashinta Klise

Bahu kiriku memanggul Salib, tangan kananku memegang Alkitab, sementara Romo meletakkan kedua tangannya di atas kepalaku.

Inilah berkat yang kuterima di malam terakhir retret orientasi program pengembangan diri komprehensif bernama KOMJak. Kampus Orang Muda Jakarta. Menurut Romo Johannes Haryanto, penanggung jawab KOMJak, retret ini diadakan sebagai persiapan sebelum memulai proses.

Dipersiapkan untuk apa? Mengapa harus diberkati seperti ini? Bukankah kami hanya akan belajar?

Menemukan KOMjak

Pengumuman KOMJak pertama kali kulihat di milis Mudika Servatius. ”Beasiswa Pengembangan Diri Komprehensif”. Kalimat pertama dalam pengumuman itu, langsung membuatku jatuh hati.

Di sela-sela makan siangku di kantor, aku meneruskan membaca keseluruhan isi pengumuman itu. Semakin membaca semakin aku tertarik untuk mengikuti program ini. Kuperhatikan nama-nama fasilitator, profesi mereka, serta nama-nama dewan pakar yang mendukung program ini. Ada jurnalis, praktisi perbankan, aktivis lingkungan, dan yang paling menarik perhatianku adalah nama Lexy Junior Rambadeta seorang filmmaker. Ada filmmaker juga? Program apa sih ini? Aku semakin penasaran.

Akhirnya aku mendaftar. Merasa aneh dengan diriku sendiri sebenarnya karena sejak kuliah, aku tidak suka mengikuti kegiatan apapun yang berkaitan dengan Gereja.

Aku mulai mengisi satu demi satu kolom isian pada form pendaftaran. Namun aku terhenti cukup lama saat harus mengisi mimpi dan cita-cita. Mimpi? Aku tidak mempunyai mimpi apapun. Cita-cita untuk diriku sih ada, tapi untuk lingkungan sekitar, untuk bangsa Indonesia, Apa ya?

Akhirnya, aku hanya bisa menuliskan dua mimpi kecil untuk diriku. Ingin melanjutkan kuliah dan mempunyai sebuah penyewaan buku.

Saat itu aku lupa. Benar-benar lupa tentang semangat dan mimpiku sejak kecil. Dulu aku sering memikirkan tentang Indonesia, mengapa Indonesia bisa dijajah, mengapa banyak pemimpin negeri ini yang melakukan korupsi. Mengapa begini, mengapa begitu. Mungkin terdengar aneh, tapi sejak kecil, aku tidak anti dengan politik. Hal itu berawal dari kesukaanku akan sejarah. Di umur delapan tahun, aku mulai menyukai hal-hal yang berbau sejarah.

Seingatku saat itu aku mulai belajar tentang kerajaan-kerajaan kuno yang pernah berkuasa di Indonesia lalu berlanjut pada peristiwa proklamasi kemerdekaan RI. Aku menyukainya. Bagiku, belajar sejarah sama seperti mendengar atau membaca sebuah dongeng. Aku juga menyukai film-film dokumenter yang diputar di televisi, itu adalah acara wajibku sepulang sekolah.

Entah aku mencontoh dari siapa. Jelas bukan dari ayahku karena ia bekerja di laut lepas dan jarang sekali pulang. Apalagi ibuku yang selalu sibuk dengan urusan rumah tangga. Mungkin karena almarhum kakekku. Aku menyebutnya Mbah Kakung. Jika aku berlibur ke rumahnya, ia selalu memangkuku di depan sebuah foto besar Soekarno di ruang tamunya dan menceritakan tentang peperangan. Ia juga pernah bercerita tentang Konferensi Asia Afrika. Tapi saat itu aku tak mengerti sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, aku hanya menyukai gayanya bercerita. Oya, jika Soeharto berpidato, tiba-tiba saja Mbah Kakungku itu menghampiri TV dan meludahinya. ”Pembohong!”, katanya.

Perjalanan dan masalah hidupku mengaburkan semua mimpi itu. Demi beasiswa dan pertimbangan keuangan keluarga, jurusan perpajakan terpaksa kuambil setelah melepas jurusan sejarah yang berhasil kudapatkan. Mulai saat itu orientasiku hanyalah untuk bekerja. Tak ada organisasi yang kuikuti selama kuliah karena buatku hanya akan menghabiskan uang jika harus berlama-lama di kampus. Aku menjadi AnSos (anti sosial). Lebih baik aku mencari tambahan uang dengan mengajar privat di rumah.

Saat mulai bekerja, aku menyadari seperti ada yang hilang dari diriku. ”Ini bukan aku, ini bukan aku”, selalu pikiran itu yang muncul. Aku tak mau hanya berakhir seperti ini tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Tak ada yang bisa membantuku menjawab kegelisahan ini. Keluargaku, temanku bahkan pacarku. Lalu sampailah aku pada titik dimana aku menyerah, saat dimana aku hampir mengambil pilihan terbodoh dalam hidupku. Dan saat itulah aku menemukan KOMjak.

Orientasi Program

Tanggal 1 November 2008, aku menerima email yang berisi undangan untuk mengikuti wawancara seleksi calon peserta KOMJak. Aku memenuhi panggilan itu dan datang seorang diri ke Gedung Karya Pastoral Katedral, tempat wawancara seleksi dilaksanakan.

Beberapa hari setelahnya, diumumkanlah 68 orang peserta yang lolos. Dan aku salah satu diantaranya. Senang sekali rasanya.

Ke-68 peserta yang lolos ini diwajibkan untuk mengikuti retret orientasi selama 4 hari. Dimulai Kamis Malam, dan diakhiri Minggu sore. Bagiku, itu berarti pada hari Jumat aku harus ijin untuk tidak masuk kantor. Tak yakin apakah aku bisa memperoleh ijin dari atasanku, aku tetap memberanikan diri mengajukannya. Dengan alasan ingin mengikuti program pengembangan diri, ternyata bosku memperbolehkan aku untuk tidak masuk kerja hari itu. Tapi tiba-tiba ada lagi yang mengganjal pikiranku, dihari yang sama sebuah perusahaan multinasional memanggilku untuk interview. Saat itu aku harus memilih antara karir di sebuah perusahaan besar atau KOMJak. Lagi-lagi untuk alasan yang aku sendiri tak mengerti, aku memilih KOMJak.

Kamis malam tanggal 20 November 2008, peserta KOMJak berkumpul di Wisma Samadi untuk menjalani proses orientasi. Baru kali ini aku merasa nyaman berada di tengah-tengah orang-orang yang baru kukenal. Proses orientasi pun dimulai. Sebagian besar proses adalah membaca kitab suci, menghayatinya, kemudian bermeditasi. Kuikuti keseluruhan proses tanpa mengeluh. Dengan segala kesibukan yang aku jalani di kantor, dan kebisingan kota Jakarta yang menghantui setiap saat, aku rasa, aku memang membutuhkan ketenangan melalui meditasi ini.

Romo Hari mengajak kami semua menghayati panggilan Yesus, seperti halnya para rasul. Jalan Salib juga dilakukan sebagai bagian dari orientasi. Sungguh sangat berkesan bagiku, karena tata cara, doa, dan nyanyian yang digunakan dalam jalan salib ini adalah ciptaan kami sendiri. Belum lagi kami diharuskan untuk melakukan Jalan Salib tanpa menggunakan alas kaki walau jalan yang kami tempuh dipenuhi dengan kerikil.

Dan di malam terakhir, seperti apa yang kuungkapkan di awal tulisan ini, Romo Hari memberkati kami secara khusus satu per satu.

Beberapa hari setelah retret orientasi, fasilitator mengirimi kami email untuk mengkonfirmasi kembali keikutsertaan kami dalam program ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya peserta yang mengkritik dan menyatakan ketidakpuasannya akan program ini di akhir retret orientasi.

Bagiku program ini juga serba tidak jelas, tapi aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali membaca pengumumannya. Ada yang membuatku ”klik” dengan KOMJak. Maka, tak ada yang bisa membuatku mundur. Kuputuskan untuk melanjutkannya.

Mulai Belajar …

Apa yang kami pelajari di KOMJak adalah Ekonomi, Politik, Multikulturalime, Hukum dan HAM. Dan ternyata metode belajar yang digunakan KOMJak tidak seperti apa yang kubayangkan sebelumnya. Kami tidak mempelajari teori di awal, tapi kami diajak untuk terjun langsung ke lapangan. Berjumpa dengan realitas, menggali fakta dari realitas tersebut, dan mencari akar permasalahannya. Bahan bacaan baru diberikan kemudian guna membantu kami merumuskan akar permasalahan tersebut. Lalu dewan pakar dihadirkan untuk semakin memperkuat analisis kami. Jika sudah yakin dengan rumusan akar permasalahannya, kami mempresentasikannya, sambil bersiap untuk didebat, dikritik atau dipatahkan oleh Romo, fasilitator, juga teman-teman yang lain.

Seru bukan? Aku suka menceritakan semua ini kepada teman-temanku di luar KOMJak

Dan komentar mereka adalah, ”Luar biasa Shin! luar biasa aneh! Apanya yang seru?!”

Petualangan 4 Modul

Tugas observasi tidak pernah kuanggap sebagai beban, tapi sebuah petualangan seru. Di modul ekonomi, aku mendapat tugas mengobservasi buruh bangunan. Belum terlalu memberikan tantangan, karena aku dapat dengan mudah menemui objek observasiku yang adalah tetanggaku sendiri. Tantangan baru kutemui di Modul Politik. ”Keluar dari comfort zone” kata Romo, karena di Modul ini aku harus mengobservasi sebuah partai politik yakni, Gerindra. Dengan bermodal nekat, kugunakan waktu makan siangku untuk datang ke markas Gerindra di Jakarta Pusat. Walau awalnya sempat dicurigai, namun aku berhasil melakukan wawancara dengan pengurus dan tim sukses partai. Tak pernah kubayangkan sebelumnya aku akan berurusan langsung dengan partai politik. Ini adalah pengalaman paling mendebarkan dalam hidupku.

Namun pengalaman di Modul Politik ini membuatku semakin berani untuk melakukan observasi ketigaku di modul Multikulturalisme. Kali ini aku mendatangi sebuah Gereja Pentakosta di Cilincing. Gereja ini sedang mengalami masalah dengan masyarakat setempat karena sengketa tanah. Kaum fundamentalis agama yang tidak menyukai keberadaan gereja, memanfaatkan moment ini untuk menyegel dan melarang mereka melakukan ibadat di gereja itu. Saat aku kesana, situasi sudah mulai membaik. Walau mereka tetap belum boleh melakukan ibadat di gedung gereja, mereka diijinkan untuk melakukannya di rumah Pak Pendeta.

Di modul Hukum dan HAM, aku mendatangi kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk mewawancarai seorang narasumber terkait dengan tema ketidakadilan Perpajakan yang kubahas. Modul ke empat ini agak berbeda dengan modul-modul sebelumnya. Disini kami tidak lagi tergabung dalam kelompok. Dari menentukan tema, observasi, merumuskan akar permasalahan, persentasi, sampai pembuatan paper dilakukan sendiri oleh peserta. Maka untuk memudahkan kami, fasilitator memberi saran agar kami mengambil tema yang paling dekat dengan kami.

Saat itu aku bingung akan mengambil tema apa. Dan semakin bingung mengatur waktu, karena aku baru pindah bekerja ke sebuah konsultan pajak yang menuntutku bekerja lembur setiap hari. Jadi mau tak mau tema pajaklah yang kuambil. Tapi aku tak menyesal. Justru karenanya aku baru menyadari bahwa dengan latarbelakang pendidikanku ini, aku bisa mengkritisi setiap kebijakan perpajakan yang mengarah pada ketidakadilan. Aha..Terjawab sudah mengapa aku terperangkap di dunia perpajakan. Mungkin ini jalannya. Sedikit demi sedikit, aku mulai melihat benang merah dari setiap perjalanan hidupku.

Pelatihan-Pelatihan Berharga..

Masih ada lagi yang kudapat dari KOMJak. Ada tiga pelatihan tambahan yang diberikan. Pelatihan menulis, public speaking dan jurnalisme video. Karena ini beasiswa, tentu saja semua pelatihan ini diberikan secara gratis.

Pelatihan menulis berhasil “memaksaku” membuat tulisan opini berjudul “UU Pornografi Vs UUD 1945”. Tulisan pertama, semoga bukan yang terakhir, yang terpampang di sebuah website. Entah mengapa aku tak pernah suka mengutarakan pikiranku lewat tulisan. Jangankan mempunyai blog, menulis status di facebook saja jarang kulakukan. Kenapa sih aku ini, lagi-lagi jika kuingat masa lalu, aku sangat suka menulis. Saat kelas dua SD saja aku sudah membuat cerpen sepanjang 4 halaman penuh kertas folio bergaris. Judulnya, “Capung Mas yang Ajaib”. Aku menulis ini bukan karena tugas dari sekolah. Tapi hanya karena aku suka menuliskan semua imajinasi dalam kepalaku. Baiklah, akan kucoba kembali menulis agar Mas Sigit dan Mas Ignatius Hariyanto tidak sia-sia memberikan pelatihan penulisan ini padaku.

Pelatihan public speaking, memberikan trik-trik bagi kami agar bisa berbicara dengan baik di depan umum. Di setiap modul, aku sudah terbiasa persentasi, tapi entah mengapa lidahku kaku saat pelatihan ini. Belum lagi esoknya, satu persatu dari kami harus ber-orasi. Pengalaman paling memalukan namun menyenangkan untuk dikenang.

Setelah modul ke empat, pelatihan jurnalisme video diberikan. Mas Lexy menuntun kami dalam pelatihan ini dengan sabar. Tak kusangka, ide membuat film dokumenter ternyata sangat sulit didapat. Berhari-hari aku memikirkannya. Sampai akhirnya aku menemukan ide membuat film dokumenter tentang perjalananku menyusuri sejarah pembantaian etnis Tionghoa 1740 di Kota Tua Jakarta. Jika di modul hukum dan HAM background pendidikanku dipakai, pada pelatihan ini kecintaanku pada sejarah bisa tersalurkan, dan yang lebih menyenangkan lagi, semua itu bisa kudokumentasikan dalam bentuk video. Walau gambarnya masih kacau disana-sini, aku bangga dengan hasil karyaku.

***

Tak terasa sudah hampir satu tahun kami berproses bersama di KOMJak. Solidaritas antar peserta KOMJak yang hanya tersisa 15 orang ini semakin kuat.  Kehebatan dan keunikan mereka pun semakin terlihat. Sarma sang guru matematika yang sangat menentang UAN (Ujian Akhir Nasional), Hanni yang peduli sekali dengan diskriminasi gender, Monic si pendaki gunung yang sangat reflektif, Viri aktivis wanita pembela kaum marginal, Grace yang pintar, Priska yang kreative, Stevi yang selalu bersemangat dan Stephani yang penuh komitmen dengan pilihannya. Tak lupa semua Komjakers pria yang tetap setia berada di KOMJak. Hilda, Jefri, Jun, Sherwin, Melki, dan Ray.

Untuk Romo dan fasilitator, hmmm..tak ada habis-habisnya kekagumanku pada mereka. Kesibukan mereka tak pernah menjadi penghalang untuk tetap mendampingi kami.

Aku seperti menemukan duniaku di KOMjak. Pengetahuanku bertambah, pengalamanku apalagi. Ia mengembalikan hidup dan mimpiku kembali. Yah walaupun jadi sering begadang, karena harus menyelesaikan paper dan refleksi di setiap akhir modul.

Kini, aku tak lagi hanya memikirkan diriku. Cinta pada KOMJak menuntunku untuk lebih mencintai negeriku Indonesia. Melihat begitu banyak permasalahan yang dihadapi bangsaku, membuatku takut kehilangannya. Banyak yang ingin kulakukan untuk keutuhan negeri ini. Dan bersama teman-teman di KOMJak kami wujudkan cinta ini melalui aksi nyata. Tak kusebutkan apa yang kami lakukan di sini karena kami dituntut untuk selalu low profile. Semoga semangat ini akan menulari kaum muda lainnya yang masih belum peduli akan bangsanya.

Ternyata, kami memang tidak hanya sekedar belajar. Retret orientasi di awal program, memang mempersiapkan kami agar menjadi lebih berani melawan ketidakadilan, melawan penguasa-penguasa tamak dan melawan segala bentuk penjajahan, sama seperti Yesus dan para muridNya. Aku percaya, Yesus pulalah yang membuatku menemukan KOMjak, dan membuatku langsung menyukainya. Ia tak ingin aku menyerah.

Salib dibahu kiriku menandakan tugasku memperjuangkan ini semua tidaklah ringan. Namun dengan tuntunan sabda Allah dalam Alkitab di tangan kananku, serta berkatNya yang melimpah atasku, aku pasti mampu merintis kehidupan yang lebih baik bagi Indonesiaku tercinta.

Author Description

KOMJak7

No comments yet.

Join the Conversation