Kilas Sejarah Pembantaian Etnis Tionghoa 1740

oleh: Hiyashinta Klise

Oleh sebagian besar masyarakat, daerah kota tua memang tak lebih dari sekedar daerah yang bernuansa oldies. Suasananya yang mampu membangkitkan kenangan akan tahun-tahun silam membuatnya tak sepi pengungjung. Ada yang mengatakan klasik, ada yang mengatakan romantis, ada pula yang mengatakan angker. Betapa tidak, mengingat pada jaman penjajahan Belanda, VOC pernah membantai ribuan etnis Tionghoa di Batavia.

Namun kini kisah itu telah terlupakan. Tenggelam oleh romantisme foto-foto pre-wedding yang diambil di sana. Kalah oleh maraknya ABG labil yang berpacaran yang tidak mengindahkan nilai sejarah dari kota tua.

Ingin tahu mengenai kisah pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC pada tahun 1740? Silakan simak film dokumenter berdurasi 7 menit ini. Hiyashinta Klise telah membuatnya untuk kita semua.

Media, Pendidikan dan Multikulturalisme

oleh Hilda Karuniawan

Permasalahan multikulturalisme masih mengancam negri ini. Terbukti, sepuluh tahun terakhir ini masih ada saja peristiwa-peristiwa yang berakhir tragis, melanda sejumlah daerah di Indonesia terkait dengan perbedaan agama, suku atau etnis. Adanya keberagaman di negri ini berpotensi sebagai pemicu konflik yang mengarah pada kekerasan, penyerangan, perusakan, pembakaran, penganiayaan, penangkapan, dan intimidasi. Beberapa contoh yang masih terekam dalam memori otak kita: tragedi Poso, Sampit, Mei 1998; penutupan dan pembakaran rumah-rumah ibadah; Tragedi Monas; dan sejumlah perselisihan lain yang mengatasnamakan keberagaman.

Read More

Mahasiswa Boneka

oleh Jefri Gabriel

photo: blog.nationmultimedia.com

“Hanya generasi muda yang bisa merubah bangsa ini“

Mari kita mulai membaca karangan ini dengan menghitung jumlah mahasiswa. Kemudian kita hitung jumlah orang miskin di Indonesia. Katakanlah separuh dari 200 juta penduduk Indonesia adalah miskin. Artinya, ada sekitar seratus juta jiwa orang miskin di republik ini. Kalau misalnya jumlah mahasiswa di Indonesia hanya sepuluh persen dari 200 juta, maka kurang lebih bisa dibuat sebuah perbandingan: seorang mahasiswa berbanding lima puluh orang miskin.
Seperti kita ketahui bersama, persoalan kemiskinan bukan hal baru. Persoalan ini bahkan sudah menjadi persoalan yang tak kunjung selesai sampai saat ini. Bicara soal kemiskinan, tentu tidak akan ada ujungnya. Maka dari itu, mari persempit makna kemiskinan yang mau dibicarakan di sini. Kemiskinan yang dimaksud di sini adalah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup disertai kualitas hidup yang datar dan cenderung menurun. Berhubung sifat miskin terentang dalam ruang dan waktu yang cukup panjang, mari kita fokuskan era kemiskinan pada era reformasi.

Seorang presiden di republik ini, yaitu Soekarno, pernah menyerukan kepada warganya agar tidak sekali-kali melupakan sejarah. Tanpa sejarah manusia tidak akan pernah belajar dari kesalahan. Walau sudah dipersempit, tetapi mari sedikit mengulas sejarah kemiskinan di Indonesia, sekurang-kurangnya dari era penjajahan Belanda.

Read More

Love at the First Sight

oleh: Hiyashinta Klise

Bahu kiriku memanggul Salib, tangan kananku memegang Alkitab, sementara Romo meletakkan kedua tangannya di atas kepalaku.

Inilah berkat yang kuterima di malam terakhir retret orientasi program pengembangan diri komprehensif bernama KOMJak. Kampus Orang Muda Jakarta. Menurut Romo Johannes Haryanto, penanggung jawab KOMJak, retret ini diadakan sebagai persiapan sebelum memulai proses.

Read More