oleh Riky Setiawan

Prolog

Tak terasa sudah 4 modul dilalui di program Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak). Masih lekat dalam ingatanku, tepatnya tanggal 21 Januari 2010, aku melangkahkan kakiku memasuki pelataran Wisma Samadi Klender. Dengan backpack dipunggung dan diterangi temaram lampu taman, aku melangkah mantap menuju Kampus 3, tempat kami akan melakukan Retret Orientasi. “Tidak boleh mundur lagi” begitu ujarku dalam hati, mengingat setahun sebelumnya aku pernah melalui jalan yang sama hanya berpamitan dengan Romo Hari untuk tidak mengikuti retret dan mundur sebagai peserta KOMJak I.

Retret Orientasi ini berbeda sekali dengan retret-retret lain yang pernah kulakukan. Tidak ada sorak sorai, tepuk tangan, dan games menarik. “Tarik napas, hembuskan, ucapkan Yesus…Yesus…Yesus” adalah kata-kata yang akrab bagiku selama 4 hari tersebut. Kitab suci dan buku catatan menjadi soulmate kami saat itu. Tiada hari tanpa kitab suci, catatan, meditasi, dan kontemplasi. Tetapi apa dinyana, ternyata hal-hal tersebut yang membuatku kuat disaat rasa malas dan kebosanan melandaku dalam perjalanan modul-modul KOMJak II ini.

Perjumpaan dengan Realitas

Perjumpaanku dengan “realitas” di KOMJak ini dimulai dengan perjumpaan dengan Ibu Yati, seorang penjual minuman di depan halte bus Citraland. Perjalanan hidup yang dituturkannya begitu membekas dalam benakku. Beliau bukan orang Jakarta, tetapi beliau berjuang keras menyambung nyawa di ibukota negara tercinta ini. Tulisan “Peluru Tak Menghentikan Langkahku” yang pernah kutulis di Kompasiana, menggambarkan betapa berat beban yang harus dipikul Ibu Yati hanya untuk sekedar hidup enak di Jakarta. Dalam perjumpaan yang singkat tersebut, hanya satu permintaan keluar dari mulutnya, yang ditujukan kepada pemerintah daerah, agar pembangunan dilakukan dengan tetap berpihak pada rakyat kecil. Hanya satu permintaan polos, tetapi sangat susah untuk diwujudkan, dan entah sampai kapan permintaan tersebut bakal terwujud. Secara pribadi, aku pun ikut merasa disentuh oleh permintaan Ibu Yati tersebut. Mereka butuh perhatian dari kita, yang mengaku berpendidikan dan mau berjuang bagi kepentingan masyarakat.

Realitas lain yang kutemui adalah perjumpaan dengan 2 orang mahasiswa asal Papua. Keinginan untuk berkontribusi bagi tanah kelahirannya, membuat mereka rela terbang jauh, berpisah dari orang tua dan sanak saudara untuk menempuh pendidikan menjadi perawat di Universitas Pelita Harapan. Begitu besar tantangan yang mereka lalui di ibukota ini. Warna kulit yang berbeda dari teman-temannya, belum lagi rasa terdiskriminasi karena mereka berasal dari Papua, propinsi tertimur di Indonesia yang masih kurang tersentuh pembangunan, membuat mereka merasa asing dalam pergaulan. Dari perbincangan di Lippo Karawaci itu, aku belajar untuk menghargai mereka yang “berbeda” denganku. Agak sulit memang, tetapi bagaimanapun juga mereka sama denganku, hanya fisik mereka yang berbeda jadi mengapa aku harus memandang perbedaan itu?

Memasuki Modul Politik, aku melakukan observasi di Kantor Urusan Agama kecamatan Pulo Gadung. Dalam wawancara dengan beberapa orang pengguna jasa, aku dapat melihat bagaimana terjadinya ketidakadilan dan pembedaan dalam penetapan tarif jasa KUA. Para pengguna jasa, dibedakan berdasarkan status ekonomi mereka. Ada uang ada barang. Mungkin itu yang dianut mereka. Kontras dengan slogan pemerintah DKI yang menetapkan Jakarta sebagai Kota Jasa yang Ramah Lingkungan. Aku pun mengetahui bagaimana instansi-instansi pemerintah menjalani pungutan liar (pungli). Ada banyak alasan mereka melalukannya, tetapi sebagai masyarakat aku ingin agar diperlakukan sama dengan yang lain dan tidak dibeda-bedakan. Dalam setiap tayangan Patroli di RCTI, selalu terdengar pesan Bang Napi “Kejahatan terjadi bukan karena hanya ada niat pelaku, tetapi juga karena ada kesempatan”, begitu juga dengan kejadian pungli ini. Tanpa sadar terkadang aku yang memberikan kesempatan bagi terciptanya pungli tersebut, karena ingin didahulukan dan tidak mau melalui prosedur yang berlaku.

Modul terakhir, yaitu hukum dan HAM kuhabiskan dengan mengamati perubahan alih fungsi lahan terbuka hijau di kawasan Pulomas. Sungguh miris hatiku melihat keadaan tersebut. Daerah yang dulu begitu hijau dan nyaman sekarang berubah menjadi gundul dan kotor. Banjir juga kerap melanda kawasan tersebut. Lebih miris lagi setelah mempelajari peraturan yang berlaku dan RTRW (Rancangan Tata Ruang Wilayah) DKI Jakarta yang bertolak belakang dengan kejadian di lapangan. Diusianya yang ke 483, ternyata Jakarta masih menyimpan segudang masalah lingkungan. Dari alih fungsi lahan sampai banjir yang terus menerus melanda. Peraturan yang bertujuan untuk meminimalisir masalah lingkungan tersebut sudah tersedia, tetapi sejauh mana itu dilakukan.

Epilog

Perjalanan KOMJak II ini, kuakui bukan jalan yang mudah, banyak sekali tantangan yang kualami. Bosan dengan rutinitas berdiskusi dan observasi adalah hal yang biasa kualami. Jika sedang bosan, ingin rasanya memutar “setir” dan pulang daripada harus pergi ke Pondok Labu, tempat kami biasa berkumpul. Tetapi setelah dipikir-pikir, bagaimana aku dapat memecahkan masalah kalau aku tidak mau menghadapinya? Jadilah “setir” ini tetap lurus dan mengarah ke Pondok Labu.

Realitas-realitas yang kutemui dalam 4 modul diatas mungkin hanya awal dari realitas lain sebagai warga negara yang akan kutemui dalam sepanjang perjalanan hidupku. Tetapi melalui perjumpaan dengan 4 realitas tersebut, aku dikuatkan untuk lebih berperan sebagai orang muda yang berjiwa Katolik dan mau memikirkan kepentingan masyarakat. Tentunya dengan “Tarik Napas..Hembuskan” setiap hari, dan mendengar apa yang Tuhan katakan dalam hidupku.