Generasi Milenial dalam Pusaran Golput, Berbahaya Jika Terus Dibiarkan

Generasi Milenial dalam Pusaran Golput, Berbahaya Jika Terus Dibiarkan

Oleh: Ursula Adeodata Stephania

Maraknya calon-calon pemimpin Indonesia yang berasal dari generasi milenial patut diapresiasi. Selain itu, banyak pula pejabat negeri ini yang bergaya (sok) milenial untuk bisa merebut hati kaum milenial.

Ilustrasi: tulisan dinding di Museum Antara, Jakarta Pusat (30/3). [Dok.Ursula Adeodata Stephania]

Generasi milenial memang memiliki magnet tersendiri. Pasalnya, generasi yang menurut kajian Pew Research Center lahir di tahun 1981-1996 ini mendominasi sekitar 35-40 persen suara di Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019.

Keterlibatan generasi milenial dalam kancah politik negeri ini perlu juga memperhatikan basis pemahaman mereka akan sejarah dan politik Indonesia. Bahwa masih ada generasi milenial yang kurang paham sejarah dan politik Indonesia adalah realitas yang tidak dapat dipungkiri.

Pertanyaan penting: bagaimana latar belakang generasi milenial Indonesia? Generasi milenial adalah generasi yang ‘melek’ teknologi. Berdasarkan Indonesia Millenial Report 2019, sebanyak 70,4 persen milenial mengakses berita terkini melalui media digital karena kemudahan akses, kecepatan, dan multi-tasking.

Mereka cenderung mudah membentuk opini hanya berdasarkan puzzle berita media digital dan kurang melakukan verifikasi pada basis data, pengetahuan, dan informasi yang akurat.

Demikian beberapa hal diatas yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Filsafat STF Driyarkara, DR. A. Setyo Wibowo, SJ, yang akrab dengan sapaan Romo Setyo, dalam diskusi Ngopi Bareng Jesuit bertemakan: ‘Memilih, Hak atau Kewajiban’ pada Sabtu (30/3/2019) di Gedung Sanggar Prathivi.

“Saya pernah ditanya oleh salah satu anak muda, generasi milenial: ‘Memangnya kenapa ‘Mo kalau khilafah memimpin negara ini? ‘Kan Indonesia negara demokrasi’. Saya kebingungan juga menghadapi pertanyaan milenial ini. Bagi saya sederhana, mereka tidak mendapatkan pendidikan Pancasila dan sudah hidup dalam kotak-kotak agama.”

Dilihat dari perspektif sejarah, kemerdekaan, dan demokrasi Indonesia lahir melalui buah perjuangan intelektual para pahlawan untuk mendirikan fondasi negara dan pengorbanan luar biasa para mahasiswa untuk menciptakan iklim demokrasi, misal Mahasiswa 66 dalam menggulingkan Orde Lama dan Mahasiswa 98 dalam meruntuhkan gurita Orde Baru.

KENYATAAN LAINNYA ADALAH SEMAKIN NYATA KEBERADAAN KELOMPOK-KELOMPOK YANG GENCAR MENDIRIKAN KHILAFAH DAN MERONGRONG DASAR NEGARA PANCASILA.

Dalam pembukaan UUD 1945 jelas dinyatakan bahwa kemerdekaan kebangsaan Indonesia disusun atas dasar Pancasila: Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan Indonesia, dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Kedudukan Pancasila berada di atas UUD 1945. Oleh karenanya, segala bentuk usaha mengubah/ mengganti dasar negara Pancasila sama halnya membubarkan negara itu sendiri. Lalu, apa relevansinya dengan golongan putih (golput)?,” tutur Pemimpin Redaksi Majalah BASIS itu..

Artikel ini telah diterbitkan di: https://www.hidupkatolik.com/2019/04/12/35084/generasi-milenial-dalam-pusaran-golput-berbahaya-jika-terus-dibiarkan/