sumber:ayip7miftah.files.wordpress.com

Kepemimpinan adalah salah satu aspek hidup yang paling dibutuhkan manusia dalam pelbagai konteks. Hidup dalam keluarga, komunitas sosial maupun keagamaan/keyakinan, organisasi, lembaga atau perusahaan, di tengah masyarakat, maupun dalam lingkup tata negara dan hubungan internasional, semua membutuhkan kepemimpinan. Lantas, apa sih kepemimpinan itu? Dan, apa pentingnya ia diolah dalam pembelajaran KOMJak?

Kepemimpinan pada hakikatnya adalah integritas (kesatuan akal budi, hati nurani dan perilaku/tindakan) yang mampu mengendalikan diri kita sendiri maupun mempengaruhi orang-orang lain di sekitar kita untuk berpikir, mengambil sikap dan bertindak untuk tujuan tertentu. Dengan secara tegas mengabaikan konteksnya yang negatif, kepemimpinan yang diolah dalam pembelajaran KOMJak ditujukan untuk menggerakkan proses transformatif (perubahan kondisi yang semakin baik) dalam pelbagai tingkat kehidupan sosial, sejak relasi antar-personal, keluarga dan komunitas terdekat, hingga hidup berbangsa/bermasyarakat secara luas.

 

Dalam hakikat kepemimpinan tersebut, KOMJaker didorong melalui sejumlah kesempatan dan metode pengembangan diri hingga mampu berpikir, mendengarkan suara hati, mengambil sikap dan mengaktualisasikannya dalam tindakan-tindakan konkret sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri maupun pemimpin di tengah komunitas dan masyarakatnya. Untuk sampai pada tingkat kepemimpinan semacam itu, seorang KOMJaker perlu berlatih mengelola kehidupannya sendiri setiap hari, melakukan segala hal penuh kesadaran akan tujuan-tujuan baik dan cara yang sepadan, merencanakan tindakan/kegiatan sehari-hari secara tepat, dan berani mengambil sikap tertentu atas persoalan hidup yang dihadapinya secara kritis dan penuh tanggungjawab.

Pada gilirannya, seorang KOMJaker perlu melanjutkan proses pembelajarannya agar mampu diterima oleh pelbagai kalangan, menyumbangkan hal-hal positif yang didasari nilai-nilai Kristiani yang dihayatinya bagi kemajuan komunitas/masyarakat, serta mempengaruhi komunitas/masyarakatnya itu agar berpikir, bersikap dan bertindak transformatif.

Dalam proses menuju kapasitas kepemimpinan semacam itu, barangkali seorang KOMJaker menyadari bahwa dirinya baru mengatur kegiatan sehari-hari dan mempengaruhi segelintir orang di sekitarnya, entah anggota keluarga, rekan kerja atau teman sepergaulan. Tak ada masalah dengan itu, karena pencapaian kapasitas kepemimpinan seharusnya memang mulai dari kemampuan mengendalikan diri sendiri dan mempengaruhi orang-orang terdekat demi kebaikan bersama. Namun, proses pembelajaran selama KOMJak maupun setelah proses KOMJak dinyatakan usai secara formal hendaknya tak menghentikan pembelajarannya untuk semakin mampu menjadi pemimpin di tingkat yang lebih luas: pemimpin komunitas/ organisasi, pemegang mandat fungsi kerja tertentu di lembaga/perusahaan, bahkan tak tertutup bagi kemungkinan menjadi pemimpin masyarakat dan lembaga negara. Namun, seluruh tingkat-tingkat kepemimpinan itu bukanlah target utama, melainkan sekadar kesempatan atau peluang yang mungkin terbuka bagi setiap KOMJaker pada saatnya ia harus menyumbangkan diri bagi perubahan yang lebih baik dalam hidup bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *