oleh: Felix Iwan Wijayanto


“Open Mind” atau berpikiran terbuka mengandung makna kesediaan/kemauan seorang KOMJaker untuk menyadari terdapat banyak segala hal positif di luar dirinya, dan khususnya ide-ide yang membawakan kebenaran-kebenaran di luar pikirannya dan keyakinannya sendiri. Pikiran yang terbuka semacam itu didasari oleh kesadaran bahwa diri manusia –termasuk pikirannya—serba terbatas dan oleh karena itu tidak mungkin memahami/menguasai segala situasi yang melingkupi kehidupannya tanpa pengaruh (baik positif maupun negatif) dari pihak-pihak dan unsur-unsur lain.

KOMJaker yang berpikiran terbuka ditunjukkan dari kesediaannya untuk berpikir positif dan gemar mendengarkan pendapat orang lain, cenderung berasumsi bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi-potensi kebaikan yang bisa dipelajarinya. KOMJaker yang berpikiran terbuka cenderung termotivasi untuk menimba pelajaran-pelajaran penting di balik pengalaman bermakna dari orang lain.

Namun, yang perlu dipahami, pikiran yang terbuka tidak hanya berhubungan dengan tindakan mencari kebaikan dari orang lain, melainkan juga –sebaliknya— terbuka untuk berbagi kebaikan kepada orang lain. Maka keterbukaan pikiran seharusnya melahirkan kecenderungan, kerelaan/kesediaan dan kegemaran untuk membagikan hal-hal positif kepada orang lain pula.

Pada titik itulah seorang KOMJaker punya arti kehadirannya bagi sesama di sekitar hidupnya sehari-hari: memprovokasi terjadinya relasi yang saling menghargai, saling belajar, dan saling berbagi, demi situasi hidup bersama yang semakin lama semakin baik.