oleh: Franxis Erika

Masih terekam jelas dalam ingatan saya bagaimana sore itu saya menyusuri kembali jalan di depan Pasar daerah Pasar Minggu. Mencari seorang bapak tua yang telah renta; yang saya kunjungi akhir minggu sebelumnya. Sore itu gerimis, dan malam-malam sebelumnya pun hujan tak berhenti mengguyur Jakarta yang kemudian mengakibatkan sebagian Jakarta tenggelam ditelan banjir tak terkecuali daerah Pasar Minggu. Pak Sadi, seorang penjual gorengan yang saya cari-cari ternyata tidak dapat saya temui malam itu karena harus menggantikan istrinya berjualan di warung kopi. Tak bertemu Pak Sadi; namun Pak Rosik pun jadi. Akhirnya sambil menunggu hujan reda di hari yang telah beranjak malam, saya pun saling bertukar cerita dengan Pak Rosik. Fakta-fakta yang saya dapatkan pun tidak jauh berbeda dengan fakta yang saya dapatkan saat berdialog dengan Pak Sadi. Fakta yang begitu mencengangkan saya bahwa seorang penjual gorengan dapat mengumpulkan penghasilan hingga Rp 3.000.000,00 per bulan.

Demikian sedikit perkenalan saya dengan KOMJak – Kampus Orang Muda Jakarta. Sebuah komunitas yang mengajarkan saya berbagai macam hal. Sebuah komunitas yang kembali menyadarkan saya bahwa realita kehidupan itu tidak selalu indah. Sebuah komunitas yang mengajarkan saya mengenai keluar dari zona nyaman saya untuk berjuang menggapai mimpi tanpa meniadakan peran saya bagi sesama. Sebuah komunitas yang mengajarkan saya bagaimana memperjuangkan mimpi-mimpi saya secara cerdas. Sebuah komunitas yang bukan sekedar komunitas melainkan keluarga.

Proses pembelajaran setiap modul mengajak kita untuk langsung menemui realita yang terjadi dalam kehidupan sekitar kita dan tidak hanya berdiam diri sebagai penonton. Berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dari melihat, mendengar dan mencoba merasakan apa yang dialami oleh keseharian para subjek observasi; kemudian disusunlah suatu rumusan masalah dengan sebelumnya mengumpulkan pola-pola permasalahan yang ada.

Berikut hasil analisis fakta-fakta yang saya dapatkan dari proses pembelajaran KOMJak:
Modul 1: Pemerintah dan pemilik modal menyalahgunakan kekuasaan terhadap masyarakat marjinal sehingga terjadi ketidakberdayaan dan kemiskinan.

Modul 2: Konflik pada masyarakat majemuk terjadi apabila etnis melibatkan unsur primordial di ruang publik sehingga menciptakan stereotipe atas etnis lain dalam relasi dominatif dan hegemoni.

Modul 3: Elite politik yang mengutamakan kepentingan pribadi dan/atau kelompoknya mengakibatkan apatisme dan munculnya kebijakan yang tidak populis.

Modul 4: Negara yang mengabaikan kewajibannya dalam pemenuhan hak sipil masyarakat marjinal menyebabkan kurangnya kesadaran akan pentingnya bukti legal identitas serta tidak terpenuhinya hak sipil anak marjinal.

Keempat hasil pembelajaran setiap modul tersebut kemudian dirumuskan menjadi satu struktur kalimat:
“Penyalahgunaan Kekuasaan Oleh Pemerintah Yang Berlatarbelakangkan Kepentingan Pribadi/Kelompoknya Mengakibatkan Ketidakadilan Dalam Masyarakat Yang Berpotensi Menimbulkan Konflik.”

Dari struktur kalimat di atas ditemukan fakta-fakta bahwa ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat dan kemudian menimbulkan konflik disebabkan oleh para penguasa (red. Pemerintah) yang mementingkan kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Para penguasa tidak melihat bahwa kekuasaan yang mereka pegang saat ini bertujuan untuk mencapai cita-cita luhur bangsa dalam rangka perwujudan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia. Kekuasaan yang dipegangnya dijadikan alat untuk memuaskan nafsu akan kebutuhan pribadi maupun kelompoknya. Berikut fakta-fakta yang mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan oleh para penguasa:
• Pelanggaran terhadap hak para Pedagang Kaki Lima yang tergusur karena adanya pembangunan gedung-gedung baru tanpa adanya kebijakan untuk merelokasi ke tempat yang representatif.
• Pelanggaran terhadap hak para Pedagang Kaki Lima yang hingga saat ini belum terfasilitasi untuk bisa memanfaatkan pusat perbelanjaan untuk pelaksanaan kegiatan usahanya.
• Pelanggaran terhadap hak para warga komunitas Cina Benteng untuk mendapatkan identitas dan tempat tinggal yang layak berupa diskriminasi perlakuan dengan dalih pembangunan.
• Pelanggaran terhadap hak warga negara untuk disalurkan aspirasinya oleh Partai Politik.
• Pelanggaran terhadap hak warga negara terutama anak-anak marjinal dalam mendapatkan bukti identitas legal; berupa pungutan liar dalam proses pengurusan dan belum adanya peraturan pelaksana yang mengatur pemenuhan hak atas bukti identitas legal para warga negara yang memiliki tempat tinggal semi permanen.

Pelanggaran-pelanggaran tersebut secara kasat mata diketahui dikarenakan oleh motif pemenuhan kepentingan pribadi dan/atau kelompok:
• Kelanggengan kekuasaan dikarenakan dukungan para pengusaha secara moril maupun materiil dalam kasus Pedagang Kaki Lima dan pencapaian tampuk kekuasaan Partai Politik serta penggusuran komunitas Cina Benteng.
• Tidak adanya keuntungan yang diperoleh apabila melaksanakan tugasnya sebagai abdi negara; dikarenakan jaminan hidup yang telah pasti sebagai PNS dalam kasus pemenuhan bukti identitas legal anak marjinal.

Suatu kondisi yang begitu memiriskan hati saat sesama warga negara yang diberikan kepercayaan untuk bisa mengurus dan melayani bangsa menyelewengkan kepercayaan yang diberikan. Tidak ada lagi kepedulian yang tersimpan dalam masing-masing nurani pribadi bahwa apa yang kita laksanakan juga berpengaruh bagi sesama dan lingkungan sekitar; sekecil apapun itu. Penghargaan bagi masing-masing pribadi sebagai sesama citra Tuhan sudah hilang ditelan nafsu perseorangan.

Proses pembelajaran selama satu tahun di KOMJak membuahkan sebuah “tantangan”. Tantangan untuk terus menggaungkan dan memperjuangkan cita-cita Kerajaan Allah di tengah kondisi dunia modern bagi setiap individu. Bagaimana setiap individu dihargai sebagai satu pribadi yang utuh yang memiliki hak untuk hidup layak dan nyaman; terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohani.

Satu hal lagi yang saya dapatkan dalam proses KOMJak adalah semakin menyadari bahwa tidak setiap kesempatan memiliki situasi dan kondisi seperti yang kita harapkan. KOMJak mengajak kita untuk berjuang dalam setiap kesempatan.

Bukan sesuatu yang mudah menjalani proses pembelajaran di KOMJak. Semangat yang menggebu-gebu di awal proses tidak menjamin bahwa kita akan sampai di akhir. Komitmen dan konsistensi merupakan dua tuntutan yang harus dipenuhi bagaimanapun keadaan yang harus dihadapi.