oleh Riky Setiawan

Ilustrasi. Sumber: i191.photobucket.com

12 Mei 1998. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, aktifitas di persimpangan Grogol berjalan seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang untuk pergi ke kantor dan para mahasiswa pun bersiap untuk kuliah. Demikian pula halnya dengan Yati (bukan nama sebenarnya). Ia menata barang dagangannya di depan halte bus, memulai hari ini dengan harapan membawa pulang uang yang banyak untuk membayar uang pangkal anak sulungnya yang akan masuk STM.

Siang pun beranjak, aktifitas normal di kawasan itu berubah mencekam. Demonstrasi mahasiswa menyerukan turunnya rezim orde baru semakin memanas. Kawanan demonstran di depan kampus Trisakti dikepung aparat bersenjata lengkap menjadi pemandangan saat itu. Yati masih menggelar barang dagangannya. Bocoran dari polisi yang berada di pos sebelah bahwa tidak akan terjadi apa-apa yang membahayakan membuatnya menjadi tenang.

Sekitar pukul tiga sore, keadaan menjadi tidak terkendali. Kawanan massa mulai beringas dan bergerak untuk menyerang pusat perbelanjaan Citraland. Niat tersebut tidak tercapai karena Citraland telah dijaga aparat dan dipagari kawat berduri. Sasaran pun berubah ke arah pos polisi, di samping tempat Yati berjualan. Pos tersebut dibakar oleh massa yang marah.

Dari atas jalan tol, tembakan membabi buta segala macam peluru diarahkan ke arah massa. Yati yang tidak tahu apa-apa pun terkejut dan langsung lari menyelamatkan diri, tak lupa dengan mendorong gerobak dan barang dagangan, hasil jerih payahnya selama ini. Tak terkira ketakutan yang dialaminya. Hidup atau mati tak dirasakan lagi, pokoknya yang dipikirkannya hanya lari, lari, dan lari. Barang dagangan pun tak lagi dipikirkan. Ketika telah mencapai tempat yang aman baru Ia menyadari bahwa setengah dari barang dagangannya telah habis dijarah massa.

Trauma akan kejadian yang hampir merenggut nyawanya terus menghantui selama lima bulan. Selama waktu itu pula ia memilih pulang ke Semarang, kota kelahiran yang telah ia tinggal sejak berumur 12 tahun, untuk menenangkan diri. Setelah itu ia kembali ke Jakarta dan memulai usahanya di kawasan semula. “Saya masih harus mencari uang membayar cicilan uang pangkal anak saya. Waktu itu saja baru lunas setelah setahun.” ujarnya.

Kini, hampir 13 tahun sejak kejadian memilukan yang dicatat sebagai sejarah kelam bangsa  Indonesia itu, Yati masih setia berjualan di kawasan strategis yang dikelilingi oleh kampus, terminal, mal, dan apartemen itu. Rambut yang telah memutih dan tubuh yang mulai membungkuk tidak mengurangi keterampilannya melayani pembeli. Panas terik terasa membakar kulit dan asap knalpot bus-bus yang membuat dada menjadi sesak bukan menjadi penghalang.

Gerobak beroda dua berukuran 150x60x70 cm, sebuah etalase kaca kecil, dan dua boks pendingin, menjadi teman setia Yati menghadapi kerasnya kehidupan di Jakarta. Kala cuaca tidak bersahabat dengannya, ia menarik terpal berwarna biru untuk melindungi dari panas dan hujan. Ketika malam datang, sebuah lampu 5 watt dengan listrik curian dari tiang listrik, menerangi gerak-geriknya melayani orang-orang yang sedang dilanda kehausan.

Tiga puluh tahun sudah ia berjualan di kawasan itu, lebih lama dibandingkan umur pusat perbelanjaan Citraland. Selama kurun waktu itu pula, ibu dari dua orang anak laki-laki yang semuanya telah berkeluarga ini, harus berpindah-pindah tempat menghindari penggusuran. Sampai sekarang pun, tak jarang ia masih harus berlari menyembunyikan gerobak dan dagangannya, bermain kucing-kucingan dengan aparat. Sadar akan keberadaannya yang liar dan mengganggu wajah kota Jakarta, Yati selalu menuruti “perintah” dari aparat satpol PP. “Saya disuruh dagang mulai dari jam sepuluh pagi saja, karena kalo pagi-pagi sering ada pemeriksaan dari atasannya. Yah, namanya saya salah dagang liar di sini, diturutin aja lah. Daripada ntar ditertibkan dan digebuk-gebukin kayak yang di tivi-tivi.” ujarnya.

Kegigihan Yati mengarungi kerasnya persaingan usaha di Jakarta menghasilkan sebuah rumah di Parung, Bogor. Anak-anaknya pun berhasil mengenyam pendidikan hingga SMA dan sekarang sudah mandiri. Anak sulungnya telah bekerja di perusahaan swasta, sedangkan si bungsu membuka usaha serupa tak jauh dari tempat tinggalnya.

Kehidupan di Jakarta yang ramai dan menjanjikan membuatnya mengesampingkan kehidupan mapan yang seharusnya dapat ia raih di daerah. Ia rela membayar sewa 500 ribu rupiah per bulan untuk sekadar tinggal layak di kota metropolitan ini. Tak ingin ketinggalan, sang suami pun membanting tulang menjadi tukang ojek di malam hari. Kesempatan untuk membuka usaha di Parung pun ditampiknya demi penghasilan yang menurutnya lebih memadai di Jakarta. “Kalo di Parung mah sepi. Enakan jualan di Jakarta, sesusah-susahnya di sini, tapi masih ada yang beli. Kan orangnya rame.” begitu ujarnya.

Satu hal yang masih sangat disyukuri oleh Yati dari tempatnya berjualan selama ini adalah tidak adanya toko-toko retail modern yang dibangun di dekat situ. Maklum, di kawasan ini hanya ada supermarket besar di Citraland dan apartemen Mediterania. “Kan orang males, masak mau beli air satu botol saja harus jalan jauh-jauh ke sana dulu.“ katanya. Minimarket tidak dijumpai di kawasan ini. “Kalo sampe ada mereka mah, dagangan saya pasti habis.” tambahnya.

Hal yang sangat disayangkan dan membuat Yati menjadi sedih adalah pembangunan di Jakarta yang seperti tidak berpihak kepadanya, orang-orang golongan bawah. Busway!! Salah satu program yang digalakkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak beberapa tahun belakangan ini menjadi ancaman bagi perkembangan usaha Yati dan teman-temannya. “Sebelum ada busway dagangan saya rame. Sekarang jadi sepi. Dulu orang-orang pada ngumpul nunggu bus di depan sini, sekarang pada pindah ke sana tuh.” katanya sambil menunjuk ke arah halte busway yang letaknya persis di persimpangan Grogol.

Usia yang telah mendekati setengah abad belum juga menghentikan perjuangan Yati mengais rejeki di belantara Jakarta. Entah sampai kapan ia akan menjalaninya. Mungkin hanya ia dan Tuhan yang tahu.