oleh Felix Iwan Wijayanto

Kreativitas mungkin bukan barang sulit untuk ditemukan dalam diri orang muda pada umumnya. Asumsi ini terutama mencakup kreativitas dalam kaitannya dengan seni. Namun, kreativitas yang dimaksud dalam kualifikasi keenam KOMJaker ini berlingkup lebih luas daripada sekadar kreativitas seni, melainkan kemampuan membangun/merintis pembaruan dan akhirnya menemukan/menciptakan kebaruan dalam segala dimensi kehidupan, entah secara kognitif (cara berpikir), afektif (cara mengolah rasa) maupun konatif (cara bersikap, berperilaku dan mengekspresikan diri). Mengapa kreativitas seluas itu sangat penting dikuasai oleh seorang KOMJaker?

 

photo: nikkijohn.com

Karena program KOMJak didedikasikan bagi sejumlah orang muda Katolik yang ingin mengembangkan dirinya secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif/intelektualnya, afektif/olah rasanya, hingga konatif/sikap, perilaku, dan keterampilan hidupnya. Nah, dalam proses pengembangan diri secara komprehensif itu setiap KOMJaker akan menghadapi situasi-situasi “lama” yang butuh disegarkan dan dibarui, entah ad intra di dalam dirinya sendiri, maupun ad extra, di lingkungan sekitarnya.

Kreativitas berarti kapasitas membarui situasi yang bermodal keberanian menembus batas-batas atau sekat-sekat. Lantas, perwujudan/aktualisasi keberanian menembus batas itu hendaknya melahirkan ide-ide, olah batin dan perilaku yang baru, yang lebih baik, yang memberdayakan, dan mencerminkan misteri inkarnasi Allah dalam daging manusia Yesus sendiri untuk membarui kehidupan manusia dan menyegarkan relasi manusia dengan Allahnya.

Kreativitas dalam arti luas ditunjukkan oleh kondisi-kondisi yang serba bersifat baru. Cara berpikir lama selalu dibuka untuk hadirnya kritik dan kemudian lahirlah cara berpikir baru yang lebih terbuka (open mind) dan kritis. Cara mengolah batin yang lama harus dikembangkan untuk semakin peka pada panggilan Allah dan sensitif pada ketidakberesan. Cara bertindak lama harus dibarui agar lebih konstruktif dan memberdayakan.

Maka, kreativitas yang luas dalam diri seorang KOMJaker tampak dari banyak gejala, misalnya kemampuan menemukan atau menciptakan, mengungkapkan, dan memanfaatkan ide-ide baru, cara memahami dan mendekati persoalan yang mampu mempertimbangkan lebih banyak aspek, serta cara menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan alternatif-alternatif solusi (tidak mentok di solusi tunggal). Kaya alternatif menjadi salah satu kunci kreativitas ini.

Namun, kebaruan akibat daya kreatif musti terikat dengan arah-tujuan yang jelas. Kreatif mungkin bersifat liar, tapi liar yang bertujuan. Demikian pula orang muda, dan tak terkecuali KOMJaker, perlu mengembangkan sifat-sifat liarnya, namun liar yang mengarahkan peziarahan hidupnya pada tujuan-tujuan tertentu hingga sampai pada tujuan manusia diciptakan, yakni untuk memuji dan memuliakan Allah melalui segala ekspresi arti/makna hidupnya sendiri.