oleh Edit Oktavia Manuama

Prolog

Tahun 2010, aku mengalami proses pembentukan yang sesungguhnya tidak pernah aku duga sebelumnya.  KOMJak telah memberikan warna tersendiri bagi hidup aku, membuka cakrawala berpikir aku menjadi lebih luas. Aku adalah sesorang yang sedang berjuang untuk melewati ketakutan-ketakutan dan perasaan inferior yang aku sendiri tidak mengerti dibentuk oleh pengalaman apa di masa dulu.

Aku sebelumnya adalah orang yang…

Takut untuk menjadi yang pertama di bidang lain selain akademik, karena itu bukan bidang keahlian aku.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar aku memiliki keunggulan untuk prestasi bidang akademik, mulai dari kelas, sampai juara berbagai perlombaan Karya Ilmiah Remaja, Cerdas cermat, Olimpiade Biologi, Olimpiade Matematika. Hal ini membuat aku benar-benar hanya menelurusi begelut dengan dunia penelitian dan IPA saja, aku tidak pernah mau melihat kemampuanku di bidang lain, seni dan olahraga. Ditambah lagi dengan nilai masyarakat saat itu adalah orang yang unggul di Sains adalah orang yang hebat sehingga saya menjadi terobsesi amat sangat untuk mengejar itu. Padahal di sisi lain,  aku sangat suka menyanyi, bermain bulu tangkis, musik, dan menulis.

Jika ada kegiatan lain seperti koor di gereja, ataupun musik, atau acara olahraga aku menjadi sangat pemalu karena merasa diriku tidak bisa apa-apa. Apalagi dalam keluarga sendiri, aku dan adikku sudah mendapat brand sendiri, aku unggul di IPA, Saudaraku perempuan unggul di seni dan ilmu sosial, dan yang lain unggul dalam hal diplomasi.

Suatu kali seorang guru mengatakan bahwa “Via memang unggul di IPA, tetapi hanya diam tidak bisa omong”. Aku kesal saat itu dan ingin berontak.

KOMJak mengajarkan saya untuk tidak terlalu memusingkan apa persepsi orang selama menurutmu itu baik, lakukanlah. Karena terkadang, alasan kita tidak memulai sesuatu karena itu bukan sesuatu yang lazim, seharusnya begini, seharusnya begitu.

Submisive membiarkan orang lain merendahkan diri saya.

Aku sebelumnya adalah pribadi yang pernah menjadi sangat submissive (penurut_Red) dengan apa yang disampaikan orang. Menerima semuanya dan suatu kali ketika sudah mencapai puncaknya emosiku bakal meledak.

Sampai suatu saat, pada masa awal perkuliahan, seseorang menyampaikan satu kalimat No one can make you feel inferior without your consent. Aku memikirkan kata-kata ini sampai hari ini.  Sekalipun masih penuh perjuangan untuk melawan inferioritas yang sudah melekat tetapi sejujurnya aku sendiri harus menghargai kemajuan yang ada pada diriku dengan mengatakan bahwa aku telah berubah hari demi hari.

Dulu aku sangat pemalu sekali untuk berbicara di depan kelas, hanya menunduk saja dengan bibir gemetaran. Sekarang sudah ada kemajuan. Aku dulu sangat pemurung dan tidak pernah bisa tertawa lepas kecuali ketika menonton acara lawak srimulat di TV. Sekarang aku sudah bisa tertawa dengan bebas tanpa alasan, tanpa takut dibilang orang gila.

Takut mengambil tanggung jawab penuh, takut mengambil risiko, takut akan mengalami penolakan, takut akan tampil jelek.

Aku selalu mencari posisi aman ketika ada tawaran memimpin kelompok, ataupun bidang tertentu. Reaksiku selalu menunjukkan penolakan, seolah-olah menolak. Itu sudah mendarah daging, dan sudah seperti di luar control dan terperintah secara otomatis. Ini berlangsung terus sejak kecil hingga sekarang. Aku sendiri bingung kenapa reaksiku selalu seperti itu.

Aku ingat waktu kecil ketika diminta menari, menyanyi, pidato, aku menolak. Selanjutnya ketika SMP aku diminta berlatih bermain organ, reaksinya sama. Di SMA ketika dicalonkan jadi ketua organisasi, reaksi itu muncul kembali. Aku pada akhirnya lebih suka menjadi seperti penasihat sehingga aku bisa banyak bicara tetapi tidak tampil di depan.

KOMJak mengajarkanku untuk tidak berlindung di bawah sayap orang lain. KOMJak seperti mengatakan kepadaku bahwa aku bisa berbicara sekalipun tidak membawa apa-apa.

Kurang percaya pada orang lain.

Aku sangat takut untuk menjadi buruk, terutama kalau ada tugas kelompok, sekalipun sudah ada pembagian tugas kelompok, aku tetap selalu berusaha melihat apa yang sudah dikerjakan temanku, apakah sudah sesuai dengan keinginan dan pikirkanku atau tidak.

Aku tahu dan sesungguhnya ingin sekali aku untuk tidak ikut campur. Akan tetapi apa daya, hatiku selalu ingin dan ingin mengetahui sejauh mana pekerjaan teman. Ada perasaan bersalah jika aku tidak bisa menolong. Padahal aku tahu bahwa hal itu tidak akan pernah mendewasakanku begitupun juga temanku.

Self Defense terlalu tinggi dan membuat banyak stereotype

Aku dari awal sudah membentengi diriku dari hal tertentu, seperti halnya sudah me-list area mana yang bisa aku masuki yang mana yang tidak. Area hukum sudah sejak awal aku cap busuk sehingga tidak akan pernah aku mau menyentuhnya. Apabila aku melihat pengacara hakim, polisi, pikiran jelekku tentang mereka selalu muncul.

Area clubbing, dunia hiburan malam juga sama. Sudah terbentuk stereotype bahwa dunia itu buruk. Sehingga aku tidak pernah berencana pergi ke sana. Dinding itulah yang telah terkikis ketika aku melangkah ke Typsi Club sebagai bagian dari tugas observasi di Modul Multikultur KOMJak.

Seperti menembus dinding yang sudah dibangun sedemikian kokohnya, melewati zona nyaman, melangkah keluar, meruntuhkan tembok, mengatasi ketakutan, keecemasan, setelah itu merasa lega yang amat sangat. Inilah yang kudapatkan di KOMJak.