Orang Muda yang Solider pada Sesama Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 8)

sumber: willya31.files.wordpress.com

Solider punya makna dasar mutual responsibility, tanggungjawab yang serius, dalam relasi kita dengan sesama manusia. Dalam makna itulah solider mewujud dalam sikap-sikap empati, kemampuan memahami dan merasakan kesusahan dan penderitaan orang lain, terutama mereka yang miskin, marginal/terpinggirkan, tertindas oleh kekuasaan, dan menjadi korban ketidakadilan. Dengan demikian, jelaslah bahwa sikap solider berarti sikap ikut bertanggungjawab secara penuh terhadap segala bentuk ketidakberesan sosial, namun sebelum sikap tersebut memunculkan energi pada diri kita untuk berbuat sesuatu merintis perubahan, sikap solider itu menggerakkan bela rasa terhadap kondisi korban.

Dengan memiliki sikap solider pada sesama, seorang KOMJaker memiliki salah satu modal utamanya untuk memimpin berbagai upaya yang mungkin dan perlu dilakukan untuk mentransformasi keadaan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, tanpa solidaritas yang sungguh-sungguh pada sesama, perubahan yang dirintisnya rentan dicemari pelbagai kepentingan politik dan ekonomi, bahkan bukan tidak mungkin ia terjerumus dalam perjuangan perubahan sosial yang bermuara ke dalam perebutan kekuasaan belaka.

Solidaritas tentu tidak harus dipahami dari hal-hal besar. Keberpihakan pada sesama yang menderita dan menjadi korban ketidakadilan justru mulai dari yang kita lihat dan temui sehari-hari: para pekerja rumah tangga (sudahkah mereka mendapat penghidupan layak?), para pedagang kecil (bagaimana mereka memperoleh peluang bekerja halal di tempat yang memadai?), para buruh (bagaimana mereka mendapatkan imbal jasa manusiawi dan diperhitungkan sebagai manusia, bukan alat produksi?), dsb. Solidaritas justru muncul dari persentuhan kita dengan kehidupan mereka yang miskin, kecil, lemah, terpinggirkan itu, menjalar dari pemandangan yang kita lihat tentang kesulitan hidup mereka, melalui bau yang kita cium yang berasal dari tempat hidup mereka sehari-hari, dari tetes-tetes peluh yang dikeluarkan tubuh mereka akibat kerja keras yang harus mereka jalani, atau dari kisah penderitaan mereka menanggung hidup yang serba tak pasti dan semakin terhimpit kesulitan.

Jika pada saat-saat kita bersentuhan dengan itu semua muncul perasaan belas kasihan dan pemberontakan dalam diri kita, itulah tanda-tanda munculnya solidaritas. Namun jika kita mulai menganggapnya sebagai peristiwa yang biasa terjadi dalam sistem persaingan dunia modern, itu tanda-tanda kita sudah bergabung dalam barisan kaum mapan yang tak peka atau peduli pada penderitaan sesama, dan tinggal selangkah lagi kita berubah menjadi penindas.

 

Orang Muda yang Berjiwa Kepemimpinan Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 7)

sumber:ayip7miftah.files.wordpress.com

Kepemimpinan adalah salah satu aspek hidup yang paling dibutuhkan manusia dalam pelbagai konteks. Hidup dalam keluarga, komunitas sosial maupun keagamaan/keyakinan, organisasi, lembaga atau perusahaan, di tengah masyarakat, maupun dalam lingkup tata negara dan hubungan internasional, semua membutuhkan kepemimpinan. Lantas, apa sih kepemimpinan itu? Dan, apa pentingnya ia diolah dalam pembelajaran KOMJak?

Kepemimpinan pada hakikatnya adalah integritas (kesatuan akal budi, hati nurani dan perilaku/tindakan) yang mampu mengendalikan diri kita sendiri maupun mempengaruhi orang-orang lain di sekitar kita untuk berpikir, mengambil sikap dan bertindak untuk tujuan tertentu. Dengan secara tegas mengabaikan konteksnya yang negatif, kepemimpinan yang diolah dalam pembelajaran KOMJak ditujukan untuk menggerakkan proses transformatif (perubahan kondisi yang semakin baik) dalam pelbagai tingkat kehidupan sosial, sejak relasi antar-personal, keluarga dan komunitas terdekat, hingga hidup berbangsa/bermasyarakat secara luas. Read More

Gunung Kendeng… Lestari.. Lestari..Lestari!

oleh Kristina Viri

“Impian satu orang tak lebih dari sekadar khayalan, impian bersama banyak orang adalah awal pembaharuan dunia (Don Helder Camara, Uskup Agung Olinda dan Recife, Brazil).”

Bisa jadi warga Pegunungan Kendeng tak mengenal Don Helder Camara, namun semangat Camara terungkap pada Salam Kendeng…Lestari! Salam ini diucapkan dengan semangat oleh peserta perayaan kemenangan, dua tahun mundurnya Pabrik Semen Gresik, pada 16 Mei 2011, di Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Salam yang mengungkapkan impian bersama banyak orang ini, menyiratkan pesan pelestarian terhadap kawasan Pegunungan Kendeng yang lima tahun terahir ini menjadi incaran investor sebagai lokasi penambangan bahan baku semen.

photo: antaranews.com

Acara ini diisi dengan refleksi terhadap kekayaan alam yang dimiliki kawasan pegunungan Kendeng. Misalnya, puluhan mata air sebagai sumber pengairan sawah, serta pemenuhan kebutuhan air sehari-hari. Selain itu terdapat ratusan tumbuh-tumbuhan yang memiliki berbagai manfaat, dari tanaman pangan, obat-obatan, serta tumbuh-tubuhan yang berfungsi menyerap air (hasil pendataan ibu-ibu Simbar Wareh-adalah nama kelompok perempuan yang berupaya melestarikan gunung kendeng, diambil dari kata Simbar dan Wareh yang merupakan nama mata air di kawasan pegunungan ini-, tanggal 14 Mei 2011). Gunung Kendeng selama ini menjadi tumpuan hidup warga Kecamatan Kayen dan Sukolilo, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.

Read More

Tak Ada Satu Tempat pun yang Aman dari Teror

oleh Daniel Awigra

Sejumlah aksi teror di Indonesia, sejauh dapat diungkap oleh Kepolisian Republik Indonesia memiliki target utama mendirikan Negara Islam Indonesia. Mereka menggunakan aksi teror untuk mempercepat pendirian Negara Islam. Selagi target operasi mereka belum tercapai, dan mereka masih menghalalkan cara-cara kekerasan, selama itu pula bahaya terorisme akan selalu ada di negeri ini. Meski demikian, sangat disayangkan, polisi tidak pernah bisa mengungkap secara tuntas apa sejatinya target operasi terorisme di Indonesia selain mendirikan Negara Islam.
Apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan terorisme di tanah air? Tentu saja hal ini tidak mudah. Selain ada persoalan perjuangan ideologis di antara para pelaku teror, persoalan lemahnya ekonomi Indonesia, tarik-menarik kepentingan sosial politik dan ekonomi global akan terus membuat pasang-surut persoalan terorisme.

photo: matanews.com

Bom bunuh diri meledak di dalam masjid saat shalat Jumat baru saja dimulai di masjid Al-Dzikro, Kompleks Mapolresta Cirebon, Jawa Barat. Sampai tulisan ini dibuat, sejumlah pihak meyakini pelaku bom bunuh diri pada Jumat (15/4) yang melukai 28 orang tersebut adalah Muchamad Syarif (32), warga Astanagarib, Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon. Tentu, publik tanah air baru saja dikejutkan dengan kejadian pengiriman sejumlah bom buku dan polisi belum bisa mengungkap siapa pelaku lapangan dan aktor intelektual di baliknya. Belum juga publik mendapatkan hasil kinerja polisi terkait bom buku, hari-hari ini dunia dikejutkan dengan penangkapan Umar Patek oleh militer Pakistan.

Read More

Orang Muda yang Kreatif Secara Luas: Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 6)

oleh Felix Iwan Wijayanto

Kreativitas mungkin bukan barang sulit untuk ditemukan dalam diri orang muda pada umumnya. Asumsi ini terutama mencakup kreativitas dalam kaitannya dengan seni. Namun, kreativitas yang dimaksud dalam kualifikasi keenam KOMJaker ini berlingkup lebih luas daripada sekadar kreativitas seni, melainkan kemampuan membangun/merintis pembaruan dan akhirnya menemukan/menciptakan kebaruan dalam segala dimensi kehidupan, entah secara kognitif (cara berpikir), afektif (cara mengolah rasa) maupun konatif (cara bersikap, berperilaku dan mengekspresikan diri). Mengapa kreativitas seluas itu sangat penting dikuasai oleh seorang KOMJaker?

 

photo: nikkijohn.com

Karena program KOMJak didedikasikan bagi sejumlah orang muda Katolik yang ingin mengembangkan dirinya secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif/intelektualnya, afektif/olah rasanya, hingga konatif/sikap, perilaku, dan keterampilan hidupnya. Nah, dalam proses pengembangan diri secara komprehensif itu setiap KOMJaker akan menghadapi situasi-situasi “lama” yang butuh disegarkan dan dibarui, entah ad intra di dalam dirinya sendiri, maupun ad extra, di lingkungan sekitarnya.

Read More