oleh: Felix Iwan Wijayanto

photo: adaidesaja.blogspot.com

Meski sulit mencari istilah dalam bahasa Indonesia yang sepadan dengan “low profile”, namun sekurangnya makna/arti kualifikasi KOMJaker ketiga ini setara dengan sifat-sifat tidak menonjolkan diri, rendah hati, dan tidak mendominasi relasi dengan sesama di sekitarnya. Sikap ini biasa ditunjukkan oleh mereka yang ingin selalu tampil sebagai orang biasa, meski sesungguhnya memiliki kapasitas unggul di bidang-bidang tertentu.

Mengapa kualifikasi sikap low profile sangat penting dimiliki oleh seorang KOMJaker? Karena KOMJaker adalah sejumlah orang yang terseleksi/terpilih untuk mengikuti proses pembelajaran pengembangan diri secara khusus dalam KOMJak. Sejak awal kekhususan tersebut ditujukan demi efektivitas proses pembelajaran itu sendiri. Namun, berada dalam kondisi khusus seperti ini sering menggoda orang untuk merasa istimewa dan diistimewakan, lalu pada gilirannya menggodanya pula untuk merasa lebih istimewa, lebih baik, lebih unggul dibandingkan orang lain. Pendek kata: itulah godaan untuk high profile.

Andai perasaan-perasaan serba lebih itu disimpannya sendiri dalam hati, tentu tidak akan menjadi masalah. Apalagi, perasaan-perasaanserba lebih itu segera direfleksikannya untuk memperoleh makna yang lebih dalam: apa maksud Allah mengaruniakan kelebihan-kelebihan ini kepadaku?

Namun persoalan sering muncul manakala perasaan-perasaan serba lebih itu mendorong munculnya sikap-sikap sombong, keinginan memegahkan diri, sehingga menghambat keterbukaan pikiran (open mind), merasa dirinya paling benar/hebat/baik, mengabaikan peran orang lain dalam perkembangan hidupnya, atau bahkan melupakan campur tangan Allah atas perkembangan hidupnya itu. Pada titik itulah ia jatuh terjebak dalam tipuan psikologis yang akan menguburkan peluang-peluang perkembangan dirinya sendiri lebih lanjut, dan merusak relasi sosialnya dengan sesama, bahkan merusak relasi pribadinya dengan Allah sendiri.

Maka, kualifikasi low profile pada diri seorang KOMJaker lebih daripada sekadar hal yang membedakannya dengan kader-kader muda lain –entah yang Katolik atau berlatarbelakang apa pun—yang mungkin mengalami saat semakin dikader merasa high profile. Tidak! Low profile-nya KOMJaker justru sebuah kualifikasi yang menginternalisasikan (menghayati) dan mengekspresikan (mewujudkan) teladan Maria saat ia diundang secara khusus berpartisipasi secara khusus pula dalam proses inkarnasi (penjelmaan) Allah dalam pribadi Yesus, putra Maria dan putra Allah: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38). Sikap low profile yang bermakna penyerahan total pada kehendak Allah itulah yang layak dan sepantasnya diwarisi oleh seorang KOMJaker.

Low profile-nya KOMJaker harus dibangun sejak awal, selama berproses di KOMJak, dan demikian seterusnya hingga akhir kehidupan yang menandai akhir perutusannya sebagai anak-anak Allah. Meski pada proses formasi (selama program pembelajaran KOMJak) dan tindaklanjutnya (pasca proses formal KOMJak) seorang KOMJaker dituntut untuk mengekspresikan diri dan segala potensinya secara luas, tidak berarti sikap low profile telah ditinggalkan. Bahkan, selepas dari proses formal KOMJak, seorang KOMJaker didorong untuk semakin intens mengaktualisasikan dan menyumbangkan hasil pembelajarannya kepada pembangunan dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya, Gereja dan masyarakat, sikap low profile ini harus tetap dijaga. Pada titik itulah seorang KOMJaker mengupayakan semakin banyak orang ikut menikmati buah-buah KOMJak tanpa ia perlu memamerkan dirinya sebagai KOMJaker. Dengan demikian, biarlah sesamanya semakin berkembang pula, sementara KOMJak dan ia sebagai KOMJaker terbebas dari kebutuhan untuk dikenal, dihargai, disanjung karena tindakannya berbagi rahmat itu.