Mimpiku…Mimpimu…Mimpi Kita Semua
November 16, 2009 at 8:21 am , by komjakarta
Oleh: Sarma Manurung *
“Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28 : 20)
Ayat itulah yang aku pilih di salah satu sesi retret yang dibawakan oleh Romo JN Haryanto SJ di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur 16-18 Oktober lalu. Bagiku, ayat itu berisi kewajiban selama masih mengaku sebagai pengikut-Nya. Kewajiban apa? Kewajiban untuk mengajar dan mengajar. Mengajari murid-muridku untuk hidup seturut ajaran Yesus. Apa yang diajarkan Yesus? Tentu ajaran tentang keadilan dan kasih.
Ajaran tentang kasih memang masih menjadi pekerjaan rumahku. Sudah banyak teori yang kuketahui, tapi aku belum mampu menerapkannya secara menyeluruh. Ajaran tentang keadilan pun demikian. Terlalu banyak ketidakadilan di dunia yang kugeluti ini. Ada yang muncul secara otomatis, tapi banyak juga yang muncul karena dikondisikan. Untuk alasan itulah, seringkali aku kehilangan kata-kata di depan murid-muridku jika kami harus berdiskusi tentang keadilan di sekolah.
Aku teringat ketika masih mengajar di Pulau Sumatra. Di sebuah sekolah yang dikategorikan sebagai sekolah bermutu. Hal yang wajar karena sekolah itu memang berada di bawah naungan sebuah yayasan besar yang berpusat di Tangerang. Pihak yayasan sangat menjaga kualitas sekolah-sekolah yang mereka dirikan. Pihak yayasan juga mengirimkan guru-guru bergelar master untuk mengajar disana. Secara singkat, murid-murid di sana bisa memperoleh pendidikan yang kualitasnya disesuaikan dengan sekolah-sekolah di Pulau Jawa.
Namun, tidak semua sekolah di daerah itu bisa merasakan hal yang sama. Sekolah-sekolah yang dinaungi yayasan kecil tentu tidak bisa memberikan fasilitas seperti itu. Bahkan beberapa sekolah negeri pun hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Ada banyak sekolah tidak memberikan mata pelajaran komputer, ada banyak sekolah yang tidak mempunyai laboratorium, ada banyak sekolah yang gurunya masih digaji dengan nominal yang sangat kecil, bahkan masih banyak sekolah yang murid-muridnya tidak memiliki buku pelajaran. Kondisi tidak adil seperti inilah yang selalu membuatku geram.
Pemerintah terlalu sibuk mengurusi sekolah-sekolah di Pulau Jawa. Sekolah-sekolah ditatar sedemikian baik. Guru-guru diberikan pelatihan, tunjangan khusus dan fasilitas-fasilitas lain yang belum tentu diketahui guru-guru di daerah. Murid-murid diberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tidak peduli sekolah itu makmur atau tidak. Standar sekolah selalu diperbaiki. Mulai dari standar nasional sampai dengan standar internasional. Ketika Romo Hari meminta kami untuk menuliskan sebuah komitmen, tanpa ragu aku langsung menuliskan komitmenku untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Impian tentang kualitas pendidikan yang merata dari Sabang sampai Merauke.
Setelah menuliskan komitmen itu, Romo Hari memberi tahu bahwa kami harus membacakannya di depan altar, yakni ketika kami menerima berkat perutusan. Saat itu aku langsung terkejut luar biasa. Aku ragu dengan apa yang kutulis. Pada saat misa penutupan program KOMJak, suasana sangat hening. Satu persatu temanku maju untuk menerima berkat. Ada yang mengucapkan janji dengan datar namun ada juga yang sungguh-sungguh penuh penghayatan. Beberapa dari teman yang sudah mengucapkan janji tidak dapat menahan tangis. Hari itu memang sangat istimewa. Tidak ada seorang pun yang tertawa atau berkomentar melihat teman yang menangis. Masing-masing sibuk dengan ikrar yang akan diucapkannya.
Mbak Mike memanggil kami satu persatu. Tidak jelas alasan mengapa Mbak Mike yang didaulat mengemban tugas itu. Tiap kali melihat Mbak Mike, aku selalu mengingat masa-masa di mana aku benar-benar membutuhkan sosok yang mengerti hukum tentang hak-hak anak. Cukup lama kami membahas perihal dua anak yang akan diserahkan padaku. Anak-anak yang selalu membuatku punya alasan untuk tetap memperjuangkan keadilan dalam pendidikan.
Di sana juga ada Mas Felix. Fasilitator yang mendampingiku selama modul pendidikan, modul yang kupilih sendiri sesuai dengan minatku. Sebagai sesama pengajar, kami cukup sering berdiskusi tentang pendidikan, mulai dari hal serius sampai hal-hal konyol yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Dia juga fasilitator yang selalu memberiku semangat di saat aku hampir meninggalkan KOMJak karena merasa terlalu lelah. Selalu membantuku mencari solusi untuk setiap masalah yang kutanyakan padanya, bahkan ketika masalah itu berada jauh di luar kapasitasnya.
Di sekitar altar itu juga masih ada Awi yang menjadi koordinator KOMJak pertama ini. Vic yang akan menjadi koordinator KOMJak angkatan kedua dan juga Mas Thomas yang menjadi rekan sekerjaku di kelompok BIRU. Sebenarnya aku berharap ada Mas Bayu di sana. Sekadar ingin disaksikan oleh seorang yang sering menjadi sumber informasi, rekan diskusi dan teman bertengkar. Tapi tampaknya dia terlalu sibuk sehingga harus melewatkan peristiwa penting ini.
Akhirnya, tiba giliranku untuk mengucapkan janji. Pikiranku benar-benar kacau. Aku bahkan butuh waktu cukup lama untuk bisa membacakan isi janjiku. Ternyata, usaha untuk menuliskannya jauh lebih mudah dibanding dengan usaha untuk membacakannya di depan altar.
Tulisan itu benar-benar membebaniku. Terlalu berat untuk seseorang dengan berat badan 42 kilogram. Di kertas itu tertulis bahwa aku akan terus berusaha untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh. Membuat rentang kualitas pendidikan di Indonesia hanya seperti pohon mangga dan pohon rambutan, bukan seperti tiang listrik dan tiang jemuran. Aku bahkan menuliskan bahwa jika aku tidak dapat mencapainya, aku akan menyuruh murid-muridku melakukannya.
Aku tidak tahu apakah impian itu akan tercapai pada masa hidupku atau tidak. Aku bahkan tidak tahu apakah ada orang lain yang mempunyai mimpi yang sama atau tidak. Yang aku tahu, KOMJak menjadi wadah pertama di mana aku berani mengungkapkan mimpiku tentang pendidikan. Mimpi yang kusimpan selama belasan tahun dan sekarang diketahui oleh belasan orang yang juga mempunyai mimpi-mimpi luar biasa. Mimpi-mimpi yang siap kami bagikan pada para pemimpi lain yang akan bergabung dalam program KOMJak berikutnya. Teman-teman angkatan Fransiskus Xaverius, mari wujudkan mimpi-mimpi kita !
* Sarma Manurung: Guru Matematika di sebuah sekolah swasta di Tangerang
Category Inspirasi / Tags: Tags: mimpi, orang muda, /
Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Google, Twitter, Yahoo, reddit, Blogmarks, Ma.gnolia.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
by Lina
On November 21, 2009 at 1:25 am
Nice sharing.
Selamat berjuang, Bu Sarma!
JLU
by Fransiskus Asisi Slamet Harjaya
On January 2, 2010 at 2:23 pm
Semoga sarma yang saya kenal ini tidak salah orang ya, Selamat sarma dikau bergabung di komjak. Semoga apa yang kau cita citakan dapat terlaksana.
Dari Fransiskus Asisi Slamet Harjaya (Paat)
IKA MIPA Unika Parahyangan
by Sarma
On February 10, 2010 at 5:18 am
Paaaaattttt…..
ya alloh, akhirnya ketemu lagi.
Tapi koq malah di web KOMJak ya….
Cita-cita ?
as u know me, i’ll never stop till I got it hehehe…
Dari Martha Sarma Manurung (Sasa)
IKA MIPA Unika Parahyangan