oleh: Stephani Puspitajati

Kalimat “asal ga pegang sapu” muncul dalam sebuah obrolan saya dan beberapa teman di sebuah mall di Jakarta Pusat ketika pembicaraan bergulir seputar pekerjaan dan perempuan. Saya dan teman-teman yang berjenis kelamin perempuan tertawa setelah kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang teman wanita saya dan seolah-olah tawa itu membenarkan pernyataan tersebut. Sapu merupakan simbol dari aktivitas domestik yang identik dengan kaum perempuan.

photo: bundasaski.blogspot.com

 

Kenyataannya, memang saat ini perempuan (yang disebut modern) di kota besar, khususnya Jakarta berlomba-lomba untuk mengaktualisasikan diri dengan aktivitas di luar rumah. Jarang perempuan modern Jakarta yang melakukan aktivitas domestik. Pekerjaan rumah tangga biasanya diserahkan pada orang yang dipekerjakan secara profesional. Sekurangnya, ada dua alasan mengapa ini terjadi.

Pertama, berhubungan dengan ekonomi. Tuntutan ekonomi di kota besar yang semakin tinggi membuat perempuan harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan dan membantu ekonomi keluarga. Kedua, berkarier dianggap sebagai jalan mengaktualisasikan diri dan membentuk identitas perempuan, adalah alasan berikutnya mengapa perempuan bekerja.

Adanya pandangan bahwa perempuan yang memilih sebagai ibu rumah tangga adalah perempuan yang tidak produktif, tidak mandiri karena tergantung pada eksistensi suami, dan dianggap tidak berperan dalam membangun masyarakat, menyebabkan aktivitas domestik dan rumah tangga dianggap aktivitas sepele dan ketinggalan zaman. Maka, tidak mengherankan jika dewasa ini banyak perempuan yang enggan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Apakah ini merupakan dampak dari keberhasilan jargon emansipasi yang dikumandangkan kaum feminisme yang patut dirayakan, atau justru sebuah ideologi yang akan melunturkan makna emansipasi sesungguhnya dan hanya menjadikannya simbol semata.

Emansipasi sendiri berasal dari kata dalam bahasa Latin emancipare, yang berarti melepaskan, pembebasan, persamaan hak. Emansipasi muncul karena secara budaya ada sikap diskriminatif terhadap kaum perempuan. Secara fisiologis, perempuan dan laki-laki memang berbeda. Namun, perbedaan ini kemudian diperkuat oleh struktur budaya dan pendidikan dalam keluarga. Kaum laki-laki diidentikan dengan maskulin, sehingga mendapat peran yang bersifat umum dan strategis. Sedangkan perempuan digambarkan feminin, sehingga peran yang diemban bersifat privat dan dalam ruang gerak yang lebih terbatas.

Konstruksi identitas perempuan Indonesia sendiri dibentuk dan diatur demi kepentingan rezim yang sedang berkuasa. Di era Soekarno, perempuan dianggap memiliki peran aktif dalam politik sebab emansipasi adalah penanda kesetaraan. Setelah orde lama tumbang, perempuan ‘dikembalikan’ kepada kodratnya sebagai ibu dan istri. Perempuan ideal dicitrakan sebagai ‘ibu’ yang mengutamakan nilai-nilai priyayi Jawa. Namun, pada masa Soeharto pula ada pencitraan ‘superwoman’ bagi perempuan yang lazim disebut wanita karir. Dalam konteks Indonesia, ‘superwoman’ digambarkan sebagai perempuan yang bekerja di luar rumah namun tidak melupakan ‘kodratnya’ sebagai ibu dan istri. Lengsernya Soeharto juga membuat citra Ibu Jawa turut gugur. Perempuan pada era reformasi mencoba mendefiniskan ulang identitasnya. Di tengah redefinisi ini, perempuan masih menjadi ajang pertarungan ideologis di tingkat lokal dan global.

Emansipasi diperjuangkan dengan mengatasnamakan ketidakadilan dan perlakuan semena-mena terhadap perempuan. Namun, membagi dan memisahkan emansipasi dalam sebuah obyek yang berdiri sendiri, justru menimbulkan ketidakadilan justru akan semakin mempertajam kesenjangan keadilan yang diperjuangkan emansipasi. Pembelaan terhadap perempuan yang diajukan secara parsial, sebagai satu obyek yang terpisah, hanya akan menimbulkan kesenjangan-kesenjangan lain, yang justru akan terus membenamkan pembelaan terhadap perempuan. Emansipasi adalah salah satu bentuk upaya memproporsikan keadilan dengan pemfokusan pada obyek tertentu, yakni perempuan. Tetapi selama upaya-upaya ini hanya dan bahkan terlalu terfokus pada obyek tertentu, maka hal ini yang kelak akan menimbulkan kesenjangan baru yang kelak akan menciptakan ketidakadilan baru pula. Emansipasi perempuan akan menjadi langkah positif, selama dijalankan secara proporsional dan dalam koridor yang seharusnya. Sedangkan upaya-upaya yang berusaha melewati apa yang tidak harus dalam koridornya hanya akan menimbulkan permasalahan serupa yang tidak akan lebih besar manfaatnya dari ketidakadilan itu sendiri.

Emansipasi perempuan harus terus digalakkan, tanpa kehilangan kesadaran akan porsi ketidakadilan yang juga bisa diperbuat individu perempuan tersebut. Hal ini justru akan lebih membuat emansipasi kehilangan makna, dan hanya akan menjadi tidak lebih dari sebuah simbol. Segala bentuk ketidakadilan harus diproporsikan sejajar dengan ketidakadilan-ketidakadilan yang lain, tanpa memandang subyek ataupun obyeknya. Sehingga, semua pihak memiliki andil untuk menentukan sejauh mana emansipasi ini berjalan tanpa harus keluar dari koridornya. Perempuan juga diposisikan sebagai pihak yang memiliki peran besar dalam ranah domestik, sama seperti pria yang juga memiliki peran yang sama besarnya.

Emansipasi yang ‘membabi-buta’ ini harus disikapi, melihat begitu maraknya eksploitasi yang berpayung pada emansipasi. Dengan iming-iming uang dan kemandirian, banyak perempuan yang mau melakukan apapun, termasuk hal yang justru merendahkan martabatnya sebagai manusia. Misalnya, banyak iklan di televisi yang menggunakan perempuan dan sifat-sifat keindahan mereka untuk memasarkan produk-produk iklan tersebut. Apakah ini yang dikatakan emansipasi?

Emansipasi yang terus didengungkan tanpa menyadari porsi ketidakadilan, yang juga bisa diperbuat perempuan sendiri, adalah hal-hal yang justru lebih menjadikan emansipasi kehilangan makna dan berhenti sebatas simbolisasi.

Sumber Bacaan:
Keraf, D., Naben, Y., dkk. (2002). Perempuan: Pemimpin Republik Diam. Seri buku VOX 46/I/2002. Flores: Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Yayasan Jurnal Perempuan. (2007). Merayakan Keberagaman. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Nurfajriyah, Siti. “Dari Emansipasi Bersimpuh pada Eksploitasi: Refleksi Hari Kartini 21 April 2005″. Sinar Harapan. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0504/21/opi01.html