oleh Felix Iwan Wijayanto

Kualifikasi keempat KOMJaker ini mungkin memicu kontroversi. Betapa tidak? “Survival” mungkin lebih dikenal sebagai daya naluriah (instinctive) binatang dan tumbuhan untuk bertahan hidup, sehingga tak layak dipinjam sebagai istilah penjelas situasi manusia, termasuk orang muda dan KOMJaker. Namun, untuk sementara istilah “survival” dipinjam dalam maknanya yang berlaku untuk kapasitas diri manusia dalam mengambil sikap (adjustment) saat menghadapi tantangan berat hidup di tengah masyarakat.

Survival dalam arti mempertahankan kelangsungan hidup dan keberartian/keberadaan sebagai pribadi manusia merupakan kapasitas diri yang sangat penting mengingat semakin beratnya tantangan hidup sosial di tengah masyarakat akibat kompleksitas masalah yang harus dihadapi manusia dalam relasinya dengan sesamanya dan lingkungan sekitarnya.

Sekadar menampilkan ilustrasi agak ekstrim, fenomena bunuh diri yang marak terjadi akhir-akhir ini menunjukkan begitu rapuhnya daya survival pribadi-pribadi tertentu dalam menghadapi masalah hidupnya, yang toh sebenarnya bukan tanpa jalan keluar. Ironinya, masalah-masalah yang dihadapinya tersebut kadang-kadang terkesan terlalu sederhana untuk memunculkan kondisi frustasi sehingga harus ditanggapi dengan mengakhiri hidup. Sementara, dalam sisi lain yang tidak terlalu ekstrim, kita menyaksikan betapa banyak orang –tak terkecuali orang muda—yang begitu mudah jatuh dalam mengambil sikap saat menghadapi masalah-masalah dan situasi tertentu, hingga mengabaikan banyak hal seperti kejernihan rasionalitas, kepekaan mendengarkan hati nurani dan prinsip-prinsip etis dalam pengambilan tindakan. Sekadar contoh, banyak profesional muda ikut korupsi karena gagal melakukan adjustment terhadap arus itu dan sekadar ber-adaptasi (menyesuaikan diri) terhadap lingkungan kerja yang korup.

Dalam konteks itu, KOMJaker ingin dibentuk menjadi pribadi-pribadi orang muda yang mampu melakukan adjustment, meski harus berhadapan dengan risiko tindakan melawan arus, terhadap masalah dan situasi hidup yang menghimpit keberadaannya sebagai manusia dan keberartiannya sebagai murid Yesus, hingga ia mampu survive dalam arus jaman yang semakin menampakkan wajah dehumanisasi (membunuh sendi-sendi kemanusiaan) lebih daripada mengarahkan hidup pada jalan kebenaran Ilahi.

Secara kognitif (olah pikir), kemampuan untuk survive ditampakkan dengan cara berpikir yang realis, idealis dan progresif sekaligus. Artinya, orang muda perlu melihat dengan jelas terjadinya banyak masalah sosial sesuai kenyataannya apa adanya, namun pada saat yang sama selalu memiliki landasan dan kerangka berpikir yang benar (secara etika dan moral) untuk mengambil sikap terhadap persoalan itu dan mampu menindaklanjutinya dengan menemukan ide-ide cerdas untuk menghadapinya sesuai prinsip etika dan moral tersebut.

Sementara secara afektif (olah rasa), kemampuan untuk survive ditunjukkan dengan kestabilan kondisi kejiwaan yang semakin tenang dan matang, tidak mudah terombang-ambing/resah-gelisah, dan mantap saat mengambil keputusan dan selama melakukan tindakan yang benar atas dasar olah pikir dan olah rasanya itu.

Sedangkan secara konatif (olah sikap/perilaku), kemampuan untuk survive diwujudkan dengan sikap dan perilaku yang mantap, tepat, benar, dan bisa dipertanggungjawabkan, hingga pada akhirnya ia mampu memenangkan pergulatannya dalam masalah-masalah atau situasi problematis atas dasar prinsip-prinsip.

Ciri-ciri lain adanya daya survive ini dalam diri seseorang misalnya: tidak mudah bingung menghadapi masalah karena telah memiliki satu atau bahkan lebih kerangka pikir dan cara beranalisis dalam memikirkan, memahami dan memecahkan masalah itu, tidak takut apalagi melarikan diri dari masalah, tidak bergantung pada nasihat atau bantuan orang lain untuk menghadapi atau memecahkan masalahnya sendiri, tidak mudah mengeluh apalagi putus asa, dan selalu menunjukkan ekspresi optimis terhadap hari depan.

Pada akhirnya, seseorang yang punya daya survive pastilah seseorang yang sukses hidupnya. Bukan lantaran dia kaya-raya, menduduki jabatan penting di tengah masyarakat, atau tercukupi (bahkan berlebihan) fasilitas-fasilitas hidupnya, melainkan berhasil mencapai visi atau mimpinya entang makna hidupnya sendiri dan mampu ikut menciptakan situasi terbaik bagi lingkungan di sekitarnya.