“ Tentang Rasa “

oleh Cicilia Asri Christiyani

sumber: http://pieceom.blogspot.com

Berproses  di Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak) sungguh memperkaya pengalaman saya dengan hal-hal baru. Metode pembelajarannya unik namun kadang membuat “pusing”. Observasi dan proses analisis yang dilakukan bersama rekan sekelompok dan fasilitator begitu menyenangkan sekaligus menantang; dan tentunya….menguras waktu..!!

Pengalaman awal berproses dalam KOMJak, mengantar saya untuk semakin jatuh cinta pada “observasi”.  Saya mendapat pengalaman observasi yang penuh rasa.  Observasi KOMJak mensyaratkan untuk mengandalkan semua indera sehingga hasil dan kesan yang didapat begitu hidup dan mendalam. Memposisikan pengupas kerang sebagai “subyek” bukan sebagai “obyek” membuat observasi begitu “memiliki nyawa”. Tidak sekedar mengamati, tapi juga berempati. Pendekatan observasi mampu menggambarkan suatu peristiwa secara deskriptif, hidup dan jujur.  Sebuah pembelajaran berharga yang belum pernah saya temukan sebelumnya.

Jika penyanyi Astrid memiliki sebuah lagu yang berjudul “Tentang Rasa”, saya pun memiliki “Tentang Rasa” versi saya.   Rasa kagum, sedih dan haru  yang mengalir dalam setiap peristiwa yang masih terekam sangat jelas di benak saya, saat mendengarkan kisah perjuangan Bu Maryam si pengupas kerang yang berjuang untuk bertahan hidup dan tetap bersyukur dengan pendapatan sepuluh ribu rupiah sehari. Tentang rasa yang terhenyak  begitu melihat  proses pengupasan kerang yang menggunakan formalin dan pewarna tekstil. Tentang rasa penuh harapan menyaksikan anak bu Maryam yang bernama Juleha punya cita-cita menjadi dokter. Tentang rasa dari aroma khas laut Muara Angke yang sungguh tidak mengenakkan hidung.

Pengalaman tentang rasa dalam observasi membantu saya dalam proses analisis dan perumusan event, pola dan struktur permasalahan di negara kita. Seringkali kita tidak sadar dan tidak peduli dengan hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Siapa yang menyangka struktur yang didapat merupakan hasil analisis terhadap potret-potret kemiskinan yang dekat dan selalu kita temui dalam keseharian.

Banyak warga masyarakat kita yang harus bersusah payah mencari uang hanya untuk sekedar bertahan hidup. Tak punya pilihan dan dipaksa untuk menerima keadaan. Belum satupun kebijakan pemerintah yang sungguh-sungguh menjamah kelompok marginal ini. Begitu pula dengan kelompok masyarakat di tingkat menengah sampai atas  (termasuk juga saya) pun tidak peduli dengan mereka. Kondisi ini begitu lekat jika dikaitkan dengan sebuah kutipan dari Bunda Teressa yaitu:

“Kita mengabarkan kepada orang-orang tentang betapa baiknya, betapa maha pengampun, betapa penuh pengertiannya Allah, tetapi apakah kita sudah menjadi bukti yang nyata? Dapatkah mereka sungguh-sungguh melihat kebaikan, pengampunan, pengertian tersebut ada dalam hidup/diri kita? Mereka yang tidak diinginkan dan tidak dicintai, mereka yang berjalan di dalam dunia tanpa ada satu pun yang memperhatikan. Pernahkah kita pergi untuk menemui mereka? Pernahkah kita mengenal mereka? Pernahkah kita mencoba untuk menemukan mereka?

Kata-kata Bunda Teresa diatas menjadi sebuah permenungan bagi diri saya untuk mulai melakukan perubahan demi perubahan dimulai dari hal-hal kecil. Melatih diri dan seluruh indera untuk semakin peka terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di dekat saya. Mungkin saja “kemiskinan” tidak melulu sebagai sesuatu yang jauh untuk dijamah, tetapi sebetulnya sungguh ada di sekitar saya. Mulai semakin melatih diri untuk berbagi dengan sesama dimulai dengan yang paling dekat. Mengubah sifat  “miskin” dalam memberi perhatian, senyum dan sapaan kepada ayah, ibu, saudara dan sahabat.

Mulai berusaha mesyukuri dan mencintai pekerjaan saya sebagai bagian dari abdi negara dan pelayan masyarakat, suatu hal yang sulit dimana harus bertahan dalam sebuah sistem pemerintahan yang jauh dari kata “pro rakyat”. Meyakinkan diri bahwa hidup adalah pilihan. Saya selalu memiliki pilihan untuk  berada di jalan yang baik. Saya masih mempunyai peluang untuk sungguh-sungguh bekerja melayani masyarakat, menjalani hidup penuh syukur dengan bekerja penuh semangat. Bunda Teresa, Santo Alberto Hutardo, Romo Mangun dan tentunya Tuhan Yesus Kristus Sendiri, sebagai teladan yang paling utama, senantiasa menginspirasi saya untuk berusaha peka dan berbagi kasih dengan sesama.

Author Description

KOMJak7

No comments yet.

Join the Conversation