oleh: Robert Sutanto

Dinginnya malam dan rintik-rintik air hujan saat itu tidak membuat Arek patah semangat untuk menarik gerobaknya. Pria berusia 46 tahun ini seorang buruh angkut di pasar cengkareng. Selain tenaga yang ia punya, gerobak merupakan senjata utama dalam mencari nafkah,” layaknya tentara yang hanya mempunyai satu senjata dalam berperang”.

foto: mastein.wordpress.com

Selama 6 tahun Arek berjuang untuk mendapatkan gerobak, ia menyewa gerobak dari temannya. Sudah 20 tahun ia menggeluti bidang ini dan sekarang dia sudah mempunyai gerobak sendiri. Meski gerobaknya sudah agak usang, tapi gerobak merupakan teman “setia” nya dalam mencari uang. “ Maklum mas, namanya juga buruh gerobak, kalau ga punya gerobak, ga bisa cari makan mas”ujar Arek.

Kesehari-hariannya bapak dari 3 orang anak ini mengantar barang dagangannya dari beberapa juragan sayur kepada para penjual sayur. Tidak peduli banyak sedikit sayur yang di peroleh, jauh dekat jarak yang ditempuh, Arek harus tetap mengantar. Sejak pukul 22.00 dia sudah berdiri di sudut jalan pasar Cengkareng, keramahannya membuat dia dikenali oleh beberapa juragan dan penjual sayur sehingga dia tidak merasa takut dengan “sahabat”nya sesama buruh angkut.
“ya ginilah mas kerja gerobak awalnya pasti capek, tapi lama-lama sudah biasa ,yang penting hasilnya bisa untuk anak dan istri di kampung” itulah yang dikatakan Arek saat melihat aku yang sudah lelah dalam mendorong gerobaknya. Sedih dan terkesima sudah bercampur menjadi satu, ketika melihat pekerjaan yang menguras banyak tenaga ini hanya diupahin seharga 3000 rupiah dalam sekali mengantar. Pendapatan Arek tidak menentu, bisa 30.000 rupiah per hari, tapi bisa juga 75.000 rupiah per hari tergantung dari pelanggan.

Bagi Arek upah yang ia dapat tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup nya dan keluarganya. Dia harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan sesuap nasi, meski harus mendorong gerobak dengan tenaga yang sangat besar. Tanpa rasa malu ia jalanin kehidupannya. Berhubung waktu tidak bersahabat sekitar pukul 1 pagi maka aku pun berpamitan sama dia untuk kembali ke rumahku.