Menggali Informasi dari Penghayat Kepercayaan Adat Musi

oleh: Cynthia Ruslan

Sekilas mengenai Kepercayaan Adat Musi

foto: www.anbti.org

Bapak Arnold Panahal menganut kepercayaan Adat Musi, dimana Adat disini diartikan sebagai ‘Allah dalam tubuh’. Kepercayaan ini berada di Desa Musi, Kec. Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Awal keberadaan kepercayaan ini adalah dari kelahiran seorang bayi bernama Bawangin pada 7 Juni 1840. Saat ia berusia 8 tahun, ia menderita sakit yang sangat hebat selama 1 tahun. Keluarganya sudah hampir putus asa. Namun ketika itu pula Malaikat Tuhan turun dan mengatakan bahwa mereka tidak boleh putus asa, tetaplah berpegang pada kehendak Tuhan dan terus berdoa di Bukit Duanne karena di situlah janji Tuhan akan digenapi.

Sejak saat itu kepercayaan ini terus berkembang sampai sekarang dan telah memiliki penganut sekitar 330 orang. Enam diantaranya berdomosili di Tanjung Priok dan 20 di Bekasi, Jakarta.
Dulu, daerah Talaud memang mayoritas penduduknya beragama Kristen, namun sekarang sudah banyak yang pindah ke kepercayaan Adat Musi. Saat ini, kepercayaan itu lah yang mendominasi di sana. Walaupun demikian, tetap ada penduduk yang beragama Islam, Advent, Protestan, dan Katolik.

Inti dari kepercayaan Adat Musi tidak berbeda jauh dengan ajaran Kristiani, yaitu cinta kasih. Tetapi penekanannya terletak pada kebenaran. Mereka sangat mempercayai bahwa kebenaran selalu akan terungkap, jadi yang terpenting bagi manusia (khususnya para pengikutnya) adalah selalu berbuat baik karena orang baik pasti mendapat tempat yang baik pula di dunia maupun akhirat. Sedangkan tempat bagi orang-orang jahat adalah neraka jahanam. Mereka pun selalu diajarkan untuk menjadi pembawa damai dan menjadi berkat bagi sesama.

Penghayat Adat Musi memiliki Kitab Suci yang mereka sebut Kitab Bawangin dan tempat ibadat yang disebut Tempat Persujudan. Tetapi tempat ibadat itu hanya ada di Talaud. Penghayat di Jakarta hanya bisa melaksanakan ibadatnya secara personal di rumah masing-masing. Mereka juga percaya akan Yesus Kristus, walaupun mereka memiliki sebutan yang berbeda untuk-Nya. Ada pula 10 perintah Allah yang sama persis dengan milik umat Katolik.

Setiap kali beribadat, mereka tidak menggunakan puji-pujian. Hanya doa pembukaan, firman, dan doa penutup. Ibadat dilaksanakan setiap Sabtu malam. Namun, sebelum Sabtu malam itu, setiap Jumat malam para penghayat diharuskan mengikuti pertobatan terlebih dahulu. Semua ajaran yang mereka jalankan tidak ada modifikasi sama sekali, kecuali dalam hal bahasa, sudah ada yang berbahasa Indonesia.

Interaksi Penghayat Adat Musi dengan Warga Sekitar di Talaud

Kepercayaan Adat Musi telah melalui sejarah yang panjang. Pak Arnold mengakui bahwa dulu, para penghayat di Talaud memang seringkali dicibir masyarakat sekitar. “Iya, dulu sering dianggap atheis juga dan mendapat perlakuan yang diskriminatif. Tetapi kami tidak peduli dan tetap bertahan karena kami selalu percaya bahwa walaupun kami difitnah dan diperlakukan tidak baik, kami tetap harus sabar. Dengan demikian kami akan selamat,” kata Pak Arnold.

Hal lain yang membuat Pak Arnold tetap setia pada kepercayaan ini adalah ajaran cinta kasih itu sendiri. Bapak paruh baya ini tidak pernah menaruh dendam sedikit pun dengan mereka yang memfitnah kepercayaannya. Ia tidak pernah kuatir tentang apapun, termasuk tentang tindak diskriminatif yang ia rasakan. Justru ia malah mau merangkul para non-penghayat itu dan terbukti bahwa sudah banyak yang berpindah ke kepercayaan Adat Musi di Talaud sana.
Bahkan sekarang ini, tak jarang juga warga sekitar meminta dirinya untuk mendoakan mereka. “Saya bilang kalau mereka percaya ya mari saya doakan. Memang cukup sering terjadi mukjizat, misalnya saya pernah menyembuhkan orang sakit dan mukjizat seperti yang dilakukan Yesus saat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan,” ujarnya. Tak heran memang kalau kemudian banyak yang menaruh hormat dan simpati padanya.

Tidak pernah terbersit sama sekali dalam benak Pak Arnold untuk berpindah ke agama lain. “Sudah tidak bisa diganggu gugat. Saya merasa sangat nyaman dengan kepercayaan ini dan semua ajarannya memang sudah terbukti,” ucapnya dengan penuh keyakinan. Ia pun tidak berkeinginan untuk menjadikan Adat Musi sebagai agama karena ia menganggap agama penuh dengan praktek politik yang tidak sehat. Para penghayat kepercayaan lebih senang seperti ini saja, yang penting hak-haknya terpenuhi.

Maka dapat disimpulkan bahwa dulu memang kepercayaan ini dipandang negatif oleh warga sekitar yang non-penghayat. Tetapi sekarang hubungan atau interaksi mereka baik-baik saja. Penganut Adat Musi justru menjadi mayoritas di Talaud dan dapat hidup berdampingan dengan umat Islam, Advent, Protestan, dan Katolik.

Masalah Administrasi dan Kependudukan

Dengan adanya UU no. 23 tahun 2006 dan PP no. 37 tahun 2007 cukup membuat para penghayat Adat Musi di Talaud tenang. Kalau dulu di KTP-nya mereka harus memilih salah satu agama yang diakui negara, sekarang KTP mereka cukup diberi tanda “(-)” yang menandakan mereka seorang penghayat kepercayaan.

Tentu saja untuk mendapatkan tanda itu tidak mudah. Pak Arnold dan rekan-rekannya telah melalui perjuangan keras untuk membuat Anggaran Dasar (AD) Kepercayaan Adat Musi. Diawali dengan pengajuan ke Depdagri, berlanjut ke tingkat Gubernur (Kejaksaan Tinggi, Balai Kajian, Kapolda, dll), tingkat Bupati (Kependudukan, Catatan Sipil, Pengadilan Negeri, dll), tingkat Kecamatan, baru kemudian Kelurahan, Rukun Tetangga (RT), dan Rukun Warga (RW). Sekarang ini dapat dipastikan semua penghayat Adat Musi di Talaud memiliki tanda “(-)” di bagian ‘Agama’ dalam KTP-nya.
Sedangkan untuk permasalahan perkawinan, rupanya masih menemui ganjalan. “Pada 22 Desember 2007 ada perkawinan massal 29 pasang penghayat dan para pengantin harus keluar uang sejumlah empat juta Rupiah karena kalau tidak Kantor Catatan Sipil tidak akan mengurus administrasinya,” ucapnya.

Perjuangan hebat kembali Pak Arnold lalui untuk masalah perkawinan ini. Dimulai dengan melapor ke Direktorat Kepercayaan di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, kemudian mereka menetapkan siapa pemuka penghayat kepercayaan mereka, Depbudpar mensahkan pemuka itu, baru kemudian masuk ke Kantor Catatan Sipil. Semua usaha dan jerih payah yang ia lakukan sejak tahun 1993 ini tentu tidak sia-sia.

Para penghayat kepercayaan diperbolehkan memilih pasangan dari agama lain, tetapi salah satu harus mengalah. Misalnya si penghayat pindah ke Kristen atau si Kristen pindah ke penghayat. Perkawinan Adat Musi dilakukan dengan tiga tahap, yaitu secara adat, kemudian pemberkatan, baru terakhir pengakuan dosa atau yang mereka sebut tahap peneguhan.

Kesimpulan
Dari sosok seorang Arnold Panahal, tergambar sekali bagaimana para penghayat kepercayaan hanya butuh dipenuhi hak-haknya. Intinya, diperhatikan oleh negara. Semua UU yang telah dibuat agar diimplementasikan dengan baik. Mereka juga tidak pernah menaruh dendam atas perlakuan diskriminatif yang mereka alami karena mereka percaya bahwa kebenaran selalu akan terungkap. Tidak perlu tindakan anarkhis untuk memperjuangkannya. Cukup dengan relasi yang intim dengan Sang Mahakuasa sebab Dia sendiri yang mengajarkan agar manusia harus selalu berbuat baik terhadap sesamanya dan tidak perlu khawatir akan apapun juga.

Pak Arnold yang saya temui seusai Sidang Putusan MK berkenaan dengan UU no. 1 tahun 1965 mengenai Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama memberikan sedikit komentarnya terhadap putusan MK tersebut. “Saya tidak masalah dengan putusan itu, malah saya senang dengan kekalahan yang sekarang ini kami alami. Karena sesuai yang kami percayai, kebenaran pasti akan terungkap suatu saat nanti. Biarkan saja,” ujarnya penuh kerendahan hati.

tulisan ini adalah hasil wawancara dengan salah satu Penghayat Kepercayaan Adat Musi

Author Description

KOMJak7

No comments yet.

Join the Conversation