oleh Stephanie Rusli

Sejak akhir abad lalu, khususnya setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia. Keadaan seperti ini membuat ibu kota negara RI sebagai kota dengan penduduk dari berbagai latar belakang budaya. Dalam kondisi seperti itu, tampaknya warga kota Jakarta telah terbiasa untuk hidup dengan anggota masyarakat dari kelompok yang berbeda-beda.

Lamanya predikat sebagai kota multikultur ternyata tidak sepenuhnya menjadi indikasi bahwa tidak terjadi pembedaan antarkelompok di Jakarta. Sebuah gang di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, ada sebuah rumah kos yang secara jelas memasang tulisan ”Kos khusus wanita muslim”.

Satu gang dari tempat itu, di mana saya tinggal sekarang, pemiliki kos hanya menerima penghuni rumah kos yang adalah wanita keturunan Tionghoa. Sejak rumah kos tersebut dibangun sekitar empat tahun lalu, hanya ada satu wanita non-Tionghoa yang pernah tinggal disini. Wanita beruntung tersebut adalah seorang keturunan Flores yang memang diajak oleh seorang warga rumah kos.

Pada hakikatnya, imajinasi mentalitas yang kaku terwujud dalam penilaian negatif kepada mereka yang dikategorikan outgroup. Sebaliknya, kepada sesama ingroup penilaian yang diberikan selalu positif, disebut prejudice dan stereotype (Martin dan Franklin dalam ”Hubungan Antar Suku-Bangsa dan Golongan Serta Masalah Integritas Nasional”).

Dalam pembedaan anggota suatu rumah kos, ada indikasi bahwa masyarakat yang melakukan pembedaan itu telah melakukan pembatasan diri dari pihak lain. Kelompok Muslim enggan berbaur secara intens dengan warga beragama lain, begitu pula dengan kelompok etnis Tionghoa. Pembatasan yang dilakukan oleh masing-masing kelompok memperlihatkan adanya persepsi kaku atau tidak terbuka, di mana hanya orang dari kelompok yang sama, yang secara positif patut diterima.

Martin dan Franklin tidak memungkiri, bahwa kedua hal itu ada di semua ras, suku-bangsa, kepercayaan, pekerjaan maupun kebangsaan. Prejudice dan stereotype akan terus terjadi pada situasi di mana ada interaksi antar kelompok yang berbeda. Akan tetapi, ketika imaginasi mentalitas tersebut telah terealisasi dalam bentuk tindakan pembedaan, kondisi ini akan menghambat terciptanya integritas budaya, bahkan menimbulkan konflik yang berdampak kekerasan. Melihat pada kehidupan Jakarta yang terdiri dari berbagai macam ras, suku bangsa, kepercayaan maupun kebangsaan, tindakan pembedaan dapat menjadi suatu keadaan krusial yang dapat memecah belah.

Berbicara mengenai adanya perbedaan penilaian antar kelompok, berbagai aspek akan ikut mempengaruhi. Aspek-aspek itu antara lain kedekatan emosional dengan ingroup, pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan pihak terkait, dan sebagainya. Oleh karena itu, tulisan ini hanya akan melihat dari satu pandangan, yaitu penilaian antar kelompok muncul karena adanya pemahaman sejarah yang tidak tepat mengenai relasi antara dua atau lebih kelompok.

Menurut Brown (1993), sejarah yang mereka yakini bukanlah hasil dari penelitian yang punya dasar metodis dan obyektivitas, melainkan dari rumor, gosip, dan legenda. Hal-hal itu biasanya diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Cerita-cerita tersebut kemudian menjadi bagian dari kebiasaan. Dan dengan berlalunya waktu, cerita-cerita ini semakin jauh dari realitas, bahkan semakin banyak bagian yang dilebih-lebihkan. Di dalam cerita-cerita tersebut, kelompok lain seringkali memperoleh cap buruk, sementara kelompok sendiri memperoleh nama baik yang seringkali berbeda dengan realitasnya. Dengan cara pandang semacam ini, semua peristiwa yang terjadi akan meningkatkan intensitas kecurigaan yang sudah tertanam dalam kultur masing-masing. Semua kejadian negatif akan dipandang sebagai suatu afirmasi terhadap mitos yang sudah ada sebelumnya.

Merujuk pada teori Brown, kehidupan warga rumah kos kelompok Tionghoa memang masih menunjukkan tata kehidupan budayanya. Kebanggaan dalam ingroup terlihat dalam pelestarian budaya yang dilakukan seperti pengadaan acara makan bersama pada momen Tahun Baru China. Dalam lingkup pergaulan, mereka terlihat bergaul dengan sesama Tionghoa.

Di sisi lain, isu-isu mengenai konflik laten antara masyarakat pribumi dan Tionghoa yang sudah sejak kecil tersebar di Indonesia, tertanam kuat dalam persepsi masyarakat Tionghoa. Tidak hanya dari orang tua, penyebaran mengenai pembedaan terhadap orang Tionghoa juga disebarkan dari media. Ketika masyarakat Tionghoa di Jakarta menjadi korban kerusuhan Mei 1998, pemikiran warga kos Tionghoa menganggap kelompok lain bersalah dan negatif. Sapaan ”Ling-ling” yang masih sering dilontarkan oleh kelompok pribumi, semakin mempertegas mitos bahwa pria pribumi adalah kelompok yang suka melecehkan.

Melihat proses pembentukan pemahaman dan stereotype yang tertanam di berbagai etnis begitu panjang, maka akan sangat sulit menemukan oknum yang bisa disebut sebagai pihak yang bersalah. Para pelaku mungkin saja adalah mereka yang langsung terkait, ataupun pihak-pihak lain yang sengaja memanfaatkan perbedaan untuk kepentingan tertentu. Di sisi lain, bila pembentukan pemahaman dan stereotype bersifat negatif, dan berkembang pada suatu kelompok yang lebih besar, maka tidak menutup kemungkinan reaksi akibat penilaian tersebut dapat menimbulkan konflik. Contoh-contohnya bisa kita lihat di beberapa konflik di Indonesia. Sebut saja Madura dan Sambas.

Tanpa bermaksud untuk mengurangi kepedulian terhadap keadaan hubungan antar etnis dalam kelompok yang lebih besar, ada baiknya kita mulai membekali diri sendiri agar tidak terjebak dalam kesalahanpahaman antarkelompok yang berpotensi konflik dengan sesama. Salah satu yang dapat kita lakukan adalah dengan melihat kembali, siapakah pihak-pihak yang sesungguhnya berbeda kelompok dengan kita. Dari situ kita diajak dengan melihat lebih jelas, bagaimana relasi yang sesungguhnya terjadi antara kelompok-kelompok, dan kemudian memahami apakah arti pengelompokan yang ada di sekitar kita. Pemahaman yang benar akan pengelompokkan, niscaya dapat membuat kita lebih menghargai kelompok lain.