Panggil Aku ‘Bento’

oleh Imelda MRS.

Sumber: http://4.bp.blogspot.com

Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku senang aku menang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi
Asyikkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…

Alunan “Bento” terngiang di kepalaku mengiringi langkahku kala aku berjalan di antara para kuli bangunan pagi ini. Gedung megah nan indah milik salah satu bank swasta itu tak sebanding dengan gambar ireng wajah para kuli bangunan yang menebarkan semerbak aroma matahari. Guratan lelah itu terukir jelas saat mereka turun dari truk pengangkat pasir. Membangun gedung megah tanpa helm, sepatu boot dan tali pengikat badan. Keselamatan mereka pun terancam. Tak seharusnya mereka diperlakukan demikian.  Mereka adalah manusia, tidak  seharusnya diperlakukan layaknya mesin yang berproduksi tiada henti tanpa penghargaan yang berarti. Jaminan sosial tenaga kerja tidak mereka dapatkan. Kebijakan tenaga kerja tidak melirik mereka. Bantuan pemerintah bagi Warga Miskin memang ada, tapi tidak semua dari mereka mendapatkannya. “Saya ditolak di Puskesmas padahal saya sudah bawa kartu”, ujar Asep sebagai salah satu Warga Miskin. Kemiskinan struktural di Indonesia bukan tidak mungkin ditaklukkan. Namun, mengupayakannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Berbicara tentang kemiskinan tidak sekedar berbicara tentang ekonomi. Pemerintah dan pemilik modal sebagai pihak yang berkuasa telah mendirikan dinding tebal yang sulit ditembus. Dinding berlabel kepentingan. Kepentingan akan penyejahteraan diri dan kekuasaan.
Lirik “Bento” menggambarkan pemerintah dan pemilik modal yang menghalalkan segala cara asalkan mendapatkan “kemenangan”. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang memiliki tugas menyejahterakan seluruh rakyat, telah berkonsentrasi pada kesejahteraan segelintir rakyat yaitu pemilik modal. Layaknya simbiosis mutualisme, pemilik modal pun menjanjikan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dan kelanggengan kekuasaan kepada pemerintah. Kebijakan-kebijakan yang ada hanya mengakomodasi kepentingan pemerintah dan pemilik modal. Kemiskinan akibat ketidakadilan yang terjadi sedemikian rupa ini membuat rakyat miskin tak berdaya dan nrimo. Hanya bisa mengencangkan ikat pinggang untuk mengatasi perut lapar dan tidak punya keyakinan untuk bisa bangkit melawan para pemilik modal yang mempekerjakan mereka.

Saya masih punya mimpi suatu hari nanti tidak ada lagi pekerja lepas seperti Bapak Asep atau kuli bangunan lain yang tak punya akses untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara. Saya masih punya harapan rantai kemiskinan struktural dapat dihancurkan. Saya yakin Indonesia pasti bangkit dari kemiskinan. Hal ini dapat terjadi jika masing-masing kita memiliki keyakinan dan berani mengambil peran untuk bangkit dari struktur ketidakadilan tersebut. Tidak sekedar menjadi penonton keterpurukan mereka yang miskin dan tersingkir. Bento-bento yang semakin menggerogoti rakyat miskin bisa dihentikan dengan adanya kebijakan-kebijakan yang berpihak pada seluruh rakyat.

Author Description

KOMJak7

No comments yet.

Join the Conversation