<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://komjakarta.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komjakarta.org</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 10:58:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>KOMJak</title>
		<link>http://komjakarta.org/komjak.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/komjak.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 10:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Testimoni]]></category>

		<category><![CDATA[film]]></category>

		<category><![CDATA[hanni]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[kampus]]></category>

		<category><![CDATA[katolik]]></category>

		<category><![CDATA[KOMJak]]></category>

		<category><![CDATA[orang muda]]></category>

		<category><![CDATA[stevi]]></category>

		<category><![CDATA[viri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Semalam suntuk Production (Viri, Hanni, Stevi)

Video ini adalah cuplikan dari refleksi pengalaman menjadi peserta angkatan I KOMJak selama 1 tahun. Video ini didedikasikan sebagai rasa terima kasih peserta kepada seluruh warga Keuskupan Agung Jakarta, Romo Hariyanto, SJ, dan para fasilitator
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Semalam suntuk Production (Viri, Hanni, Stevi)</p>
<p><object width="640" height="385"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/yRda7xiKefY&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/yRda7xiKefY&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="640" height="385"></embed></object></p>
<p>Video ini adalah cuplikan dari refleksi pengalaman menjadi peserta angkatan I KOMJak selama 1 tahun. Video ini didedikasikan sebagai rasa terima kasih peserta kepada seluruh warga Keuskupan Agung Jakarta, Romo Hariyanto, SJ, dan para fasilitator</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/komjak.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kilas Sejarah - Tragedi Berdarah 1740</title>
		<link>http://komjakarta.org/kilas-sejarah-tragedi-berdarah-1740.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/kilas-sejarah-tragedi-berdarah-1740.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 07:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[film dokumenter]]></category>

		<category><![CDATA[pembantaian]]></category>

		<category><![CDATA[tionghoa]]></category>

		<category><![CDATA[VOC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Hiyashinta Klise

Oleh sebagian besar masyarakat, daerah kota tua memang tak lebih dari sekedar daerah yang bernuansa oldies. Suasananya yang mampu membangkitkan kenangan akan tahun-tahun silam membuatnya tak sepi pengungjung. Ada yang mengatakan klasik, ada yang mengatakan romantis, ada pula yang mengatakan angker. Betapa tidak, mengingat pada jaman penjajahan Belanda, VOC pernah membantai ribuan etnis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Hiyashinta Klise</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="405" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/5lVBLy2bt04&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;color1=0x3a3a3a&amp;color2=0x999999&amp;border=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="405" src="http://www.youtube.com/v/5lVBLy2bt04&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;color1=0x3a3a3a&amp;color2=0x999999&amp;border=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p style="text-align: left;">Oleh sebagian besar masyarakat, daerah kota tua memang tak lebih dari sekedar daerah yang bernuansa <em>oldies</em>. Suasananya yang mampu membangkitkan kenangan akan tahun-tahun silam membuatnya tak sepi pengungjung. Ada yang mengatakan klasik, ada yang mengatakan romantis, ada pula yang mengatakan angker. Betapa tidak, mengingat pada jaman penjajahan Belanda, VOC pernah membantai ribuan etnis Tionghoa di Batavia.</p>
<p style="text-align: left;">Namun kini kisah itu telah terlupakan. Tenggelam oleh romantisme foto-foto pre-wedding yang diambil di sana. Kalah oleh maraknya ABG labil yang berpacaran yang tidak mengindahkan nilai sejarah dari kota tua.</p>
<p style="text-align: left;">Ingin tahu mengenai kisah pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC pada tahun 1740? Silakan simak film dokumenter berdurasi 7 menit ini. Hiyashinta Klise telah membuatnya untuk kita semua. (PRK)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/kilas-sejarah-tragedi-berdarah-1740.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Muda yang Kreatif Secara Luas</title>
		<link>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-kreatif-secara-luas.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-kreatif-secara-luas.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 17:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=788</guid>
		<description><![CDATA[Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 6)
Oleh: Felix Iwan Wijayanto
Tak akan sulit menemukan kreativitas dalam diri orang muda pada umumnya. Asumsi ini terutama untuk kreativitas dalam kaitannya dengan seni. Namun, kreativitas yang dimaksud dalam kualifikasi keenam KOMJaker ini berlingkup lebih luas daripada sekadar kreativitas seni, melainkan kemampuan membangun/merintis pembaruan dan akhirnya menemukan/menciptakan kebaruan dalam segala dimensi kehidupan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 6)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Felix Iwan Wijayanto</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/kreativitas_luas.jpg"><img class="size-medium wp-image-789 alignleft" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="kreativitas_luas" src="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/kreativitas_luas.jpg" alt="" width="150" height="200" /></a>Tak akan sulit menemukan kreativitas dalam diri orang muda pada umumnya. Asumsi ini terutama untuk kreativitas dalam kaitannya dengan seni. Namun, kreativitas yang dimaksud dalam kualifikasi keenam KOMJaker ini berlingkup lebih luas daripada sekadar kreativitas seni, melainkan kemampuan membangun/merintis pembaruan dan akhirnya menemukan/menciptakan kebaruan dalam segala dimensi kehidupan, entah secara kognitif (cara berpikir), afektif (cara mengolah rasa) maupun konatif (cara bersikap, berperilaku dan mengekspresikan diri). Mengapa kreativitas seluas itu sangat penting dikuasai oleh seorang KOMJaker?</p>
<p style="text-align: left;">Program KOMJak didedikasikan bagi sejumlah orang muda Katolik yang ingin mengembangkan dirinya secara komprehensif. <span id="more-788"></span>Komprehensitas itu berlaku baik dalam aspek kognitif/intelektualnya, afektif/olah rasanya, maupun konatif/sikap, perilaku, dan keterampilan hidupnya. Nah, dalam proses pengembangan diri secara komprehensif itu setiap KOMJaker akan menghadapi situasi-situasi “lama” yang butuh disegarkan dan dibarui, entah <em>ad intra</em> di dalam dirinya sendiri, maupun <em>ad extra</em>, di lingkungan sekitarnya.</p>
<p style="text-align: left;">Kreativitas berarti kapasitas membarui situasi yang bermodal keberanian menembus batas-batas atau sekat-sekat. Lantas, perwujudan/aktualisasi keberanian menembus batas itu hendaknya melahirkan ide-ide, olah batin dan perilaku yang baru, yang lebih baik, yang memberdayakan, dan mencerminkan misteri inkarnasi Allah dalam daging manusia Yesus  sendiri untuk membarui kehidupan manusia dan menyegarkan relasi manusia dengan Allahnya.</p>
<p style="text-align: left;">Kreativitas dalam arti luas ditunjukkan oleh kondisi-kondisi yang serba bersifat baru. Cara berpikir lama selalu dibuka untuk hadirnya kritik dan kemudian lahirlah cara berpikir baru yang lebih terbuka (<em>open mind</em>) dan kritis. Cara mengolah batin yang lama harus dikembangkan untuk semakin peka pada panggilan Allah dan sensitif pada ketidakberesan. Cara bertindak lama harus dibarui agar lebih konstruktif dan memberdayakan.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, kreativitas yang luas dalam diri seorang KOMJaker tampak dari banyak gejala, misalnya kemampuan menemukan atau menciptakan, mengungkapkan, dan memanfaatkan ide-ide baru, cara memahami dan mendekati persoalan yang mampu mempertimbangkan lebih banyak aspek, serta cara menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan alternatif-alternatif solusi (tidak mentok di solusi tunggal). Kaya alternatif menjadi salah satu kunci kreativitas ini.</p>
<p style="text-align: left;">Namun, kebaruan akibat daya kreatif musti terikat dengan arah-tujuan yang jelas. Kreatif mungkin bersifat liar, tapi liar yang bertujuan. Demikian pula orang muda, dan tak terkecuali KOMJaker, perlu mengembangkan sifat-sifat liarnya, namun liar yang mengarahkan peziarahan hidupnya pada tujuan-tujuan tertentu hingga sampai pada tujuan manusia diciptakan, yakni untuk memuji dan memuliakan Allah melalui segala ekspresi arti/makna hidupnya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-kreatif-secara-luas.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Muda yang Andal Berjejaring</title>
		<link>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-andal-berjejaring.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-andal-berjejaring.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 16:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 5)
Oleh: Felix Iwan Wijayanto
Saat seorang KOMJaker memiliki mimpi/cita-cita besar tentang dirinya sendiri, Gereja dan masyarakat, pada sisi lain ia menyadari bahwa dirinya serba terbatas: wawasannya, kemampuannya, daya pengaruhnya terhadap dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Di saat itulah ia membutuhkan bantuan dari pihak lain dan kerjasama dengan pihak lain. Dalam posisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 5)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Felix Iwan Wijayanto</p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/tangan2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-796" style="margin: 3px 10px;" title="tangan2" src="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/tangan2-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Saat seorang KOMJaker memiliki mimpi/cita-cita besar tentang dirinya sendiri, Gereja dan masyarakat, pada sisi lain ia menyadari bahwa dirinya serba terbatas: wawasannya, kemampuannya, daya pengaruhnya terhadap dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Di saat itulah ia membutuhkan bantuan dari pihak lain dan kerjasama dengan pihak lain. Dalam posisi itulah jejaring mutlak dibutuhkan.</p>
<p>Jejaring berarti hubungan-hubungan relasional antar pribadi dan antarkelompok, antarlembaga, bahkan antara pribadi dengan kelompok dan lembaga. <span id="more-781"></span>Dalam hubungan-hubungan itu terjadi proses perjumpaan dan perkenalan yang semakin dekat satu sama lain, hingga pada gilirannya memunculkan peluang-peluang kerjasama yang saling mendukung, entah secara langsung maupun tak langsung.</p>
<p>Keandalan seorang KOMJaker dalam berjejaring ditunjukkan pertama-tama dengan dimilikinya data kontak (nama, nomor kontak, alamat surat pos/surat elektronik) orang-orang, kelompok dan lembaga yang dikenalnya dari berbagai kesempatan pertemuan atau forum. Namun tentu saja kelengkapan data tidak cukup. Data kontak jejaring itu menjadi modal sangat berarti jika sungguh-sungguh dimanfaatkan.</p>
<p>Memang kadang-kadang melakukan kerjasama dalam jejaring harus menunggu momentum yang tepat, di saat mana ada perjumpaan kebutuhan atau kepentingan yang sama, misalnya perlu menyelenggarakan kegiatan tertentu bersama atau sekadar bertukar informasi. Namun ketrampilan berjejaring harus dikembangkan justru dengan mempertahankan intensitas komunikasi meski tidak sedang dalam momentum kerja bersama. Dalam hal ini, ketekunan menjalin komunikasi menjadi kuncinya.</p>
<p>Keandalan bekerjasama dalam jejaring juga ditunjukkan dengan kecepatan mendapatkan respon dari jejaring tersebut untuk apa saja yang kita butuhkan atau –sebaliknya—ingin sumbangkan dalam kerjasama. Misalnya, di saat kita membutuhkan informasi faktual yang tidak terfasilitasi oleh <em>Google</em>, <em>Wikipedia</em> atau media <em>online</em> apa pun, kita mampu mencarinya dari sumber informasi dalam jejaring secara cepat, karena direspon secara cepat pula, dan dari situ kita mendapatkan informasi yang kita butuhkan secara akurat.</p>
<p>Namun, rasa-rasanya tidak ada tolok ukur keandalan berjejaring yang lebih kuat dibandingkan kemampuan mendapatkan dan (sebaliknya) memberi dukungan antar anggota jejaring di saat-saat darurat dan berisiko, yang mendesak sekaligus penting, bahkan menyangkut keselamatan diri atau banyak orang. Dalam hal ini, kasus-kasus komunikasi, koordinasi dan kerjasama jejaring untuk penanggulangan bencana atau saat terjadi tindak kekerasan yang berdampak luas (misalnya kerusuhan) bisa menjadi ilustrasi. Di saat-saat seperti itulah kita ditantang untuk membuktikan apakah kita hanya bisa melibati masalah itu sendirian, atau kita bisa melibatinya secara berjejaring.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-andal-berjejaring.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Muda yang Survive</title>
		<link>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-survive.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-survive.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 07:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=767</guid>
		<description><![CDATA[Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 4)
Oleh: Felix Iwan Wijayanto
Kualifikasi keempat KOMJaker ini mungkin memicu kontroversi. Betapa tidak? “Survival” mungkin lebih dikenal sebagai daya naluriah (instinctive) binatang dan tumbuhan untuk bertahan hidup, sehingga tak layak dipinjam sebagai istilah penjelas situasi manusia, termasuk orang muda dan KOMJaker. Namun, untuk sementara istilah “survival” dipinjam dalam maknanya yang berlaku untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 4)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Felix Iwan Wijayanto</p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/survive1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-769" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="survive1" src="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/survive1.jpg" alt="" width="150" height="125" /></a>Kualifikasi keempat KOMJaker ini mungkin memicu kontroversi. Betapa tidak? “<em>Survival</em>” mungkin lebih dikenal sebagai daya naluriah (<em>instinctive</em>) binatang dan tumbuhan untuk bertahan hidup, sehingga tak layak dipinjam sebagai istilah penjelas situasi manusia, termasuk orang muda dan KOMJaker. Namun, untuk sementara istilah “<em>survival</em>” dipinjam dalam maknanya yang berlaku untuk kapasitas diri manusia dalam mengambil sikap (<em>adjustment</em>) saat menghadapi tantangan berat hidup di tengah masyarakat. <span id="more-767"></span></p>
<p><em>Survival </em>dalam arti mempertahankan kelangsungan hidup dan keberartian/keberadaan sebagai pribadi manusia merupakan kapasitas diri yang sangat penting mengingat semakin beratnya tantangan hidup sosial di tengah masyarakat akibat kompleksitas masalah yang harus dihadapi manusia dalam relasinya dengan sesamanya dan lingkungan sekitarnya.</p>
<p>Sekadar menampilkan ilustrasi agak ekstrim, fenomena bunuh diri yang marak terjadi akhir-akhir ini menunjukkan begitu rapuhnya daya <em>survival </em>pribadi-pribadi tertentu dalam menghadapi masalah hidupnya, yang <em>toh </em>sebenarnya bukan tanpa jalan keluar. Ironinya, masalah-masalah yang dihadapinya tersebut kadang-kadang terkesan terlalu sederhana untuk memunculkan kondisi frustasi sehingga harus ditanggapi dengan mengakhiri hidup. Sementara, dalam sisi lain yang tidak terlalu ekstrim, kita menyaksikan betapa banyak orang –tak terkecuali orang muda—yang begitu mudah jatuh dalam mengambil sikap saat menghadapi masalah-masalah dan situasi tertentu, hingga mengabaikan banyak hal seperti kejernihan rasionalitas, kepekaan mendengarkan hati nurani dan prinsip-prinsip etis dalam pengambilan tindakan. Sekadar contoh, banyak profesional muda ikut korupsi karena gagal melakukan <em>adjustment</em> terhadap arus itu dan sekadar ber-adaptasi (menyesuaikan diri) terhadap lingkungan kerja yang korup.</p>
<p>Dalam konteks itu, KOMJaker ingin dibentuk menjadi pribadi-pribadi orang muda yang mampu melakukan <em>adjustment</em>, meski harus berhadapan dengan risiko tindakan melawan arus, terhadap masalah dan situasi hidup yang menghimpit keberadaannya sebagai manusia dan keberartiannya sebagai murid Yesus, hingga ia mampu <em>survive </em>dalam arus jaman yang semakin menampakkan wajah dehumanisasi (membunuh sendi-sendi kemanusiaan) lebih daripada mengarahkan hidup pada jalan kebenaran Ilahi.</p>
<p>Secara kognitif (olah pikir), kemampuan untuk <em>survive </em>ditampakkan dengan cara berpikir yang realis, idealis dan progresif sekaligus. Artinya, orang muda perlu melihat dengan jelas terjadinya banyak masalah sosial sesuai kenyataannya apa adanya, namun pada saat yang sama selalu memiliki landasan dan kerangka berpikir yang benar (secara etika dan moral) untuk mengambil sikap terhadap persoalan itu dan mampu menindaklanjutinya dengan menemukan ide-ide cerdas untuk menghadapinya sesuai prinsip etika dan moral tersebut.</p>
<p>Sementara secara afektif (olah rasa), kemampuan untuk <em>survive </em>ditunjukkan dengan kestabilan kondisi kejiwaan yang semakin tenang dan matang, tidak mudah terombang-ambing/resah-gelisah, dan mantap saat mengambil keputusan dan selama melakukan tindakan yang benar atas dasar olah pikir dan olah rasanya itu.</p>
<p>Sedangkan secara konatif (olah sikap/perilaku), kemampuan untuk <em>survive </em>diwujudkan dengan sikap dan perilaku yang mantap, tepat, benar, dan bisa dipertanggungjawabkan, hingga pada akhirnya ia mampu memenangkan pergulatannya dalam masalah-masalah atau situasi problematis atas dasar prinsip-prinsip.</p>
<p>Ciri-ciri lain adanya daya <em>survive </em>ini dalam diri seseorang misalnya: tidak mudah bingung menghadapi masalah karena telah memiliki satu atau bahkan lebih kerangka pikir dan cara beranalisis dalam memikirkan, memahami dan memecahkan masalah itu, tidak takut apalagi melarikan diri dari masalah, tidak bergantung pada nasihat atau bantuan orang lain untuk menghadapi atau memecahkan masalahnya sendiri, tidak mudah mengeluh apalagi putus asa, dan selalu menunjukkan ekspresi optimis terhadap hari depan.</p>
<p>Pada akhirnya, seseorang yang punya daya <em>survive </em>pastilah seseorang yang sukses hidupnya. Bukan lantaran dia kaya-raya, menduduki jabatan penting di tengah masyarakat, atau tercukupi (bahkan berlebihan) fasilitas-fasilitas hidupnya, melainkan berhasil mencapai visi atau mimpinya entang makna hidupnya sendiri dan mampu ikut menciptakan situasi terbaik bagi lingkungan di sekitarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-survive.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Reading Materials Sosio-Ekonomi</title>
		<link>http://komjakarta.org/reading-materials-sosio-ekonomi.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/reading-materials-sosio-ekonomi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 06:56:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Material]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Ekonomi Pasar Sosial
Tekanan Kemiskinan Struktural
Ekonomi Pasar Yang Neo-Liberalistik vs Ekonomi Berkeadilan Sosial
Bank Dunia dan Kemiskinan
Akses Keadilan Bagi Masyarakat Miskin
Kemiskinan dan Disparitas Pembangunan
Poverty Traps
Analisa Permasalahan Kemiskinan di Indonesia dalam Perspektif Teori Modernisasi dan Dependensi
Kekalahan Manusia Petani
Kota dan Harta
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/ekonomi_pasar_sosial_-_m_husni_thamrin.pdf">Ekonomi Pasar Sosial</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/tekanan-kemiskinan-struktural.pdf">Tekanan Kemiskinan Struktural</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/ekonomi_pasar_yg_neo-liberalistik_vs_ekonomi_berkeadilan_sosial_-_bonnie_setiawan.pdf">Ekonomi Pasar Yang Neo-Liberalistik vs Ekonomi Berkeadilan Sosial</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/bank-dunia-dan-kemiskinan.doc">Bank Dunia dan Kemiskinan</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/akses-keadilan-bagi-masyarakat-miskin.pdf">Akses Keadilan Bagi Masyarakat Miskin</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/kemiskinan-dan-disparitas-pembangunan.doc">Kemiskinan dan Disparitas Pembangunan</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/poverty-traps.doc">Poverty Traps</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/2-analisa-permasalahan-kemiskinan-di-indonesia-dalam-perspektif-teori-modernisasi-dan-dependensi.doc">Analisa Permasalahan Kemiskinan di Indonesia dalam Perspektif Teori Modernisasi dan Dependensi</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/kekalahan-manusia-petani.doc">Kekalahan Manusia Petani</a></p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/03/kota-dan-harta.pdf">Kota dan Harta</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/reading-materials-sosio-ekonomi.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar di Lokalisasi</title>
		<link>http://komjakarta.org/belajar-di-lokalisasi.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/belajar-di-lokalisasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 11:12:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[mike tangka]]></category>

		<category><![CDATA[orangmuda]]></category>

		<category><![CDATA[pedila]]></category>

		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<category><![CDATA[surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Franky Susanto
Surabaya malam Natal tahun 2004. Tiba-tiba, telepon berdering di rumah Theresia Mike Verawati Tangka. Di ujung telepon terdengar suara seorang perempuan.
Perempuan di ujung telepon itu berkata, “Mbak Mike, saya sudah melihat gereja, tapi tidak masuk. Doain ya mbak, supaya nggak hanya sampai di depan gereja, tapi bisa masuk, seperti yang dibilang Mbak Mike.” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Franky Susanto</p>
<div id="attachment_729" class="wp-caption alignleft" style="width: 150px"><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/mike-tangka-photo-by-lexy-rambadeta.jpg"><img class="size-medium wp-image-729    " title="mike-tangka-photo-by-lexy-rambadeta" src="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/mike-tangka-photo-by-lexy-rambadeta-225x300.jpg" alt="Theresia Mike Verawati" width="140" height="187" /></a><p class="wp-caption-text">Theresia Mike Verawati</p></div>
<p>Surabaya malam Natal tahun 2004. Tiba-tiba, telepon berdering di rumah Theresia Mike Verawati Tangka. Di ujung telepon terdengar suara seorang perempuan.</p>
<p>Perempuan di ujung telepon itu berkata, “Mbak Mike, saya sudah melihat gereja, tapi tidak masuk. Doain ya mbak, supaya nggak hanya sampai di depan gereja, tapi bisa masuk, seperti yang dibilang Mbak Mike.” Mike lantas menjawab, “Kamu di mana? Kalau kamu di gereja malam ini, saya temenin. Kalau pun sudah nggak ada misa, saya temenin kamu sampai masuk.” Tapi, perempuan di ujung telepon itu hanya tertawa dan berkata, “Nanti deh, Mbak. Kapan-kapan saya ceritakan lagi. Ini sudah malam&#8230;” Telepon pun terputus.</p>
<p>Perempuan yang menelpon Mike itu seorang pedila, alias perempuan yang dilacurkan. <span id="more-724"></span>Kepada Mike, pedila yang seorang Katolik itu menceritakan keengganannya beribadat di gereja. “Orang seperti saya apa pantas masuk ke gereja?” ujar Mike menirukannya. Perempuan itu mengaku, menjadi pedila setelah dijual suaminya.</p>
<p>Dengan suara bergetar, Mike yang kini aktif di Divisi Advokasi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) menceritakan kisah ini. Mungkin kita cukup asing dengan istilah ‘pedila’. Istilah itu ia gunakan, untuk tak menyebut mereka dengan ‘pekerja seks komersil’ atau PSK. “Karena, tak ada seorang pun yang rela menjual tubuhnya,” tegas Mike.</p>
<p><strong>Rasa takut</strong><br />
Begitulah Mike. Dunia pedila seolah sudah digariskan menjadi bagian dari hidupnya. Keterlibatan Mike di pendampingan kaum marjinal perempuan, seperti pedila, bermula di tahun 1997. Saat itu, ia mengikuti pelatihan analisis sosial yang diadakan Forum Studi Ansos (FORSAS) di kampusnya, Universitas Surabaya, Jawa Timur.</p>
<p>Awalnya, Mike ditugaskan melakukan pengamatan di Pasar Wonokromo, dan Pasar Keputran, Surabaya. Ia harus tinggal di pasar agar bisa mengamati keseharian para pedagang. Semula, ia dijadwalkan menjalani masa live-in selama satu bulan. Di luar dugaan, salah satu trainer dalam pelatihan, Yanuar Nugroho, memintanya mengobservasi lokalisasi di Wonokromo.</p>
<p>Belum genap sebulan, Mike dipindahtugaskan ke lokalisasi di perlintasan Kereta Api Stasiun Wonokromo, Surabaya. Terlintas di benaknya, berhenti mengikuti pelatihan, karena merasa tak mampu menjalaninya. Ia membayangkan akan bertemu dengan preman yang bisa mengancam keselamatannya. Belum lagi, ia harus mengalami ‘tabrakan’ nilai di dunia yang kerap dianggap ‘kotor’ itu.</p>
<p>Dengan berat hati, masa live-in ia jalani. Ia harus menerima risiko yang tak ringan dan mengiris hati, saat berada di tengah lokalisasi kelas bawah itu. Mulai dari menyaksikan proses transaksi hingga aktivitas prostitusi di bilik-bilik yang kumuh. Bahkan, ia pun sempat ‘ditawar’ beberapa pria. “Saya dikira pedila juga,” kisahnya disertai senyum.</p>
<p>Suatu hari, ia berkeluhkesah pada Pastor Edi Laksito Pr, pastor mahasiswa di Surabaya saat itu. Romo Nanglik, begitu Pastor Edi biasa disapa, berkata pada Mike, “Lebih menyenangkan, jika kita memasuki ketakutan itu, bukan malah menjauhi. Area ketakutan harus didatangi dan dicari. Sebenarnya, apakah benar-benar menakutkan atau hanya pikiran kita yang menakutkan?” Pesan itu terus mengiang di tambur telinga dan hatinya. Mike bertanya dalam hati, benarkah mereka menakutkan seperti yang ada dalam pikiran.</p>
<p>Seorang fasilitator asal Denmark juga terus menantang Mike, “Kenapa hanya begitu saja kamu nggak bisa? Kamu mau jadi orang muda seperti apa?” Sebuah cambukan semangat ia dapatkan lagi. Mike tertantang. Ia pun masuk ke area prostitusi. Di luar dugaan, Mike justru menikmati masa live-in itu. Ia dapat bergaul dengan para preman, waria, juga para pedila. “Ketakutan itu hanya ada pada pikiran,” ujarnya.</p>
<p>Mike bersyukur dapat melihat sisi kehidupan yang berbeda. Ia menemukan banyak pengetahuan yang membuatnya mampu menyatu dengan komunitas yang ia datangi. Terlebih, saat ia makin menyadari, bahwa kaum pedila memang dikondisikan agar tak bisa mengubah jalan hidupnya.</p>
<p><strong>Lapisan bawang</strong><br />
Menurut Mike, ada banyak pihak terlibat di kancah prostitusi di Indonesia. Setelah bertahun-tahun menggeluti dunia ini, ia menyadari, selain mucikari, ada pihak lain, seperti aparat pemerintah mulai tingkat RT, petugas tramtib, keamanan, bahkan suami yang turut menguasai para pedila. “Ibarat lapisan bawang, mereka (para pedila) berada di lapisan paling pucuk. Selama ini kita berpikir bahwa pedila itu dikuasai para mucikari,” gugat Mike yang pada  tahun 1997 pernah diciduk aparat keamanan karena berdemonstrasi anti-Soeharto bersama Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) di depan Gedung Grahadi Surabaya.</p>
<p>Istri Willybrodus Sulistyo Wardhono ini menambahkan, para perempuan itu memilih menjadi pedila, bukan karena senang atau sadar. Tapi, ada banyak aspek yang membuat mereka harus menjadi pedila. Dan sangat disesalkan, pemerintah sepertinya membiarkan prostitusi terus berjalan. “Kebijakan pemerintah selalu bersifat parsial. Ujung-ujungnya malah memarjinalkan pedila, sebagai ‘tersangka’ dalam penyebaran HIV/AIDS,” ungkap Mike yang pernah mengadvokasi para pedila di lokalisasi Dolly dan Kembang Kuning Surabaya.</p>
<p><strong>Tersingkir </strong><br />
Mike pun mengaku pernah merasa tersingkir dari rekan-rekannya di Mudika, saat masih di Surabaya. Beberapa anggota Mudika mempertanyakan pilihan Mike mendampingi pedila. “Ngapain sih kerja kayak gitu? Kan berisiko,” kata Mike menyitir perkataan rekan-rekannya itu.</p>
<p>Mike tak menampik, penyakit menular seksual dapat berasal dari para pedila. Namun, ia juga mempertanyakan pada teman-temannya di Mudika, yang tak pernah menyalahkan orang-orang yang datang pada pedila. Seharusnya, mereka tahu bahwa berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan berisiko tertular HIV/AIDS.</p>
<p>Bahkan, seorang suster di Surabaya pun pernah mempertanyakan pilihannya. Mike yang notabene berlatarbelakang pendidikan psikologi, diminta suster itu memberi konseling bagi anggota Mudika di parokinya. Tapi, Mike menjawab lugas, “Untuk apa saya memberi konseling? Mereka hanya tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tapi, ketika saya melihat orang-orang di luar sana, saya merasa, tak hanya persoalan konseling, tapi pikiran dan keimanan yang harus kita sumbangkan ke mereka. Buat apa memberi konseling pada mudika? Mereka sudah punya guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) di sekolah.” Jawaban yang tegas.</p>
<p>Sebagai seorang Katolik, Mike mengaku menimba inspirasi dari Yesus yang tak melakukan diskriminasi pada profesi yang dijalani umat-Nya. “Ajaran-ajaran Yesus sebenarnya mengandung banyak nilai-nilai hak asasi manusia,” tegas Mike.</p>
<p><strong>Terpisah Jarak </strong><br />
MIKE terbilang beruntung. Lantaran, memiliki pendamping hidup yang dapat memahami aktivitasnya. Saat ini ia dan suaminya, Willybrodus Sulistyo Wardhono, harus terpisah jarak. Sang suami tinggal dan bekerja di Surabaya, sementara ia tinggal di Jakarta. Padatnya aktivitas Mike, membuatnya hanya bisa bertandang ke Surabaya sekali sebulan. Ia dan suami berharap, dapat berkumpul di Jakarta tahun ini.</p>
<p>Mike mengaku, tak hanya mendapatkan pendamping hidup, tapi juga sahabat, partner, dan motivator yang amat setia memberinya masukan yang membangun. Barangkali, hal ini terjadi karena sebelum menggeluti pekerjaannya sekarang, suaminya juga seorang aktivis mahasiswa di Fakultas Teknik Manajemen Industri Universitas Surabaya. “Dulunya kami juga berteman, sama-sama aktif di Forum Studi Analisis Sosial,” kata Mike.</p>
<p><strong>Biodata </strong><br />
Nama                          : Theresia Mike Verawati Tangka<br />
Tempat, tanggal lahir     : Bontang, Kalimatan Timur, 11 Mei 1977<br />
Suami                         : Willybrodus Sulistyo Wardhono<br />
Pendidikan                   :<br />
•	SD-SMA Yayasan Vidya Dahana Patra Bontang<br />
•	Fakultas Psikologi Universitas Surabaya</p>
<p>Pekerjaan                    :<br />
•	Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Surabaya (1999-2002)<br />
•	Laboratorium Psikologi Sosial Universitas Surabaya (2001-2004)<br />
•	Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah Jawa Timur (2004-2006)<br />
•	SENAMATA Research and Development Agencies (2002-2005)<br />
•	Women to Support Multiculturalism/WSM (2005-sampai sekarang)<br />
•	Divisi Advokasi Sekertariat Nasional (Setnas) Koalisi Perempuan Indonesia (2006-sampai sekarang)</p>
<p>Dimuat di rubrik Eksponen Mingguan Hidup Edisi No.8, 22 Februari 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/belajar-di-lokalisasi.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Kalah dari Semut?</title>
		<link>http://komjakarta.org/manusia-kalah-dari-semut.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/manusia-kalah-dari-semut.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[busway]]></category>

		<category><![CDATA[orangmuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=719</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Gracia Emerentiana
Suatu hari sepulang kerja, seperti biasa antrian bus Transjakarta di halte Harmoni ke arah Kalideres penuh sesak. Orang-orang saling dorong untuk dapat masuk ke dalam bus.
Ketika masuk ke dalam busway, tiba-tiba seseorang mendorongku dari belakang hingga aku terjatuh terduduk ke depan. Buku setebal 900 halaman yang kubawa terjatuh dan kemudian terinjak-injak oleh orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Gracia Emerentiana</p>
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/ilustrasi-bus-tj-gracia-istimewa.jpg"><img class="alignleft  size-thumbnail wp-image-720" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="ilustrasi-bus-tj-gracia-istimewa" src="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/ilustrasi-bus-tj-gracia-istimewa-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Suatu hari sepulang kerja, seperti biasa antrian bus Transjakarta di halte Harmoni ke arah Kalideres penuh sesak. Orang-orang saling dorong untuk dapat masuk ke dalam bus.</p>
<p>Ketika masuk ke dalam busway, tiba-tiba seseorang mendorongku dari belakang hingga aku terjatuh terduduk ke depan. Buku setebal 900 halaman yang kubawa terjatuh dan kemudian terinjak-injak oleh orang yang mendorongku itu. Aku tak mengerti, kenapa hanya demi sebuah bangku kosong di bus, seseorang tega mengorbankan bahkan membahayakan keselamatan orang lain. <span id="more-719"></span>Padahal saat itu kanan dan kiriku kosong tidak ada orang dan bangku-bangku di sekelilingku juga masih kosong.</p>
<p>Setelah membuatku terjatuh, bukannya menolong tapi tetap berebut tempat duduk hingga buku tebal yang kubawa menjadi lecet-lecet. Padahal itu buku engineering manual dalam bahasa Inggris milik bos ku. Kenapa hanya demi sebuah bangku kosong, seseorang melupakan dan tak mau peduli dengan orang-orang di sekitarnya?</p>
<p>Saat itu aku membawa sebuah tas berisi laptop dan segala hal yang kugunakan untuk kerja, dan tak lupa buku setebal 900 halaman itu.  Bebanku berat, tubuhku lemas, lapar, sakit kepala, dan tubuhku juga gemetaran karena terlalu lelah. Tapi entah mengapa, tetap ada saja orang yang mendorongku. Apakah ia tak berpikir bahwa beban tubuhku sangatlah berat? Lalu mngapa menambah bebanku dengan mendorong dan membuatku terjatuh?</p>
<p>Ego manusia mengalahkan hati nurani dan jiwa kemanusiaan. Manusia tak lebih baik dari hewan ketika ego mengalahkan segalanya. Itukah yang disebut manusia beradab? Hanya masalah sederhana saja sudah menampakkan keegoisan yang amat sangat. Apakah harga keselamatan seseorang tak sebanding dengan sebuah bangku kosong di bus? Semut lebih baik dari manusia karena semut tahu peraturan dan selalu antri. Semut selalu berbaris rapi dan tak saling egois, semut tak saling sikut dan tak saling berebut hanya demi kepentingan diri sendiri.</p>
<p>Mengapa manusia kalah dari semut? Padahal katanya manusia adalah makhluk paling sempurna yang mempunyai akal budi dan merupakan makhluk paling beradab.</p>
<p>Tapi, kok sama semut aja kalah?????????</p>
<p>Gracia Emerentiana, ST<br />
Pelanggan setia Bus Transjakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/manusia-kalah-dari-semut.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Muda yang Low Profile</title>
		<link>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-low-profile.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-low-profile.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 22:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 3)
Oleh: Felix Iwan Wijayanto

Meski sulit mencari istilah dalam bahasa Indonesia yang sepadan dengan “low profile”, namun sekurangnya makna/arti kualifikasi KOMJaker ketiga ini setara dengan sifat-sifat tidak menonjolkan diri, rendah hati, dan tidak mendominasi relasi dengan sesama di sekitarnya. Sikap ini biasa ditunjukkan oleh mereka yang ingin selalu tampil sebagai orang biasa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 3)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Felix Iwan Wijayanto</p>
<p style="text-align: left;">
<p><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/low_profile_kecil.bmp"><img class="alignleft size-medium wp-image-709" style="margin: 3px 10px;" title="low_profile_kecil" src="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/low_profile_kecil.bmp" alt="" width="150" height="97" /></a>Meski sulit mencari istilah dalam bahasa Indonesia yang sepadan dengan “<em>low profile</em>”, namun sekurangnya makna/arti kualifikasi KOMJaker ketiga ini setara dengan sifat-sifat tidak menonjolkan diri, rendah hati, dan tidak mendominasi relasi dengan sesama di sekitarnya. Sikap ini biasa ditunjukkan oleh mereka yang ingin selalu tampil sebagai orang biasa, meski sesungguhnya memiliki kapasitas unggul di bidang-bidang tertentu.<span id="more-707"></span></p>
<p>Mengapa kualifikasi sikap <em>low profile </em>sangat penting dimiliki oleh seorang KOMJaker? Karena KOMJaker adalah sejumlah orang yang terseleksi/terpilih untuk mengikuti proses pembelajaran pengembangan diri secara khusus dalam KOMJak. Sejak awal kekhususan tersebut ditujukan demi efektivitas proses pembelajaran itu sendiri. Namun, berada dalam kondisi khusus seperti ini sering menggoda orang untuk merasa istimewa dan diistimewakan, lalu pada gilirannya menggodanya pula untuk merasa lebih istimewa, lebih baik, lebih unggul dibandingkan orang lain. Pendek kata: itulah godaan untuk <em>high profile</em>.</p>
<p>Andai perasaan-perasaan serba lebih itu disimpannya sendiri dalam hati, tentu tidak akan menjadi masalah. Apalagi, perasaan-perasaanserba lebih itu segera direfleksikannya untuk memperoleh makna yang lebih dalam: apa maksud Allah mengaruniakan kelebihan-kelebihan ini kepadaku?</p>
<p>Namun persoalan sering muncul manakala perasaan-perasaan serba lebih itu mendorong munculnya sikap-sikap sombong, keinginan memegahkan diri, sehingga menghambat keterbukaan pikiran (<em>open mind</em>), merasa dirinya paling benar/hebat/baik, mengabaikan peran orang lain dalam perkembangan hidupnya, atau bahkan melupakan campur tangan Allah atas perkembangan hidupnya itu. Pada titik itulah ia jatuh terjebak dalam tipuan psikologis yang akan menguburkan peluang-peluang perkembangan dirinya sendiri lebih lanjut, dan merusak relasi sosialnya dengan sesama, bahkan merusak relasi pribadinya dengan Allah sendiri.</p>
<p>Maka, kualifikasi <em>low profile </em>pada diri seorang KOMJaker lebih daripada sekadar hal yang membedakannya dengan kader-kader muda lain –entah yang Katolik atau berlatarbelakang apa pun—yang mungkin mengalami saat semakin dikader merasa <em>high profile</em>. Tidak! <em>Low profile</em>-nya KOMJaker justru sebuah kualifikasi yang menginternalisasikan (menghayati) dan mengekspresikan (mewujudkan) teladan Maria saat ia diundang secara khusus berpartisipasi secara khusus pula dalam proses inkarnasi (penjelmaan) Allah dalam pribadi Yesus, putra Maria dan putra Allah: &#8220;<em>Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu</em>.&#8221; (Lukas 1:38). Sikap <em>low profile </em>yang bermakna penyerahan total pada kehendak Allah itulah yang layak dan sepantasnya diwarisi oleh seorang KOMJaker.</p>
<p><em>Low profile</em>-nya KOMJaker harus dibangun sejak awal, selama berproses di KOMJak, dan demikian seterusnya hingga akhir kehidupan yang menandai akhir perutusannya sebagai anak-anak Allah. Meski pada proses formasi (selama program pembelajaran KOMJak) dan tindaklanjutnya (pasca proses formal KOMJak) seorang KOMJaker dituntut untuk mengekspresikan diri dan segala potensinya secara luas, tidak berarti sikap <em>low profile </em>telah ditinggalkan. Bahkan, selepas dari proses formal KOMJak, seorang KOMJaker didorong untuk semakin intens mengaktualisasikan dan menyumbangkan hasil pembelajarannya kepada pembangunan dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya, Gereja dan masyarakat, sikap <em>low profile </em>ini harus tetap dijaga. Pada titik itulah seorang KOMJaker mengupayakan semakin banyak orang ikut menikmati buah-buah KOMJak tanpa ia perlu memamerkan dirinya sebagai KOMJaker. Dengan demikian, biarlah sesamanya semakin berkembang pula, sementara KOMJak dan ia sebagai KOMJaker terbebas dari kebutuhan untuk dikenal, dihargai, disanjung karena tindakannya berbagi rahmat itu.</p>
<p>(Gambar: Srdja Popovic. et. al. (2006). <em>Nonviolent Struggle: 50 Crucial POints, A Strategic Approach to Everyday Tactics</em>. Serbia, Belgrade: Centre for Applied NonViolent Action and Strategies/CANVAS.)</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--></p>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--></p>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-low-profile.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Muda yang Terbuka (Open Mind)</title>
		<link>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-terbuka-open-mind.html</link>
		<comments>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-terbuka-open-mind.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 07:58:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>komjakarta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komjakarta.org/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 2)
Oleh: Felix Iwan Wijayanto
“Open Mind” atau berpikiran terbuka mengandung makna kesediaan/kemauan seorang KOMJaker untuk menyadari terdapat banyak segala hal positif di luar dirinya, dan khususnya ide-ide yang membawakan kebenaran-kebenaran di luar pikirannya dan keyakinannya sendiri. Pikiran yang terbuka semacam itu didasari oleh kesadaran bahwa diri manusia –termasuk pikirannya—serba terbatas dan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 2)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Felix Iwan Wijayanto</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/openminds.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-693" style="margin: 3px 10px;" title="openminds" src="http://komjakarta.org/wp-content/uploads/2010/02/openminds-300x220.jpg" alt="" width="150" height="135" /></a>“<em>Open Mind</em>” atau berpikiran terbuka mengandung makna kesediaan/kemauan seorang KOMJaker untuk menyadari terdapat banyak segala hal positif di luar dirinya, dan khususnya ide-ide yang membawakan kebenaran-kebenaran di luar pikirannya dan keyakinannya sendiri. Pikiran yang terbuka semacam itu didasari oleh kesadaran bahwa diri manusia –termasuk pikirannya—serba terbatas dan oleh karena itu tidak mungkin memahami/menguasai segala situasi yang melingkupi kehidupannya tanpa pengaruh (baik positif maupun negatif) dari pihak-pihak dan unsur-unsur lain.<span id="more-692"></span></p>
<p style="text-align: left;">KOMJaker yang berpikiran terbuka ditunjukkan dari kesediaannya untuk berpikir positif dan gemar mendengarkan pendapat orang lain, cenderung berasumsi bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi-potensi kebaikan yang bisa dipelajarinya. KOMJaker yang berpikiran terbuka cenderung termotivasi untuk menimba pelajaran-pelajaran penting di balik pengalaman bermakna dari orang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Namun, yang perlu dipahami, pikiran yang terbuka tidak hanya berhubungan dengan tindakan mencari kebaikan dari orang lain, melainkan juga –sebaliknya— terbuka untuk berbagi kebaikan kepada orang lain. Maka keterbukaan pikiran seharusnya melahirkan kecenderungan, kerelaan/kesediaan dan kegemaran untuk membagikan hal-hal positif kepada orang lain pula.</p>
<p style="text-align: left;">Pada titik itulah seorang KOMJaker punya arti kehadirannya bagi sesama di sekitar hidupnya sehari-hari: memprovokasi terjadinya relasi yang saling menghargai, saling belajar, dan saling berbagi, demi situasi hidup bersama yang semakin lama semakin baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komjakarta.org/orang-muda-yang-terbuka-open-mind.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
