oleh Ria Octaviani

“Kak, plastiknya kak.” Kalimat singkat itu meluncur keluar dari mulut seorang bocah lelaki berlogat Sunda. Reno namanya. Usianya 15 tahun. Perawakannya yang kecil dan badan kurus miliknya membuat langkahnya ringan mengiringi orang-orang yang berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Kramat Jati sambil menawarkan dan menjual plastiknya, “plastik…plastik…plastik.”

Udara dingin dan cuaca mendung sore itu tak membuat semangatnya surut untuk menjual plastik. Dengan topi berwarna hijau tua, kaos oranye muda, dan celana pendek warna hitam membuat ia tampak santai namun cekatan. Dari jam enam pagi hingga tengah malam bocah kecil itu bekerja demi kelangsungan hidupnya. Ia masih suka menyempatkankan diri untuk bercanda tawa dengan teman-teman seumurannya yang juga penjual plastik di pasar itu. Dalam kurun waktu delapan belas jam sehari ia dapat mengumpulkan berpuluh-puluh lembar uang seribu-an.

Minimal tiga puluh lima ribu atau empat puluh lima ribu rupiah maksimalnya. Artinya ia dapat menjual plastik 35 sampai dengan 45 buah setiap harinya. Selain plastik-plastik hitam besar yang ia bawa untuk dijual ia juga membawa tas kecil hitam ala pendaki gunung yang selalu ia slempangkan. Jadi jika turun hujan, ia tidak takut bila uang yang  telah ia kumpulkan basah terkena air hujan.

Pekerjaan yang dijalaninya akhir tahun lalu ini membuat ia memiliki sahabat-sahabat yang dapat menghiburnya jika ia merasa kelelahan bekerja dari pagi hingga malam. Sakit maag yang terkadang timbul pun tidak digubrisnya.  “Yah, namanya juga cari uang kak. Saya mah senangnya aja kalau kerja gini. Kan Reno dapat uang”.

Lulusan MTS Nurul Hikmah di Cibubur ini bila ditanya tentang cita-cita, ia hanya berbicara pendek sambil menatap kosong: “Kadang suka sedih kalau liat seragam sekolah yang di jual di toko di pasar ini.” Tetapi apa daya seorang remaja ini karena ayahnya, Endang, hanya menunggui hasil Reno menjual plastik di rumah, dan ibunya, Cicih, harus menjaga dan mengurusi adik bayi yang baru lahir.

Hutang satu minggu sekali di toko kelontong membuat motivasi bocah lelaki ini rela bekerja tanpa meneruskan pendidikan yang dicita-citakan. Walaupun terkadang merasa terbebani dengan tanggung jawab yang besar itu, ia tetap sayang dengan keluarganya dan menghormati ayahnya sebagai kepala keluarga. Karena ialah tulang punggung dan tumpuan keluarganya.

Tawaran pekerjaan sebagai penjaga konter siomay di Pusat Grosir Cililitan pun ditolaknya karena ayahnya tidak setuju dengan alasan anak lelaki satu-satunya itu tidak akan senang bekerja di dalam toko. “Saya tanya bapak saya dulu bu. Kalau bapak bilang ga boleh, ya ga boleh. Kalau bapak Reno bilang boleh, ya ibu datang saja besok ke sini lagi”, kalimat tersebut acap kali terucap dari mulutnya bila tawaran atau kesempatan datang menghampirinya tanpa kita tahu apakah Reno si penjual plastik menjawab dengan hati yang ikhlas untuk tidak mengambil tawaran itu.