Lexy Rambadeta: Jurnalis Harus Berpihak!

January 15, 2010 at 5:47 am , by komjakarta

Oleh: Wheny Hari Muljati

Lexy (paling kiri) memfasilitasi workshop produksi film dokumenter untuk komunitas-komunitas adat penganut kepercayaan lokal di Citeureup (2009)

Sosok yang bekerja sebagai dokumentarian dan jurnalis video ini memang dikenal idealis. Ia mendasarkan semua gerak dan kerjanya di bidang jurnalistik pada keberpihakannya atas penegakan hak asasi manusia (HAM), di samping perlunya independensi.

Film-film dokumenter yang dibuatnya telah mendapatkan apresiasi dari banyak kalangan, mulai dari pelajar, politikus, hingga kalangan pegiat film. Berkat sepak terjang dan totalitasnya, berbagai penghargaan diraihnya, antara lain sebagai Pembaru Sosial dari Ashoka Indonesia (2009), dan penghargaan-penghargaan dari ajang berbagai festival film.

Salah satu pedoman utamanya adalah prinsip-prinsip jurnalistik dalam buku karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (April 2001.

Dalam buku ini disebutkan elemen- elemen jurnalistik, antara lain bahwa kewajiban utama jurnalis adalah mencari kebenaran. Selain itu, bagaimanapun, jurnalis juga harus berpihak pada masyarakat, bukan kepada atasan atau perusahaan tempat mereka bekerja.

Soal keberpihakan dan independensi ini beberapa kali ditekankan Lexy dalam perbincangannya dengan SH via telepon, Senin (11/1) malam.

“Jurnalis memang tidak boleh netral, harus berpihak,” ujar anak pertama dari empat bersaudara ini dengan suara tegas. Menurut Lexy, keberpihakan itu harus fleksibel. Berdasarkan kepentingannya, keberpihakan itu pertama-tama adalah keberpihakan pada ditegakkannya HAM, lalu keberpihakan pada warga di mana sang jurnalis tinggal, dan selanjutnya keberpihakan pada perempuan, terutama perempuan miskin.

“Bila ada jargon wartawan harus netral, yang netral dan objektif adalah metodenya, tapi tulisan dan karya seorang jurnalis harus tetap memihak,” tegasnya lagi.

Bernilai
Sejak lebih dari satu dekade lalu, Lexy melalui organisasi yang dibuatnya, Offstrream, telah melatih ratusan anak muda dan warga masyarakat untuk menjadi dokumentarian dan jurnalis video yang independen. Dalam membimbing calon-calon dokumentarian dan jurnalis video, Lexy selalu menekankan agar dalam berkarya mereka bertolak dari keberpihakan terhadap kemanusiaan. Selain itu, menurut Lexy, setiap karya harus bernilai, dan setiap karya akan memiliki keunikannya sendiri.

“Pada brainstorming awal dia selalu menekankan bahwa membuat film dokumenter harus dimulai dari sebuah keprihatinan dasar terhadap kemanusiaan,” ujar Hanni, salah satu murid bimbingannya yang kini telah menjadi fasilitator di Kampus Orang Muda Jakarta (Komjak), salah satu organisasi tempat Lexy berkarya.

Menurutnya, Lexy punya idealisme yang luar biasa. “Ia selalu yakin dengan apa yang dia buat. Selalu ada nilai-nilai yang diperjuangkan dalam karyanya,” ujar Hanni dalam pembicaraan telepon dengan SH, Selasa (12/1).

Menurut beberapa kalangan yang mengenalnya, Lexy memang memiliki paradigma keberpihakan pada mereka yang lemah, antara lain korban politik Gerakan 30 September 1965 dan warga korban perang di Aceh.

Jugun Ianfu (2000) adalah salah satu filmnya yang dibicarakan banyak kalangan. Film berdurasi 19 menit itu dibuatnya untuk memperkenalkan sejarah perempuan budak seks pemerintah Jepang, yang menjadi korban strategi militer pada masa penjajahan Jepang.
Film dokumenternya terkait Gerakan 30 September 1965 yang terkenal adalah Shadow Play (2001) dan Mass Grave ( 2002). Sejak 2001 sampai sekarang, Shadow Play diputar setiap minggu oleh berbagai kalangan di Indonesia dan luar negeri.

Sepak terjangnya bukannya tidak mengundang bahaya. Berbagai teror sudah biasa diterimanya, seperti rumah dilempari batu atau dia diteror selama di jalan, namun ia telah mengaku siap dengan risikonya.

Sangat Total
Ester Jusuf, seorang aktivis dari Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Jakarta, mengatakan, Lexy adalah sosok yang berani menembus hal-hal yang bagi sebagian kalangan pada masa itu–era pascakejatuhan Soeharto–dianggap suatu ketidakmungkinan. “Ia bisa membuat film tanpa harus memiliki uang atau kamera yang canggih, di mana pada masa itu pembuat film umumnya adalah perusahaan besar atau orang yang memiliki uang yang cukup,” ujar Ester.

“Totalitasnya antara lain terlihat dari tindakannya, yakni dia tetap datang memberikan pelatihan dan bimbing¬an kepada murid kendati dalam kondisi sakit,” ungkap Gracia salah satu fasilitator di Komjak.
“Dia juga tidak malas menerangkan kepada kami berkali-kali, kendati peserta berada pada level yang berbeda-beda. Bila ada 14 orang dalam satu kelas penulisan skrip, dia akan memperhatikan pekerjaan kami dan memberikan bimbingan satu per satu orang dengan telaten,” ungkap Hanni dari Komjak.

“Dia juga perfeksionis. Tidak mudah puas. Bikin film umumnya lama. Ia detail dan dari selalu punya sudut pandangnya sendiri. Dan yang terutama, dia selalu berpikir bahwa karyanya penting untuk generasi selanjutnya,” tambah Hanni.

Harapan
Lexy juga dikenal suka membagi ilmunya. Semua ilmunya dibagi secara total kepada orang lain yang ingin belajar. “Hasilnya jadi bagus. Ilmu yang diberikan kepada muridnya bukan ilmu yang seadanya, tapi biasanya sampai mereka ‘jadi’”, ungkap Ester Jusuf, yang beberapa stafnya dikirimnya belajar pada Lexy.

Lexy sendiri yang mengaku cinta Indonesia tidak masalah membagi ilmunya gratis. Ia berharap kelak Indonesia bisa memberi contoh pada komunitas internasional, bisa menegakkan HAM, walaupun plural dan dikenal sebagai bangsa paling majemuk.

Indonesia menurutnya, juga surga film dokumenter. Dia berharap banyak kalangan muda akan bisa memanfaatkan hal ini, lebih memilih berkecimpung di bidang nonfiksi daripada fiksi, demi menemukan kembali jati diri bangsa mereka sendiri

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/jurnalis-harus-berpihak/?tx_ttnews[years]=2010&tx_ttnews[months]=01&tx_ttnews[days]=13&cHash=f7c2ace201

Category Inspirasi / Tags: Tags: , , , , , , /

Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Google, Twitter, Yahoo, reddit, Blogmarks, Ma.gnolia.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

2 Comments so far

by hilda

On January 15, 2010 at 12:03 pm

mantabs mas…terus berkarya!!!

by leo

On March 11, 2010 at 11:28 am

wowww cuangihh

2 Responses to “ Lexy Rambadeta: Jurnalis Harus Berpihak! ”

By submitting a comment here you grant a perpetual license to reproduce your words and name/web site in attribution. Inappropriate comments will be removed at admin's discretion.

Contact


E-mail: komjakarta@gmail.com
Website:http://www.komjakarta.org

Contact Person:

Stefanus Hilda Karuniawan
HP: 08995197771
E-mail: evan_kolefsky21@yahoo.com
Stephanie Rusli
HP: 08567243821
E-mail: stephanie.rusli@hotmail.com
Priska Kalista
HP: 021-93355053
E-mail: priskalista@gmail.com

Top of page