oleh: Agnes Tyas

Senin (15/2) keramaian mewarnai pinggiran laut di cilincing. Suara serutan kawat yang mengikis kulit-kulit itu menambah ramai suasana di sana. Terlihat sesosok wanita muda,berkulit sawo matang dan bermuka kusut, yang bernama Sumi dengan badannya mungil dengan selendang yang menggantung di pundaknya, terlihat berat sekali bebannya karena ia menggendong anaknya yang berusia 2 tahun.

foto: matanews.com

Wanita lulusan SMP yang berusia 21 tahun itu , terpaksa memilih gubuk yang berada di pinggir laut dengan air keruh yang diwarnai dengan sampah-sampah, untuk dijadikan tempat tinggalnya. Di kawasan kumuh itu juga terdapat rumah-rumah yang berdempetan. Di bawah gubuk yang di tempatinya terdapat lahan yang dipenuhi dengan sampah-sampah dari sisa-sisa kulit kerang, di situlah ia sering melepaskan kerang dari cangkangnya. Tetapi keadaan yang tidak begitu nyaman itu di jadikannya tempat yang sangat penting bagi pengupas kerang, di tempat itulah mereka menyambung hidupnya.

Ibu dari satu orang anak itu setiap harinya mengupas kerang, ia bekerja mulai dari pagi hari hingga petang tiba. Pendapatan yang ia peroleh dari hasil mengupas kerang itu tidaklah sebanding dengan apa yang yang sudah ia lakukan. Dari hasil setiap kg kerang yang ia kupas , ia hanya mendapatkan upah Rp 1250,- . Sedangkan sang juragan yang suka menggantungkan nasib para pengupas kerang itu ,dapat menjual kerang yang sudah siap dijual ke pasar dengan harga yang lebih tinggi.
Setiap harinya Sumi hanya dapat mengupas kerang 4-5 kg, tetapi itu juga kalau sedang musim kerang. Namun jika kerang sedang langka terkadang sumi tidak dapat mengupas kerang sama sekali. Sehingga ia tidak mendapatkan upah. Sedangkan ia harus membiayai kebutuhan hidupnya dengan mengandalkan upah dari sebagai buruh pengupas kerang itu.

Sumi harus bekerja keras sebagai buruh pengupas kerang itu karena pendapatan sang suami yang tidak menentu dan tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Deni (suami sumi) adalah seorang nelayan yang berlayar di laut cilincing juga.

Pendapatan Deni sangatlah minim dalam sekali berlayar ia cuma mendapatkan paling banyak 2 karung kerang. Setiap karung kerangnya dihargai Rp 50.000,- , tetapi dari pendapatan itu Deni harus membagi dua hasilnya dengan ornagtuanya. Ia juga membayar kebutuhan-kebutuhan lain seperti sewa perahu dan membeli bahan bakar perahu. Itu yang membuat ia menjadi tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.

Dalam pekerjaan yang Deni jalani pun memiliki resiko yang sangat tinggi. Seperti teman-teman Deni yang lain yang memiliki nasib yang jauh lebih buruk darinya , sampai-sampai mereka harus mengorbankan nyawanya demi sekarung kerang. Semua itu mereka tanggung sendiri , karena para juragan tidak mau tau tentang keamanan dan kesehatan mereka. Di dalam lingkungan pengupas kerang ini para juragan memang tidak memberika jaminan kepada pekerjanya.

Masih banyak pengupas kerang dan nelayan lain yang memiliki nasib kurang beruntung. Mereka menjadi tidak dapat mensejahterakan kehidupannya karena kurang adilnya perlakuan yang dilakukan oleh para juragan-juragan kerang.