oleh: Cindy Lai

Ketika matahari mulai menyusup masuk ke peraduannya, aku menyusuri sebuah perumahan buruh di daerah Tangerang. Aku berhenti di sebuah warung kecil berukuran 2×2 meter yang sebenarnya adalah beranda si empunya rumah, untuk membeli minuman dan bertanya-tanya. Kala itu, Daryo (30) masih sibuk melayani pembeli yang keluar masuk warungnya. “Istri saya sedang menemani anak saya di rumah sakit, jadi saya yang harus menjaga warung, hari ini pun saya terpaksa tidak masuk kerja”, ungkap Daryo.

Ternyata hari itu anak keduanya yang masih berumur 3 bulan dibawa ke Rumah Sakit QODR (Karawaci) karena terkena infeksi paru-paru. Daryo yang biasanya bekerja sebagai buruh pabrik, terpaksa membolos dari pagi demi mengantar anaknya.

Pria ramah ini kemudian menceritakan mengenai uang yang harus ia keluarkan untuk biaya rumah sakit anaknya tersebut. “Perusahaan sebenarnya mengganti biaya kesehatan untuk keluarga, tetapi hanya 80% saja. Saya sih maunya anak saya bisa cepat keluar dari rumah sakit, karena biayanya cukup mahal, mbak. Tapi, kalau kata dokter belum bisa keluar, ya apa boleh buat”, katanya.

Untuk kebutuhan sehari-hari Daryo benar-benar hanya mengandalkan gajinya dari bekerja sebagai buruh pabrik Yuasa. Warung yang menumpang di beranda rumahnya sebenarnya hanya sebagai sampingan, selain juga menjadi sebuah kegiatan yang positif bagi istrinya.

Lelaki berperawakan tinggi ini menanggung biaya hidup istri dan kedua anaknya serta orang tuanya yang tinggal di Purbolinggo, daerah asal Daryo. Dengan gaji Rp 2,000,000/bulan, ia merasa nilai itu masih belum cukup untuk menghidupi keluarganya, karena kadang ada saja kebutuhan-kebutuhan tambahan, seperti biaya rumah sakit anaknya yang masuk dalam biaya tambahan dan tak terduga.

Ketika ditanya apa yang menjadi keinginannya saat ini, Daryo menjawab, “Saya ingin menyekolahkan Nisa (anaknya yang pertama) ke sekolah yang bagus, tahun ini Nisa akan masuk SD, tapi ya keperluan yang lain kan banyak juga, jadi saya harus pilih-pilih”.

Dalam realita, ia harus memilih antara apa yang menjadi keinginannya dengan kebutuhan yang lebih diperlukan oleh keluarganya. Sebagai seorang ayah dan kepala rumah tangga, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya, sekalipun jalan yang dihadapi kehidupannya terlihat sulit.

“Walaupun kami hidup hanya sederhana saja, tetapi saya selalu senang. Yang penting untuk saya adalah istri dan anak-anak saya dapat hidup cukup”, kata Daryo.

Dengan kemampuan yang terbatas, Daryo berusaha mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Ia tidak mengeluh ataupun menyerah dengan tekanan hidupnya. Masih banyak keinginan dan harapannya dalam hidup, terutama untuk keluarganya. Akankah Daryo menggapai cita-citanya di masa yang akan datang?

kisah ini diambil dari pengalaman observasi di Modul Sosio-Ekonomi