Bahaya Guru Pelupa

Suatu ketika saya membawa selembar kertas pembungkus kado dan sebuah kotak ke dalam kelas. Saya bertanya “saya mau bungkus kadonya, kertas ini cukup nggak ya? ”. Beberapa anak langsung maju hendak memegang kedua benda itu. Mereka mulai membungkus kotak itu tanpa memotong kertas kadonya karena memang tidak saya perbolehkan. Setelah berkali-kali mencoba, mereka menyimpulkan bahwa kertas itu tidak akan cukup untuk membungkus kotaknya. Sebagian besar anak mulai setuju, tapi sebagian lagi masih berusaha membolak-balik posisi kotaknya.

Belasan menit kemudian, seorang anak berteriak “harusnya cukup Bu … karena luas kertasnya lebih besar dari luas permukaan kotaknya.”. Suasana ruang kelas mendadak hening, maklum saja yang mengungkapkan itu memang anak yang dikenal pintar matematika. Saya katakana “Ya, harusnya cukup. Ada yang mau mencoba ?”. Kelas kembali ramai, tapi kali ini, yang menjadi pimpinan proyek adalah anak yang pintar matematika itu. Saya memberikan gunting sebagai tanda bahwa saya memperbolehkan mereka memotong kertas itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian mereka memberikan kotak yang sudah terbungkus itu pada saya. Mereka tampak bangga sudah membuktikan bahwa kotak itu bisa terbungkus tapi tetap menambahkan “tapi jelek banget Bu…karena pinggirnya passsssss banget”. Kegiatan tersebut mengawali proses pembelajaran materi bangun ruang. Kegiatan yang diadakan untuk memulai perjanjian. Perjanjian bahwa apa pun yang akan kami hitung, semuanya adalah hasil minimal.  Tidak sama dengan apa yang mungkin kami harapkan.

Apa yang dipelajari di sekolah memang merupakan penyederhanaan dari proses dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak harus diberi kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang apa yang dipelajarinya dari buku dan guru-guru di sekolah. Proses belajar sesungguhnya adalah ketika seorang anak memiliki keingintahuan untuk mencari perbedaan antara apa yang dipelajarinya dari buku dengan apa yang dipelajarinya dari kehidupan sehari-hari.

Ketika seorang anak berusaha mencari jawabannya di internet, mungkin secara tidak sengaja dia akan membaca berita tentang perang antara Amerika dan Irak. Ketika dia mencari jawabannya kepada orang tuanya, orang tuanya akan senang karena masih menjadi pihak yang dipercayai anaknya. Banyak hal dipelajari dan dialami selama proses penemuan jawaban tersebut.

Banyak guru terlalu sibuk mengejar materi di sekolah sehingga lupa menjelaskan prinsip-prinsip dasar di dalam sekolah. Guru matematika sibuk memberikan soal-soal tentang matematika dan melupakan kewajiban untuk menceritakan fakta-fakta yang akan ditemui dalam kehidupan sehari-hari.  Tampaknya merasa rugi untuk menghabiskan satu jam pelajaran untuk mendiskusikan fakta-fakta itu. Terlalu fokus menanyakan “berapa volume bola tersebut ?” tetapi lupa menjelaskan bahwa apa yang mereka gunakan di rumah mempengaruhi volume air di kota Jakarta yang langganan banjir.

Jika kebiasaan seperti ini berlangsung untuk waktu yang lama, tidak perlu heran jika banyak siswa menjadi pribadi yang kurang peduli tentang banyak hal. Mereka tidak akan peduli tentang korupsi karena guru matematikanya lupa menjelaskan bahaya penggunaan bilangan desimal. Mereka tidak akan peduli tentang penggundulan hutan jika guru matematikanya lupa menjelaskan tentang banyak pohon yang dibutuhkan untuk pelaksanaan Pemilu. Mereka mungkin tidak peduli dengan penyerangan tempat ibadah jika guru kewarganegaraanya lupa menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara Pancasila. Bahkan, mereka mungkin tidak akan peduli pada orang tuanya jika guru ekonominya lupa mengajari mereka menghitung kebutuhan hidup masing-masing.

 

Media sering kali mengungkapkan bahwa rasa kemanusiaan siswa sekolah semakin menipis. Seorang siswa menusuk temannya sendiri, beberapa remaja memperkosa temannya sendiri, seorang siswa bunuh diri karena tidak dibelikan ponsel, dan lain-lain. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sekolah sudah semakin melupakan fungsinya sebagai lembaga pendidikan. Lembaga yang seharusnya menjadi rekan kerja orang tua untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak-anak mereka. Ditengah kesibukan orang tua yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat, seharusnya sekolah bisa menjadi tempat untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Guru, yang kebetulan memiliki tugas secara langsung mengajarkan hal-hal tersebut, diharapkan bisa menjadi agen. Agen untuk mengubah pandangan bahwa nilai-nilai kemanusiaan siswa sekolah yang semakin menipis.

 

Author Description

KOMJak7

No comments yet.

Join the Conversation