oleh Chrisma Ardi Nugroho

Ia berlindung di balik rindangnya pohon karet dari panas mentari yang mulai menyengat. Sosok itu berbadan kurus, berkulit keriput dan berlangkah gontai menuju tepian trotoar. Ia duduk di situ  untuk “menjual diri”, menunggu orang yang akan menggunakan jasanya.

Itulah sosok Ujang (45 tahun), yang setiap harinya dengan menumpang bis kota, ia berangkat dari rumah kontrakan yang ia tinggali bersama 3 orang temannya yang berprofesi sama dengannya.

Taman Makam Pahlawan di bilangan Kalibata Jakarta Selatan adalah tujuan mereka. Jarak antara rumah kontrakan yang mereka sewa secara “keroyokan” 300 ribu per bulan itu cukup jauh. Dengan memakai celana panjang abu2, kaos biru, jaket jeans, dan topi pelindung panas berwarna abu2 ia mulai duduk bersila. Ditaruhnya peralatan bekerja seperti cangkul, linggis, palu, dan lain–lain di depannya,  sebagai pertanda bahwa ia adalah kuli bangunan lepas.

 

photo: narakalemoy.blogspot.com

Perjuangan demi menyambung hidup tampak ketika ia mulai bercerita, mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai kuli bangunan yang pernah merasakan masa-masa jayanya ketika Pak Harto masih berkuasa. Ketika itu harga gabah 1 kuintal masih di bawah 100ribu rupiah. Sehingga, sekedar mengisi pundi bekal masa depan masih bisa ia lakukan.

Kini ia hanya mendapatkan 4 lembar uang kertas 100 ribuan dalam 24 hari, dari 24 hari mangkal baru 4 hari ia bekerja. Hasil keringat selama 4 hari itu hanya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri di gemerlapnya kota Jakarta, itupun terkadang harus menambal utang sana sini supaya dapat memenuhi isi perutnya sehari-hari.

Dengan pendapatannya yang tidak menentu, bapak yang murah senyum itu harus merelakan waktu beristirahat di hari libur  untuk mencukupi kebutuhan hidup satu istri dan dua orang anaknya di Cirebon, hanya penantian penuh harapan yang bisa memberikan jawabannya. Beruntung anak istri yang tinggal di kota, yang terkenal dengan nasi jamblangnya itu, dekat dengan keluarga besar di sana sehingga mereka dapat hidup dari rasa iba sanak saudara.

Bapak dari 2 anak ini dahulu pernah bekerja sebagai kuli bangunan di salah satu proyek bangunan di Ibu Kota. Banyak terjadi kecurangan dan ketidakadilan selama Ujang bekerja di sana. Memang, upah yang diperoleh lebih menjanjikan ketimbang menjadi kuli bangunan lepas yang harus menunggu dalam ketidakpastian. Tapi, Ujang lebih memilih pekerjaan ini karena mempunyai pengalaman yang tidak mengenakkan selama bekerja sebagai kuli bangunan proyek.

Bayangkan, dari upahnya selama 1 hari bekerja, harus ia relakan untuk membayar ‘upeti’ kepada sang mandor yang langsung saja memotong 10% demi memenuhi rasa rakus si mandor akan uang. Belum lagi pengeluaran yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan ketika ia bekerja di proyek. Belum habis tanggalan dalam 1 bulan, “kocek” di saku sudah habis.

Bapak yang hanya lulusan SD ini tidak mempunyai pilihan pekerjaan lain dalam hidupnya selain bekerja sebagai kuli bangunan. Maklum, karena keterbatasan ketrampilan dan modal yang membuatnya tidak punya pilihan pekerjaan lain. Dia berharap anaknya kelak mempunyai pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik dari dirinya. Oleh karena itu, ia menyekolahkan anaknya yang kini duduk di bangku SMK.

Memang tidak mudah untuk bertahan hidup di Negara yang kata orang “gemah ripah loh jinawi” ini. Perjuangan hidup Ujang dan teman2 seprofesinya sangatlah ironis. Mereka yang terpinggirkan karena minimnya ketrampilan dan modal harus merelakan diri menjadi “korban” ketidakadilan dan pemerasan yang rupanya tidak hanya dilakukan oleh para oknum pejabat di negeri ini, tapi, orang sekelas mandor pun seolah berubah menjadi “serigala” yang tega menerkam “anak buah” sendiri.