Tua Renta yang Berkeringat

oleh: Robert Sutanto

Dinginnya malam dan rintik-rintik air hujan saat itu tidak membuat Arek patah semangat untuk menarik gerobaknya. Pria berusia 46 tahun ini seorang buruh angkut di pasar cengkareng. Selain tenaga yang ia punya, gerobak merupakan senjata utama dalam mencari nafkah,” layaknya tentara yang hanya mempunyai satu senjata dalam berperang”.

foto: mastein.wordpress.com

Read More

Ketika Pendapatan Bertarung dengan Pengeluaran

oleh: Cindy Lai

Ketika matahari mulai menyusup masuk ke peraduannya, aku menyusuri sebuah perumahan buruh di daerah Tangerang. Aku berhenti di sebuah warung kecil berukuran 2×2 meter yang sebenarnya adalah beranda si empunya rumah, untuk membeli minuman dan bertanya-tanya. Kala itu, Daryo (30) masih sibuk melayani pembeli yang keluar masuk warungnya. “Istri saya sedang menemani anak saya di rumah sakit, jadi saya yang harus menjaga warung, hari ini pun saya terpaksa tidak masuk kerja”, ungkap Daryo.

Ternyata hari itu anak keduanya yang masih berumur 3 bulan dibawa ke Rumah Sakit QODR (Karawaci) karena terkena infeksi paru-paru. Daryo yang biasanya bekerja sebagai buruh pabrik, terpaksa membolos dari pagi demi mengantar anaknya.

Pria ramah ini kemudian menceritakan mengenai uang yang harus ia keluarkan untuk biaya rumah sakit anaknya tersebut. “Perusahaan sebenarnya mengganti biaya kesehatan untuk keluarga, tetapi hanya 80% saja. Saya sih maunya anak saya bisa cepat keluar dari rumah sakit, karena biayanya cukup mahal, mbak. Tapi, kalau kata dokter belum bisa keluar, ya apa boleh buat”, katanya.

Untuk kebutuhan sehari-hari Daryo benar-benar hanya mengandalkan gajinya dari bekerja sebagai buruh pabrik Yuasa. Warung yang menumpang di beranda rumahnya sebenarnya hanya sebagai sampingan, selain juga menjadi sebuah kegiatan yang positif bagi istrinya.

Lelaki berperawakan tinggi ini menanggung biaya hidup istri dan kedua anaknya serta orang tuanya yang tinggal di Purbolinggo, daerah asal Daryo. Dengan gaji Rp 2,000,000/bulan, ia merasa nilai itu masih belum cukup untuk menghidupi keluarganya, karena kadang ada saja kebutuhan-kebutuhan tambahan, seperti biaya rumah sakit anaknya yang masuk dalam biaya tambahan dan tak terduga.

Ketika ditanya apa yang menjadi keinginannya saat ini, Daryo menjawab, “Saya ingin menyekolahkan Nisa (anaknya yang pertama) ke sekolah yang bagus, tahun ini Nisa akan masuk SD, tapi ya keperluan yang lain kan banyak juga, jadi saya harus pilih-pilih”.

Dalam realita, ia harus memilih antara apa yang menjadi keinginannya dengan kebutuhan yang lebih diperlukan oleh keluarganya. Sebagai seorang ayah dan kepala rumah tangga, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya, sekalipun jalan yang dihadapi kehidupannya terlihat sulit.

“Walaupun kami hidup hanya sederhana saja, tetapi saya selalu senang. Yang penting untuk saya adalah istri dan anak-anak saya dapat hidup cukup”, kata Daryo.

Dengan kemampuan yang terbatas, Daryo berusaha mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Ia tidak mengeluh ataupun menyerah dengan tekanan hidupnya. Masih banyak keinginan dan harapannya dalam hidup, terutama untuk keluarganya. Akankah Daryo menggapai cita-citanya di masa yang akan datang?

kisah ini diambil dari pengalaman observasi di Modul Sosio-Ekonomi

Pembelajaran Ala Ujian Nasional

oleh: Sarma Manurung

Dengan langkah berat, seorang siswa sebuah sekolah di Lampung berangkat menuju sekolah. Di tas sekolahnya yang berat terdapat buku Kimia, Fisika, Matematika, Bahasa Inggris, Biologi dan Bahasa Indonesia. Isi tas itu tidak pernah lagi digantinya karena setiap hari sejak bulan Maret hanya itulah pelajaran yang diajarkan di sekolah. Sekolah dimulai pukul 07.00 dan akan berakhir pada pukul 15.00. Setelah pulang sekolah, dia akan diberi waktu istirahat untuk menyegarkan otaknya sebelum melanjutkan pelajaran tambahan pada pukul 15.30 hingga 17.00. Sepulang sekolah dia akan melakukan ritual sehari-hari, mulai dari mandi hingga sholat untuk memohon ketenangan pada yang kuasa dalam menghadapi ujian yang akan segera dihadapinya. Malam harinya, akan ditutupnya dengan ritual terakhir : mengerjakan tugas-tugas yang diberikan gurunya. Sungguh melelahkan. Apa yang membuat siswa ini harus melewati hari yang melelahkan ? Mengapa dia harus melakukan itu ? Dan siapa orang yang menyebabkan rasa lelah itu ?. Tampaknya siswa ini tidak mau tahu.

Read More

Menggali Informasi dari Penghayat Kepercayaan Adat Musi

oleh: Cynthia Ruslan

Sekilas mengenai Kepercayaan Adat Musi

foto: www.anbti.org

Bapak Arnold Panahal menganut kepercayaan Adat Musi, dimana Adat disini diartikan sebagai ‘Allah dalam tubuh’. Kepercayaan ini berada di Desa Musi, Kec. Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Awal keberadaan kepercayaan ini adalah dari kelahiran seorang bayi bernama Bawangin pada 7 Juni 1840. Saat ia berusia 8 tahun, ia menderita sakit yang sangat hebat selama 1 tahun. Keluarganya sudah hampir putus asa. Namun ketika itu pula Malaikat Tuhan turun dan mengatakan bahwa mereka tidak boleh putus asa, tetaplah berpegang pada kehendak Tuhan dan terus berdoa di Bukit Duanne karena di situlah janji Tuhan akan digenapi.

Read More

Kilas Sejarah Pembantaian Etnis Tionghoa 1740

oleh: Hiyashinta Klise

Oleh sebagian besar masyarakat, daerah kota tua memang tak lebih dari sekedar daerah yang bernuansa oldies. Suasananya yang mampu membangkitkan kenangan akan tahun-tahun silam membuatnya tak sepi pengungjung. Ada yang mengatakan klasik, ada yang mengatakan romantis, ada pula yang mengatakan angker. Betapa tidak, mengingat pada jaman penjajahan Belanda, VOC pernah membantai ribuan etnis Tionghoa di Batavia.

Namun kini kisah itu telah terlupakan. Tenggelam oleh romantisme foto-foto pre-wedding yang diambil di sana. Kalah oleh maraknya ABG labil yang berpacaran yang tidak mengindahkan nilai sejarah dari kota tua.

Ingin tahu mengenai kisah pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC pada tahun 1740? Silakan simak film dokumenter berdurasi 7 menit ini. Hiyashinta Klise telah membuatnya untuk kita semua.

Media, Pendidikan dan Multikulturalisme

oleh Hilda Karuniawan

Permasalahan multikulturalisme masih mengancam negri ini. Terbukti, sepuluh tahun terakhir ini masih ada saja peristiwa-peristiwa yang berakhir tragis, melanda sejumlah daerah di Indonesia terkait dengan perbedaan agama, suku atau etnis. Adanya keberagaman di negri ini berpotensi sebagai pemicu konflik yang mengarah pada kekerasan, penyerangan, perusakan, pembakaran, penganiayaan, penangkapan, dan intimidasi. Beberapa contoh yang masih terekam dalam memori otak kita: tragedi Poso, Sampit, Mei 1998; penutupan dan pembakaran rumah-rumah ibadah; Tragedi Monas; dan sejumlah perselisihan lain yang mengatasnamakan keberagaman.

Read More