Orang Muda yang Berjiwa Kepemimpinan Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 7)

sumber:ayip7miftah.files.wordpress.com

Kepemimpinan adalah salah satu aspek hidup yang paling dibutuhkan manusia dalam pelbagai konteks. Hidup dalam keluarga, komunitas sosial maupun keagamaan/keyakinan, organisasi, lembaga atau perusahaan, di tengah masyarakat, maupun dalam lingkup tata negara dan hubungan internasional, semua membutuhkan kepemimpinan. Lantas, apa sih kepemimpinan itu? Dan, apa pentingnya ia diolah dalam pembelajaran KOMJak?

Kepemimpinan pada hakikatnya adalah integritas (kesatuan akal budi, hati nurani dan perilaku/tindakan) yang mampu mengendalikan diri kita sendiri maupun mempengaruhi orang-orang lain di sekitar kita untuk berpikir, mengambil sikap dan bertindak untuk tujuan tertentu. Dengan secara tegas mengabaikan konteksnya yang negatif, kepemimpinan yang diolah dalam pembelajaran KOMJak ditujukan untuk menggerakkan proses transformatif (perubahan kondisi yang semakin baik) dalam pelbagai tingkat kehidupan sosial, sejak relasi antar-personal, keluarga dan komunitas terdekat, hingga hidup berbangsa/bermasyarakat secara luas. Read More

Gunung Kendeng… Lestari.. Lestari..Lestari!

oleh Kristina Viri

“Impian satu orang tak lebih dari sekadar khayalan, impian bersama banyak orang adalah awal pembaharuan dunia (Don Helder Camara, Uskup Agung Olinda dan Recife, Brazil).”

Bisa jadi warga Pegunungan Kendeng tak mengenal Don Helder Camara, namun semangat Camara terungkap pada Salam Kendeng…Lestari! Salam ini diucapkan dengan semangat oleh peserta perayaan kemenangan, dua tahun mundurnya Pabrik Semen Gresik, pada 16 Mei 2011, di Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Salam yang mengungkapkan impian bersama banyak orang ini, menyiratkan pesan pelestarian terhadap kawasan Pegunungan Kendeng yang lima tahun terahir ini menjadi incaran investor sebagai lokasi penambangan bahan baku semen.

photo: antaranews.com

Acara ini diisi dengan refleksi terhadap kekayaan alam yang dimiliki kawasan pegunungan Kendeng. Misalnya, puluhan mata air sebagai sumber pengairan sawah, serta pemenuhan kebutuhan air sehari-hari. Selain itu terdapat ratusan tumbuh-tumbuhan yang memiliki berbagai manfaat, dari tanaman pangan, obat-obatan, serta tumbuh-tubuhan yang berfungsi menyerap air (hasil pendataan ibu-ibu Simbar Wareh-adalah nama kelompok perempuan yang berupaya melestarikan gunung kendeng, diambil dari kata Simbar dan Wareh yang merupakan nama mata air di kawasan pegunungan ini-, tanggal 14 Mei 2011). Gunung Kendeng selama ini menjadi tumpuan hidup warga Kecamatan Kayen dan Sukolilo, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.

Read More

Tak Ada Satu Tempat pun yang Aman dari Teror

oleh Daniel Awigra

Sejumlah aksi teror di Indonesia, sejauh dapat diungkap oleh Kepolisian Republik Indonesia memiliki target utama mendirikan Negara Islam Indonesia. Mereka menggunakan aksi teror untuk mempercepat pendirian Negara Islam. Selagi target operasi mereka belum tercapai, dan mereka masih menghalalkan cara-cara kekerasan, selama itu pula bahaya terorisme akan selalu ada di negeri ini. Meski demikian, sangat disayangkan, polisi tidak pernah bisa mengungkap secara tuntas apa sejatinya target operasi terorisme di Indonesia selain mendirikan Negara Islam.
Apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan terorisme di tanah air? Tentu saja hal ini tidak mudah. Selain ada persoalan perjuangan ideologis di antara para pelaku teror, persoalan lemahnya ekonomi Indonesia, tarik-menarik kepentingan sosial politik dan ekonomi global akan terus membuat pasang-surut persoalan terorisme.

photo: matanews.com

Bom bunuh diri meledak di dalam masjid saat shalat Jumat baru saja dimulai di masjid Al-Dzikro, Kompleks Mapolresta Cirebon, Jawa Barat. Sampai tulisan ini dibuat, sejumlah pihak meyakini pelaku bom bunuh diri pada Jumat (15/4) yang melukai 28 orang tersebut adalah Muchamad Syarif (32), warga Astanagarib, Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon. Tentu, publik tanah air baru saja dikejutkan dengan kejadian pengiriman sejumlah bom buku dan polisi belum bisa mengungkap siapa pelaku lapangan dan aktor intelektual di baliknya. Belum juga publik mendapatkan hasil kinerja polisi terkait bom buku, hari-hari ini dunia dikejutkan dengan penangkapan Umar Patek oleh militer Pakistan.

Read More

Orang Muda yang Kreatif Secara Luas: Seri Kualifikasi KOMJaker (bagian 6)

oleh Felix Iwan Wijayanto

Kreativitas mungkin bukan barang sulit untuk ditemukan dalam diri orang muda pada umumnya. Asumsi ini terutama mencakup kreativitas dalam kaitannya dengan seni. Namun, kreativitas yang dimaksud dalam kualifikasi keenam KOMJaker ini berlingkup lebih luas daripada sekadar kreativitas seni, melainkan kemampuan membangun/merintis pembaruan dan akhirnya menemukan/menciptakan kebaruan dalam segala dimensi kehidupan, entah secara kognitif (cara berpikir), afektif (cara mengolah rasa) maupun konatif (cara bersikap, berperilaku dan mengekspresikan diri). Mengapa kreativitas seluas itu sangat penting dikuasai oleh seorang KOMJaker?

 

photo: nikkijohn.com

Karena program KOMJak didedikasikan bagi sejumlah orang muda Katolik yang ingin mengembangkan dirinya secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif/intelektualnya, afektif/olah rasanya, hingga konatif/sikap, perilaku, dan keterampilan hidupnya. Nah, dalam proses pengembangan diri secara komprehensif itu setiap KOMJaker akan menghadapi situasi-situasi “lama” yang butuh disegarkan dan dibarui, entah ad intra di dalam dirinya sendiri, maupun ad extra, di lingkungan sekitarnya.

Read More

Menanti Lembar demi Lembar Rupiah

oleh Chrisma Ardi Nugroho

Ia berlindung di balik rindangnya pohon karet dari panas mentari yang mulai menyengat. Sosok itu berbadan kurus, berkulit keriput dan berlangkah gontai menuju tepian trotoar. Ia duduk di situ  untuk “menjual diri”, menunggu orang yang akan menggunakan jasanya.

Itulah sosok Ujang (45 tahun), yang setiap harinya dengan menumpang bis kota, ia berangkat dari rumah kontrakan yang ia tinggali bersama 3 orang temannya yang berprofesi sama dengannya.

Taman Makam Pahlawan di bilangan Kalibata Jakarta Selatan adalah tujuan mereka. Jarak antara rumah kontrakan yang mereka sewa secara “keroyokan” 300 ribu per bulan itu cukup jauh. Dengan memakai celana panjang abu2, kaos biru, jaket jeans, dan topi pelindung panas berwarna abu2 ia mulai duduk bersila. Ditaruhnya peralatan bekerja seperti cangkul, linggis, palu, dan lain–lain di depannya,  sebagai pertanda bahwa ia adalah kuli bangunan lepas.

 

photo: narakalemoy.blogspot.com

Perjuangan demi menyambung hidup tampak ketika ia mulai bercerita, mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai kuli bangunan yang pernah merasakan masa-masa jayanya ketika Pak Harto masih berkuasa. Ketika itu harga gabah 1 kuintal masih di bawah 100ribu rupiah. Sehingga, sekedar mengisi pundi bekal masa depan masih bisa ia lakukan.

Read More

Ideologi “Asal Ga Pegang Sapu”

oleh: Stephani Puspitajati

Kalimat “asal ga pegang sapu” muncul dalam sebuah obrolan saya dan beberapa teman di sebuah mall di Jakarta Pusat ketika pembicaraan bergulir seputar pekerjaan dan perempuan. Saya dan teman-teman yang berjenis kelamin perempuan tertawa setelah kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang teman wanita saya dan seolah-olah tawa itu membenarkan pernyataan tersebut. Sapu merupakan simbol dari aktivitas domestik yang identik dengan kaum perempuan.

photo: bundasaski.blogspot.com

 

Kenyataannya, memang saat ini perempuan (yang disebut modern) di kota besar, khususnya Jakarta berlomba-lomba untuk mengaktualisasikan diri dengan aktivitas di luar rumah. Jarang perempuan modern Jakarta yang melakukan aktivitas domestik. Pekerjaan rumah tangga biasanya diserahkan pada orang yang dipekerjakan secara profesional. Sekurangnya, ada dua alasan mengapa ini terjadi.

Pertama, berhubungan dengan ekonomi. Tuntutan ekonomi di kota besar yang semakin tinggi membuat perempuan harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan dan membantu ekonomi keluarga. Kedua, berkarier dianggap sebagai jalan mengaktualisasikan diri dan membentuk identitas perempuan, adalah alasan berikutnya mengapa perempuan bekerja.

Adanya pandangan bahwa perempuan yang memilih sebagai ibu rumah tangga adalah perempuan yang tidak produktif, tidak mandiri karena tergantung pada eksistensi suami, dan dianggap tidak berperan dalam membangun masyarakat, menyebabkan aktivitas domestik dan rumah tangga dianggap aktivitas sepele dan ketinggalan zaman. Maka, tidak mengherankan jika dewasa ini banyak perempuan yang enggan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Apakah ini merupakan dampak dari keberhasilan jargon emansipasi yang dikumandangkan kaum feminisme yang patut dirayakan, atau justru sebuah ideologi yang akan melunturkan makna emansipasi sesungguhnya dan hanya menjadikannya simbol semata.

Read More