Gereja Sebagai Rumah Sakit Darurat

Oleh Benedicta Stella Fortunae*

“Mari kita melihat Gereja sebagai rumah sakit darurat setelah pertempuran. Tugas Gereja adalah menyembuhkan luka banyak orang. Apapun penyakit dan latar belakang orang itu, Gereja harus siap melayani dan tidak berfokus pada kenyamanan dirinya sendiri dan para klerus,” kata Dr. Paul Hwang, direktur ALL Forum, mengutip kata-kata Paus Fransiskus ketika menjelaskan konsep Gereja sebagai rumah sakit darurat pada 8 Juli 2021.

Dalam sambutan pembuka kursus daring empat Ensiklik Paus Fransiskus tersebut, Pastor Moderator KOMJak Johannes Hariyanto SJ menjelaskan keistimewaan ensiklik-ensiklik Paus Fransiskus. Paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio itu menuliskan ensikliknya dalam bahasa modern, bukan Bahasa Latin. Ia memakai referensi tidak hanya dari ensiklik-ensiklik sebelumnya melainkan juga memakai hasil-hasil penelitian dan bahkan sumber-sumber dari luar Gereja. Ini berarti Gereja mau belajar juga berdialog dengan realitas yang dihadapi manusia. Gereja juga mau menyumbangkan pemikiran untuk mengusahakan jawaban terhadap masalah-masalah sosial yang ada. Kata Pastor Hariyanto, “Semangat khas ini adalah semangat khas yang dibawa oleh Paus Fransiskus. Maka, sangat penting untuk kita untuk mengenal cara ini.”

Foto pembukaan Kursus Daring empat Ensiklik Paus Fransiskus. Sesi pertama, yang membahas Ensiklik Evangelii Gaudium (Sukacita Injil),  diberikan kepada 128 umat Katolik dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri dan dengan rentang umur yang beragam, Kamis, 8 Juli 2021 dan Sabtu 10 Juli 2021. Hadir pula Pastor Johannes Hariyanto, SJ selaku moderator (Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak) untuk memberikan kata sambutan untuk membuka acara.

Dalam pemaparan materi yang disampaikan Dr. Hwang, muncul gagasan bahwa sebagai rumah sakit darurat, Gereja pun harus siap untuk mewujudkan perkembangan manusia integral dengan berpartisipasi aktif menjadi garda terdepan untuk menolong orang-orang miskin.  

Dr. Hwang menjelaskan, mulai Paus Paulus VI yang menuliskan Ensiklik Populorum Progressio (Perkembangan Bangsa-Bangsa) pada tahun 1967, sampai ke Paus Fransiskus pada tahun 2013 yang menuliskan Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), para penerus takhta Suci Vatikan berfokus kepada perkembangan manusia integral yang tidak hanya milik umat Katolik melainkan milik semua orang. Konsep perkembangan manusia integral (integral human development) pertama kali dicetuskan oleh Louis J. Lebret, seorang imam dominikan berkebangsaan Prancis yang juga turut andil dalam penulisan Ensiklik Populorum Progressio).

Setelah Konsili Vatikan II, fokus Gereja Katolik berubah. Gereja, lanjut Dr.Hwang, tidak hanya berfokus pada dimensi pribadi melainkan juga pada dimensi sosial, di mana semua manusia, apapun agamanya, menjadi inti kemajuan besama. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium no. 178, “Allah, di dalam Kristus, menebus tidak hanya orang perorangan, melainkan juga hubungan sosial yang ada di antara manusia.”

Perkembangan manusia integral merupakan wujud evangelisasi yang baru. Dr. Hwang menjelaskan bahwa Paus Fransiskus tidak menginginkan adanya perbedaan panggilan pada semua umat beriman. Murid misioner, ia menambahkan, adalah sebutan yang tepat bagi semua orang yang turut andil dalam mewujudkan perkembangan manusia integral.

Dr.Hwang memaparkan, Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium melontarkan kritik keras terhadap sistem neoliberalisme yang terus-menerus meniadakan keberadaan orang miskin sebagai bentuk kekejaman. Dalam dunia yang ingar bingar dengan kekayaan materi dan menjadikan uang sebagai model berhala baru, orang miskin pun menjadi tersisih dan tidak diperhitungkan sama sekali.

Ia juga menjelaskan bahwa Gereja harus hadir dengan wajah yang baru. Bukan lagi menampilkan wajah Gereja yang berfokus pada kenyamanan dan keamanannya sendiri serta mengagungkan klerus, namun hadir secara langsung bagiorang-orang miskin seperti yang diserukan oleh Paus Fransiskus.

Perkembangan manusia integral juga harus dihidupi dengan memahami injil sebagai sumber sukacita semua orang. Dalam kursus daring ini, Dr. Hwang menjelaskan tentang Lazarus, seorang pengemis yang selalu makan dari remah-remah roti meja para orang kaya. Dalam mewujudkan perkembangan manusia integral, apa yang dialami Lazarus adalah bentuk ketakadilan bagi orang miskin. Oleh karena itu, semua manusia diajak untuk mewujudkan keadaan seperti ketika Lazarus bisa makan bersama dengan para orang kaya di meja perjamuan yang sama.

Seri pertama kursus daring ini terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama diisi dengan pemaparan materi oleh Dr. Paul Hwang sebagai narasumber, lalu diikuti oleh diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Dalam sesi diskusi di beberapa kelompok, para peserta saling membagikan pengalaman satu sama lain terkait dua poin penting yang disampaikan narasumber, yaitu bagaimana umat Katolik melihat konsep pembangunan perkembangan manusia integral dan Gereja sebagai rumah sakit darurat di zaman sekarang.

Dalam diskusi kelompok, banyak peserta yang membagikan pengalamannya mengenai perwujudan perkembangan manusia integral yang seharusnya diterapkan dalam masyarakat.

Salah satu peserta kursus mengaku cukup terkesan dengan paparan narasumber, karena selama ini yang ia terima pendekatanmembaca dan memahami Evangelii Gaudium lebih pada pendekatan evangelisasi. “Tetapi ternyata ada muatan yang kental terkait dengan Ajaran Sosial Gereja (ASG) juga, dan jelas ada jembatan antara evangelisasi dan kemanusiaan untuk mencapai integral human development yang ternyata konsepnya telah ada sejak Konsili Vatikan II,” kata Willem Leonardus Turpijn.

Para peserta juga melihat gereja bukan hanya sebatas bangunan secara fisik, melainkan semua umat adalah bagian dari Gereja yang siap sedia menolong orang-orang yang membutuhkan di era pandemi Covid-19. Seperti yang disampaikan salah satu peserta kursus daring ini yaitu Judith Wijaya. “Dari sharing sesama kelompok, banyak aksi nyata yang sudah dilakukan oleh masing-masing. Misal: ada yang membantu UMKM, ada yang menjadi volunteer gereja membantu pasien Covid, dll. Sehingga situasi pandemi mengubah semua orang apapun profesinya dan berani keluar dari zona nyaman, serta berani keluar karena kenyataan lebih penting saat ini.”

Para peserta semakin menyadari bahwa konsep Gereja sebagai rumah sakit darurat benar-benar hadir secara nyata lewat berbagi pengalaman satu sama lain. Perkembangan manusia integral dapat terwujud apabila Gereja tidak hanya melihat dimensi pribadi melainkan juga dimensi sosial dan tidak menutup mata pada orang-orang yang membutuhkan ularan tangan.

Pemateri dalam kursus daring ini adalah Direktur ALL Forum Dr. Paul Hwang. Ia merupakan seorang teolog dan dosen di Catholic University of Korea (CUK) serta pendiri dan direktur Center for Asian Peace and Solidarity (CAPS) di bawah Woori Theological Institute, Korea Selatan.

Kursus Daring empat Ensiklik Paus Fransiskus ini terselenggara atas kerja sama Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak ), sebuah komunitas pengembangan diri bagi Orang Muda Katolik di wilayah Keuskupan Agung Jakarta, dan Asian Lay Leaders Forum (ALL) Forum , sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada kaum marjinal di wilayah Asia.

Kursus ini sudah dan akan diadakan setiap minggu 8-31 Juli 2021 dengan pembagian dua kelas setiap Kamis dan Sabtu. Dalam setiap sesi, kursus ini dibantu oleh juru bahasa dari KOMJak dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Rangkaian kursus ini berusaha untuk memberikan pemahaman kepada para rohaniawan dan awam Katolik mengenai dokumen-dokumen Ensiklik Paus Fransiskus di antaranya Evangelii Gaudium(Sukacita Injil), Laudato Si (Terpujilah Engkau), Gaudete Et Exsultate (Bersukacitalah & Bergembiralah), dan Fratelli Tutti (Saudara Sekalian).

*Benedicta Stella Fortunae adalah alumnus KOMJak Angkatan 8, alumnus AYA/ATF (Asian Youth Academy/ Asian Theology Forum) yang merupakan salah satu program ALL Forum Tahun 2018 (Filipina) & 2019 (Thailand). Benedicta juga hadir sebagai juru bahasa dalam kursus daring ini.