KomJak memang Beda

oleh: Hilda Karuniawan

Ibu jariku selalu teracung keatas, dan kepalaku selalu mengangguk-angguk tanda terkagum, ketika aku menyaksikan sendiri semua presentasi yang ditampilkan oleh teman-temanku selama modul empat ini. Ya, mereka sangat berbeda sekarang dengan waktu pertama kali mereka datang untuk bergabung dengan KomJak. Dalam satu tahun ini mereka telah menjalani proses panjang dalam pembelajaran bersama KomJak. Dan di modul empat ini aku salut sekaligus bangga dengan mereka.

Rasa bangga itu juga tertuju pada diriku. Aku cukup maju pesat dalam bidang analisis sosial. Dan semua ini berkat sebuah komunitas yang telah memfasilitasiku untuk mewujudkan mimpiku sejak satu tahun yang lalu. KomJak, memang komunitas yang unik. Berbeda dengan komunitas ‘anak muda Gereja’ yang lain. Mengapa aku mengatakan berbeda? Aku punya cukup banyak pengalaman terlibat dalam kegiatan kaum muda Katolik. Aku pernah tergabung dalam Mudika di Paroki-ku, aku pernah menjadi moderator Forum Komunikasi Mahasiswa Katolik Kesuskupan Purwokerto, aku juga menjadi pendamping Kaum Muda Katolik Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan aku juga punya pengalaman memberi retret bagi sebagian Kaum Muda di Wisma Salam Muntilan.

Dari sana aku mengenal berbagai karakter Kaum Muda Katolik yang sebagian besar sama dengan kaum muda pada umumnya. Duduk, berkumpul, ngobrol ngalor ngidul, gitaran, nyany-nyayi, makan bareng, ngrokok bareng, kadang ada gerak karitatif, jadi relawan gempa, dsb. Hanya saja yang membedakan kaum muda Katolik dengan kaum muda lainnya, bahwa mereka berkumpul, berbicara soal keimanan Katolik, kalau nyanyi…ya nyanyi lagu-lagu rohani, kalau nongkrong di gua maria, kalau dolan ya di Gereja , itung-itung bisa dapat cipratan ‘sisa makanan’ pastor paroki. Kumpul-kumpul sambil latihan koor, retret, rekoleksi sambil bersenang-senang, dll.

KomJak berbeda dengan mereka. Dari nama organisasinya saja sudah menunjukkan bahwa komunitas ini tidak hanya berorientasi pada keimanan Katolik saja. Tidak ada embel2 ‘Katolik’ yang ‘arogan’ disana. Kami memang kumpulan kaum muda yang dibaptis, percaya akan Yesus Kristus, yang dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan oleh Bunda Maria, mengadakan Ekaristi bersama setiap kali kita berkumpul, berdoa, menyanyi, games, dll.

Tapi tidak sekedar seperti yang diatas. Kami merasa dipanggil untuk melanjutkan misi Kristus dan misi ini tidak cukup dilakukan dengan kumpul, memecahkan roti, berbagi, berdoa, mendengar sabda, atau memuji Allah.

Misi kami adalah mengubah dunia. Untuk itu, kami menggunakan sisi kognitif, afektif dan konatif kami untuk bertindak. Kami punya keprihatinan dan keprihatinan ini yang juga dirasakan oleh sebagian besar pemuda. Tapi kami tidak sekedar prihatin, kami terjun dan berjumpa dengan realitas langsung. Dari sanalah kami belajar, terlibat langsung, mencecap dan merasakan segala yang kemudian kami anggap sebagai permasalahan mendasar. Selanjutnya kami bersikap, menindak lanjuti apa yang menjadi keprihatinan kami dengan terang ajaran-ajaran Yesus yang sudah ditulis dan ditafsirkan oleh banya orang ke dalam dokumen-dokumen Gereja. Berangkat dari semua itu, maka lahirlah Kelompok Biru, kelompok yang bergerak untuk meminjamkan modal usaha bagi orang-orang kecil. Pernah bergabung dengan Jaringan Anti Penyiksaan Indonesia (JAPI), terlibat dalam diskusi-diskusi publik tentang permasalahan-permasalahan sosial, advokasi undang-undang yang dikeluarkan pemerintah, ikut kuliah filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, bergabung dengan Aliansi Bhinneka Tunggal Ika untuk menggelar Panggung 1000 Harapan di Senayan, mengadakan pelatihan jurnalistik, pelatihan video, dan masih banyak lagi. Semua ini demi tercapainya mimpi-mimpi KomJaker. We was born to change the world to make better place.

Author Description

adminkomjak

No comments yet.

Join the Conversation