Jangan Mendiamkan Kejahatan

JANGAN MENDIAMKAN KEJAHATAN
oleh : Ignasius Lorenzo

Ada 80 orang muda dari 12 negara di Asia bersama sejumlah aktivis, pastor, teolog dan organisasi We Are the Church International berpartisipasi dalam Asian Youth Academy (AYA) and Asian Theology Forum (ATF), 1-10 Agustus 2019 di The CLUMP Foundation, Chom Thong, Chiang Mai, Thailand.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh The Asian Lay Leaders (ALL) FORUM, sebuah organisasi pan-Asia yang bertujuan untuk memberdayakan para pemimpin dan orang muda awam Katolik, bekerjasama dengan Training Center for Religio-Cultural Community (RTRC).

Program bertema “Kebijakan Tradisi Budaya dan Agama di Asia Menanggapi Krisis Ekologi dan Keamanan Manusia” secara khusus mengundang Uskup Keuskupan Kalookan Filipina Pablo Virgilio S. David. Ia menjadi pembicara dan memberikan perspektifnya terkait keadaan budaya diam atas pembunuhan di luar pengadilan dan kekerasan seksual yang belum banyak diketahui orang.

“Budaya diam tidak selalu baik. Pada saat Gereja memperlihatkan bahwa diam umumnya diartikan positif seperti kebanyakan tulisan di Alkitab, dalam beberapa contoh diam bisa diartikan negatif. Diam atas ketidakadilan, diam saat kebenaran tidak disuarakan dan membiarkan yang buruk tetap ada, bukanlah sesuatu yang benar untuk dilakukan,” kata uskup berusia 60 tahun ini.

Uskup David asal Filipina ini mengatakan ada banyak alasan orang tidak memperjuangkan keadilan dan menyuarakan kebenaran. Mulai dari anggapan tidak ada urusan dengan hal tersebut, tidak mau ikut campur karena tidak mau menambah masalah, sampai dengan alasan takut akan konsekuensi yang akan diterima. Dalam pemaparannya, ia mendorong kaum muda untuk menghentikan budaya diam dari ketidakadilan.

“Kepada mereka yang bertanya kepada saya apakah saya takut akan hal-hal buruk apa yang mungkin dilakukan Duterte, saya menjawab, ‘Duterte dapat membunuh seorang utusan tetapi tidak untuk pesan yang dibawanya,” kata Mgr. David. Ia menambahkan, jika kita dianiaya karena kita telah keluar dari budaya diam dan membuka mata orang lain terhadap ‘pembunuhan di luar pengadilan’, ingatlah bahwa setidaknya itu jauh lebih baik daripada dihina oleh Gereja karena mempromosikan budaya diam untuk pelecehan seksual.

Ia mengkritisi sikap Presiden Duterte yang rutin menggunakan isu kekerasan seksual yang dilakukan Gereja untuk mengalihkan isu tentang pembunuhan di luar pengadilan dalam usaha melawan narkoba. Hal tersebut berhasil untuk menghentikan usaha perlawanan banyak uskup dan imam, karena apa yang diberitakan tentang kasus kekerasan seksual tersebut sebagian benar. Salah seorang uskup di Filipina Selatan, menurut cerita Mgr. David, mengaku menyesal karena diam meski mengetahui aksi pembunuhan di luar pengadilan yang terjadi di daerahnya. Itu dilakukannya untuk menjaga agar walikota tempat ia berkarya tidak menyerang para pastornya, atas tuduhan pelecehan seksual yang disiarkan lewat radio.

Emmanuel Serafica de Guzman, salah seorang pembicara, juga menegaskan bahwa dalam usaha Duterte mengkritik kalangan klerus, termasuk uskup, khususnya selama tiga tahun terakhir dilakukan untuk membungkam kritik gereja. “Menurut data yang kami gunakan ada sekitar 6.000 sampai 30.000 korban, dalam usaha Duterte perang melawan narkoba, kebanyakan dari mereka adalah masyarakat miskin,” tegas teolog awam asal Filipina ini.
Perlawanan yang dilakukan oleh Uskup David tidak berjalan mulus. Dalam usahanya menyuarakan kebenaran menyebabkan ancaman datang, Uskup David pun menambahkan bahwa Duterte telah menuduhnya sebagai pengedar narkoba dan pencuri. Dan mengancamnya dengan tuduhan menghalangi keadilan pada tahun 2017.

Uskup David menambahkan bahwa kasus kekerasan seksual sama dengan pembunuhan di luar pengadilan. Kasus kekerasan seksual terjadi berkat besarnya kontribusi budaya diam. Dalam beberapa kasus kekerasan seksual, khususnya yang terjadi di dalam keluarga, lebih banyak orang memilih diam, karena dibutuhkan waktu cukup panjang untuk membawa kasus kekerasan seksual kepada publik. “Korban cenderung akan menyembunyikan pengalaman kekerasan seksual mereka sendiri daripada memberitahukannya kepada orang lain. Mereka malu jika kasusnya diketahui banyak orang, takut menjadi bahan omongan dan dikucilkan di masyarakat. Bagi kebanyakan orang Asia hal tersebut lebih buruk daripada menderita atau mentolerir pelecehan seksual,” Kata Mgr. David, yang juga Wakil Ketua Konferensi Waligereja Filipina.

Uskup pemerhati pendidikan anak ini juga menambahkan bahwa para korban kekerasan seksual akan dengan mudahnya menjadi korban dari diri mereka sendiri. Ini terjadi karena mereka tidak bisa menyuarakan kesakitan mereka sebagai korban kekerasan seksual, sehingga banyak dari korban menderita depresi bahkan bunuh diri. Masih banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi dengan segala kompleksitasnya.

Sebagai penutup Uskup David menyampaikan pesan bahwa topik yang membicarakan tentang mendiamkan pembunuhan di luar pengadilan dan kekerasan seksual adalah sesuatu yang negatif dan harus dipatahkan. Namun ini bukan berarti umat Katolik tidak boleh melakukan dan membudayakan diam dalam arti positif, di mana sebagai seorang Asia, diam dalam keheningan untuk berkontemplasi dan fokus tentang apa yang sedang terjadi lewat doa adalah penting untuk dilakukan.

 

“Kita perlu merenungkan kembali bahwa ada banyak keheningan atas protes dan perlawanan, ada banyak keheningan atas penderitaan. Ini seharusnya membawa orang kristiani semakin sadar bahwa kita perlu berjuang dan bekerja demi keselamatan semua orang, tanpa terkecuali, dan bersedia menerima konsekuensinya,” kata Uskup David.

(Artikel ini telah diterbitkan di Majalah HIDUP edisi 35, terbit bulan Agustus 2019)

Perebutan Tafsir Kebebasan di Ruang Publik

oleh Awigra*

Publik terbelah posisinya ketika merespon wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI). Terlebih, pasca aksi pengusiran sejumlah pengurus pusat FPI oleh masyarakat Dayak di Pangkaraya, Kalimantan Tengah, (11/2) ditambah aksi massa gerakan Indonesia tanpa FPI di Bundaran HI (14/2) baru-baru ini. Mengingat, semangat pembubaran bisa berbenturan dengan semangat kebebasan berserikat dan berkumpul yang dijamin oleh konstitusi. Pertanyaannya, jika terbukti ada kelompok yang jelas-jelas memiliki rekam jejak (track record) panjang melakukan berbagai tindak kekerasan, apakah atas nama kebebasan, mereka tidak bisa dibubarkan? Di titik ini, terjadi pertempuran wacana yang sengit tentang hakikat kebebasan di ruang publik.

Di satu sisi, ormas anarkis kerap dengan dalih tafsir moral keagamaan tertentu merasa bebas memaksakan keyakinannya dan kebenarannya kepada publik yang belum tentu setuju dengan cara-cara kekerasan. Di sisi lain, orang-orang yang mengecam aksi-aksi kekerasan yang dilakukan FPI dan sampai pada tahap ingin membubarkan FPI, memiliki argumen bahwa kebebasan mereka selama ini dibelenggu, dan tak jarang diintimidasi oleh ormas anarkis.

Bahaya Guru Pelupa

Suatu ketika saya membawa selembar kertas pembungkus kado dan sebuah kotak ke dalam kelas. Saya bertanya “saya mau bungkus kadonya, kertas ini cukup nggak ya? ”. Beberapa anak langsung maju hendak memegang kedua benda itu. Mereka mulai membungkus kotak itu tanpa memotong kertas kadonya karena memang tidak saya perbolehkan. Setelah berkali-kali mencoba, mereka menyimpulkan bahwa kertas itu tidak akan cukup untuk membungkus kotaknya. Sebagian besar anak mulai setuju, tapi sebagian lagi masih berusaha membolak-balik posisi kotaknya.

Belasan menit kemudian, seorang anak berteriak “harusnya cukup Bu … karena luas kertasnya lebih besar dari luas permukaan kotaknya.”. Suasana ruang kelas mendadak hening, maklum saja yang mengungkapkan itu memang anak yang dikenal pintar matematika. Saya katakana “Ya, harusnya cukup. Ada yang mau mencoba ?”. Kelas kembali ramai, tapi kali ini, yang menjadi pimpinan proyek adalah anak yang pintar matematika itu. Saya memberikan gunting sebagai tanda bahwa saya memperbolehkan mereka memotong kertas itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian mereka memberikan kotak yang sudah terbungkus itu pada saya. Mereka tampak bangga sudah membuktikan bahwa kotak itu bisa terbungkus tapi tetap menambahkan “tapi jelek banget Bu…karena pinggirnya passsssss banget”. Kegiatan tersebut mengawali proses pembelajaran materi bangun ruang. Kegiatan yang diadakan untuk memulai perjanjian. Perjanjian bahwa apa pun yang akan kami hitung, semuanya adalah hasil minimal.  Tidak sama dengan apa yang mungkin kami harapkan.

Read More

“ Tentang Rasa “

oleh Cicilia Asri Christiyani

sumber: http://pieceom.blogspot.com

Berproses  di Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak) sungguh memperkaya pengalaman saya dengan hal-hal baru. Metode pembelajarannya unik namun kadang membuat “pusing”. Observasi dan proses analisis yang dilakukan bersama rekan sekelompok dan fasilitator begitu menyenangkan sekaligus menantang; dan tentunya….menguras waktu..!!

Pengalaman awal berproses dalam KOMJak, mengantar saya untuk semakin jatuh cinta pada “observasi”.  Saya mendapat pengalaman observasi yang penuh rasa.  Observasi KOMJak mensyaratkan untuk mengandalkan semua indera sehingga hasil dan kesan yang didapat begitu hidup dan mendalam. Memposisikan pengupas kerang sebagai “subyek” bukan sebagai “obyek” membuat observasi begitu “memiliki nyawa”. Tidak sekedar mengamati, tapi juga berempati. Pendekatan observasi mampu menggambarkan suatu peristiwa secara deskriptif, hidup dan jujur.  Sebuah pembelajaran berharga yang belum pernah saya temukan sebelumnya.

Jika penyanyi Astrid memiliki sebuah lagu yang berjudul “Tentang Rasa”, saya pun memiliki “Tentang Rasa” versi saya.   Rasa kagum, sedih dan haru  yang mengalir dalam setiap peristiwa yang masih terekam sangat jelas di benak saya, saat mendengarkan kisah perjuangan Bu Maryam si pengupas kerang yang berjuang untuk bertahan hidup dan tetap bersyukur dengan pendapatan sepuluh ribu rupiah sehari. Tentang rasa yang terhenyak  begitu melihat  proses pengupasan kerang yang menggunakan formalin dan pewarna tekstil. Tentang rasa penuh harapan menyaksikan anak bu Maryam yang bernama Juleha punya cita-cita menjadi dokter. Tentang rasa dari aroma khas laut Muara Angke yang sungguh tidak mengenakkan hidung.

Read More

Panggil Aku ‘Bento’

oleh Imelda MRS.

Sumber: http://4.bp.blogspot.com

Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku senang aku menang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi
Asyikkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…

Alunan “Bento” terngiang di kepalaku mengiringi langkahku kala aku berjalan di antara para kuli bangunan pagi ini. Gedung megah nan indah milik salah satu bank swasta itu tak sebanding dengan gambar ireng wajah para kuli bangunan yang menebarkan semerbak aroma matahari. Guratan lelah itu terukir jelas saat mereka turun dari truk pengangkat pasir. Membangun gedung megah tanpa helm, sepatu boot dan tali pengikat badan. Keselamatan mereka pun terancam. Tak seharusnya mereka diperlakukan demikian.  Mereka adalah manusia, tidak  seharusnya diperlakukan layaknya mesin yang berproduksi tiada henti tanpa penghargaan yang berarti. Jaminan sosial tenaga kerja tidak mereka dapatkan. Kebijakan tenaga kerja tidak melirik mereka. Bantuan pemerintah bagi Warga Miskin memang ada, tapi tidak semua dari mereka mendapatkannya. “Saya ditolak di Puskesmas padahal saya sudah bawa kartu”, ujar Asep sebagai salah satu Warga Miskin. Kemiskinan struktural di Indonesia bukan tidak mungkin ditaklukkan. Namun, mengupayakannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Read More

POLEMOLOGI MEMELUK PAK SARMAN

Oleh: Monica Jeanne Francoise

Apa gerangan yang sedang dilakukan oleh para dosen dan mahasiswa di universitas?

Apa gerangan yang sedang dibicarakan oleh para wakil rakyat di DPR?

Apa gerangan yang sedang diperdebatkan oleh para pemimpin dunia di PBB?

 

Sumber: www.suaramerdeka.com

Jika pertanyaan rumit ini diajukan kepada Prof. Jan Tinbergen, pakar ekonomi dan pemenang Hadiah Nobel dari Belanda, ia mampu menyediakan jawaban-jawaban yang sederhana. Bagaimana negara-negara Barat harus mempertahankan kemakmuran? Dengan mengurangi jumlah penduduk. Bagaimana masalah pengangguran yang terus saja meningkat harus ditanggulangi? Orang harus mempelajari satu kejuruan yang memang diperlukan. Bagaimana kesenjangan yang semakin lebar di antara negara-negara Barat yang kaya dan negara-negara Selatan yang miskin dapat diperkecil? Menggandakan sampai enam kali bantuan pembangunan.

Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, jawabannya adalah pemikiran polemologi. Polemologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mengkaji bahwa perdamaian dunia dicapai hanya dengan mengandalkan satu kebijakan perdamaian universal yang dikeluarkan oleh lembaga internasional, yakni PBB.

Read More