oleh Daniel Awigra & Frans Pascaries

Naskah ini tak lain adalah hasil daur ulang dari sebuah tulisan lima tahun lalu. Sebuah naskah yang lahir dari hasil wawancara saya dan Daniel Awigra dengan Asminur Sofyan Udin. Nama ini pernah tercatat sebagai staf pengajar di Program Studi Asia Timur Seksi China di Universitas Indonesia, antara tahun 1968 sampai 1983. Saat itu, ia kami wawancara dalam rangka peringatan Hari Raya Imlek.

Kepada kami, AS Udin yang lahir di Jambi, 9 Agustus 1934 ini menceritakan sebuah mitos jenaka mengenai Imlek. “Begitu teng jam dua belas malam, para dewa naik ke langit. Mereka memberi laporan, tentang prilaku manusia. Maka, menjelang imlek selalu ada hidangan manisan sebagai sesajen. Kenapa? Kalau dewa-dewa itu makan manisan, mulutnya lengket. Jadi, laporannya ala kadarnya, hahaha…Di China, di alam dewa-dewa sana ada terjadi suap-menyuap. Apalagi di dunia sini,” kata AS Udin.

Menurut Udin, Imlek berasal dari bahasa hokkian (salah satu dialek dalam bahasa China). Dalam bahasa nasional Republik Rakyat China (RRC), Imlek berarti yin li (yin: bulan dan li: penanggalan), yaitu sistem perhitungan penanggalan menurut perputaran bulan mengelilingi bumi. “Imlek lebih dikenal dibanding yen li karena orang hokkian-lah yang pertama darang ke bumi Indonesia ini. Baru disusul oleh suku-suku lain. Hokkian paling banyak di Medan,” jelas Udin yang kami temui di kediamannya di bilangan Depok, Jumat (20/1/2006).

Dalam tradisi China, menjelang pergantian tahun, pada siang harinya orang-orang China memberikan bingkisan kepada orang yang dihormati, dan mereka mendapat ang pao. Yaitu, kewajiban bagi seorang kepala rumah tangga memberikan ang (merah) pao (amplop) kebiasaan menyambut tahun baru yang dipercaya dapat membawa berkat.

Pada malam harinya, mereka (orang-orang keturunan China) tidak keluar rumah. Mereka berdoa dengan menyalakan tiga hio, yang diperuntukan untuk para dewa, leluhur dan bumi. “Hio itu alat untuk memberi tahu dunia. Karena asapnya sampai ke atas sana. Besok paginya, pintu rumah baru dibuka
lebar-lebar. Mereka berdoa lagi,” jelas bapak dari tiga anak dan kakek dari delapan cucu ini, yang kerap dimintai pendapat mengenai Feng Shui oleh sejumlah konglomerat berdarah China di negeri ini.

Selamat Merayakan Imlek. Gong Xi Fat Cai