Oleh: Felix Iwan Wijayanto


Prolog
Seperti yang bisa dicermati dalam desain programnya, KOMJak bertujuan untuk membentuk sejumlah kader orang muda Katolik yang memiliki sejumlah kualifikasi tertentu: misalnya kritis, terbuka pikirannya (open mind), dan tetap low profile, punya kemampuan survival menghadapi tantangan berat hidup di tengah masyarakat, dsb. Tulisan berseri ini ingin mengilustrasikan secara lebih konkret bagaimana unsur-unsur kualifikasi itu sungguh-sungguh muncul/tercermin dari integritas kognitif, afektif sekaligus konatif setiap KOMJaker.

“Kritis” memiliki makna kemampuan seorang KOMJaker untuk semakin jeli melihat/mencermati fakta-fakta/kenyataan yang ditemuinya setiap hari.

Kemampuan itu diikuti sikap ingin selalu bertanya atau mempertanyakan: mengapa/bagaimana kenyataan itu terjadi. Biasanya seseorang yang kritis tidak mudah puas dengan cara pandang dan pemahamannya tentang fakta/kenyataan tersebut dan –oleh karena itu—selalu berusaha menemukan jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan yang dimunculkannya sendiri. Ke arah perkembangan seperti itu pulalah seorang KOMJaker perlu memproses dirinya.

Untuk menjadi seseorang yang kritis, KOMJaker sebaiknya tidak mudah percaya terhadap cara pandang orang lain dan cara orang lain memahami suatu kenyataan, sebelum dia menemukan/mendapatkan penjelasan yang memadai terhadap kenyataan tersebut. Lantaran daya kritisnya itu, seorang KOMJaker juga tidak mudah puas atas kesimpulan tertentu yang berhasil ditemukannya sendiri, bahkan ia tidak mudah puas pada cara berpikirnya sendiri yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan tertentu. Oleh karena itu, sikap kritis juga mendorong kehendaknya untuk sekuat tenaga mengeksplorasi dan mengembangkan cara berpikirnya terus-menerus, entah dengan memperkaya pengalaman dan pengamatan pada realitas atau melibatkan wacana-wacana baru yang dianggapnya relevan untuk membantu pengembangan cara berpikirnya itu.

Tingkat kekritisan semacam itu didukung oleh proses dialektika yang menggambarkan proses pembangunan suatu entitas ide tertentu yang senantiasa saling membentur-benturkan antara thesis awal, anti-thesis terhadap thesis awal tersebut, dan anti-thesis terhadap anti-thesis, dan begitu seterusnya yang mungkin tidak akan pernah selesai mencapai sinthesis final.

Terdapat sekian banyak contoh berkembangnya ide besar yang mempengaruhi sejarah peradaban manusia yang berlangsung dalam proses dialektis tersebut. Ide bahwa bumi mirip bidang datar serupa meja mendapat perlawanan dari ide baru bahwa bumi berbentuk bulat. Ide bahwa bumi adalah pusat tatasurya mendapat perlawanan dari ide baru bahwa mataharilah pusat tatasurya. Ide bahwa persaingan antarmanusia menjadi pengabsahan atas dominasi manusia yang satu terhadap manusia yang lain dilawan oleh ide tentang hakikat manusia yang memiliki hak asasi dan (oleh karena itu) tidak boleh begitu saja dikuasai dan ditindas oleh manusia lain. Ide bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan jalan menuju kesejahteraan umum dan kesejahteraan kelompok “atas” akan menetes ke bawah hingga memberi berkah bahi kelompok di bawahnya terbukti gagal setelah dilawan dengan ide bahwa akar ketidaksejahteraan adalah ketidakberdayaan dan (oleh karena itu) kesejahteraan membutuhkan pilar pemberdayaan. Dan masih banyak pertentangan-pertentangan antar ide lain yang memperlihatkan kepada kita betapa sejarah peradaban manusia bergerak oleh karena dialektika, pertentangan antar ide hingga menghasilkan ide-ide baru yang lebih meningkatkan kualitas kemanusiaan.

Cara berpikir yang kritis pada gilirannya mempengaruhi pembentukan sikap yang kritis pula. Sikap kritis KOMJaker ditunjukkan dari sikapnya yang tidak reaktif, terburu-buru, apalagi emosional terhadap situasi atau persoalan, melainkan sikap yang hati-hati, penuh pertimbangan, sadar risiko dan siap sedia mempertanggungjawabkannya.