oleh Kristina Viri

“Impian satu orang tak lebih dari sekadar khayalan, impian bersama banyak orang adalah awal pembaharuan dunia (Don Helder Camara, Uskup Agung Olinda dan Recife, Brazil).”

Bisa jadi warga Pegunungan Kendeng tak mengenal Don Helder Camara, namun semangat Camara terungkap pada Salam Kendeng…Lestari! Salam ini diucapkan dengan semangat oleh peserta perayaan kemenangan, dua tahun mundurnya Pabrik Semen Gresik, pada 16 Mei 2011, di Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Salam yang mengungkapkan impian bersama banyak orang ini, menyiratkan pesan pelestarian terhadap kawasan Pegunungan Kendeng yang lima tahun terahir ini menjadi incaran investor sebagai lokasi penambangan bahan baku semen.

photo: antaranews.com

Acara ini diisi dengan refleksi terhadap kekayaan alam yang dimiliki kawasan pegunungan Kendeng. Misalnya, puluhan mata air sebagai sumber pengairan sawah, serta pemenuhan kebutuhan air sehari-hari. Selain itu terdapat ratusan tumbuh-tumbuhan yang memiliki berbagai manfaat, dari tanaman pangan, obat-obatan, serta tumbuh-tubuhan yang berfungsi menyerap air (hasil pendataan ibu-ibu Simbar Wareh-adalah nama kelompok perempuan yang berupaya melestarikan gunung kendeng, diambil dari kata Simbar dan Wareh yang merupakan nama mata air di kawasan pegunungan ini-, tanggal 14 Mei 2011). Gunung Kendeng selama ini menjadi tumpuan hidup warga Kecamatan Kayen dan Sukolilo, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.

Penolakan pendirian pabrik semen sudah berlangsung sejak tahun 2006, awalnya pabrik semen akan didirikan di Kecamatan Sukolilo. Namun rencana pendirain batal lantaran berbagai perijinan PT. Semen Gresik (PT. SG) secara hukum dibatalkan. Pembatalan ini disebabkan oleh dimenangkannya gugatan warga di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), [Melalui Legal Standing Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)] terhadap Surat Ijin Penambangan Daerah (SIPD) yang sudah keluar sebelum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dinyatakan layak.

Tanggal 16 Mei menjadi tanggal yang bersejarah karena pada tanggal tersebut tahun 2009 tim peneliti dari PT. Semen Gresik (SG) tidak datang untuk membuktikan (dengan penelitian ulang) apakah pegunungan kendeng masuk kawasan karst kelas satu (sehingga wajib dilindungi), sementara peneliti yang direkomendasikan warga Sukolilo datang dan memenuhi kesepakatan. Selain itu pada tanggal yang sama, Kepala Divisi (Kadiv) Komunikasi PT. SG, Saefudin Zuhri mengirimkan sms kepada Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, dan Bupati Pati, Tasiman yang menyatakan PT. SG batal investasi di Pati.

Dalam perkembangannya, Gubernur Jawa tengah telah menerbitkan Keputusan Gubernur No. 503/27/C/2010 (19/10/2010) tentang Pemberian Perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi Mineral Bukan Logam Kepada PT. Sahabat Mulia Saksti (PT. SMS) yang sebagian besar sahamnya dimiliki PT. Indocement Tung¬gal Perkasa Tbk, pabrikan produk semen Tiga Roda. Sedikitnya 14 desa yang tersebar di Kecamatan Tambakromo dan Kayen menjadi sasaran utama untuk digali potensi batu gamping dan tanah liatnya. Desa yang masuk Kecamatan Tambakromo adalah Tambakromo, Mojomulyo, Ka¬rangawen, Larangan, Pakis, Wukir¬sari, dan Maitan. Adapun yang masuk wilayah Kecamatan Kayen adalah Desa Durensawit, Slungkep, Brati, Sumbersari, Beketel, Purwokerto, Jatiroto (Suara Merdeka, 27/3/2011). Ini artinya ancaman pertambangan pabrik semen belum berahir di Kawasan Pegunungan Kendeng.

Dalam peringatan dua tahun mundurnya pabrik semen di Pati, yang diselenggarakan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) serta dihadiri oleh sekitar 1000 warga dari Desa Brati dan sekitarnya terlihat semangat warga (yang sebagian besar ibu-ibu) menolak Pabrik Semen demi pelestarian Lingkungan. Warga menghayati betapa kayanya Sumber Daya Alam dan indahnya Pegunungan Kendeng. Mereka mengungkapkan syukurnya melalui salam Kendeng yang mengemuka bersama lantunan kidung syukur. Kidung berbahasa sunda dengan iringan kecapi serta seruling ini dibawakan oleh Dewi Kanti yang berasal dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Acara bertambah semarak dengan pembacaan puisi berjudul “Sukolilo” dan refleksi tentang Gunung Kendeng, oleh Leak Sosiawan dari Solo, Jawa Tengah. Baik Leak maupun Dewi menyatakan dukungannya terhadap pelestarian lingkungan dan berharap warga tetap semangat dalam perjuangan ini.

Warga tak rela jika kekayaan Gunung Kendeng harus musnah karena eksploitasi Pabrik Seman. Melalui Salam Kendeng, warga ingin berbagi semangat pelestarian Gunung Kendeng yang tidak terbatas pada orang-orang yang mendiami pegunungan ini, tetapi lebih luas, menjadi tanggung jawab siapa saja warga dunia yang masih peduli akan kelestarian lingkungan dan terjaganya sumber-sumber kehidupan. “Nganti mati lemah iki arep tak pertahanke, kanggo penguripan anak-putuku”(Sampai mati tanah ini akan kupertahankan, untuk penghidupan anak dan cucuku), ungkap salah seorang ibu yang ikut dalam peringatan ini, sambil menitikan air mata. Semoga pemerintah daerah Jawa Tengah tak menutup mata dengan pentingnya penyelamatan lingkungan, dan yang juga tak kalah penting adalah nasib serta penghidupan “wong cilik” di kawasan Pegunungan Kendeng ini.